Legislator Golkar Andri Santosa Minta SKPD Evaluasi Kebijakan Pembatasan Akses Dewan saat Perjuangkan Aspirasi Rakyat

AKURAT JAKARTA - Sekretaris Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Andri Santosa menyesalkan sikap beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang dianggap membatasi akses anggota dewan atas nama koordinasi dengan ketua komisi dalam memperjuangkan aspirasi dari konstituen (masyarakat).
Hal tersebut disampaikan Andri menanggapi adanya kebijakan pembatasan dari pimpinan komisi dan pimpinan DPRD DKI yang mulai diterapkan pada periode 2024-2029.
Ia meminta praktik pengambilan keputusan yang hanya ditentukan oleh pimpinan komisi dikaji dan dievaluasi karena cukup mengganggu kinerja anggota dewan dalam menyerap aspirasi masyarakat.
"Saya beberapa waktu lalu mendapatkan jawaban dari Sudispora Jakarta Barat bahwa pengajuan warga untuk alat olahraga yang diajukan belum bisa dipenuhi karena harus mendahulukan yang dari Komisi E karena Suku Dinas terkait secara tupoksi ada dibawah Komisi E," ujar Andri di Gedung DPRD Jakarta, Selasa (20/5/2025).
Andri mengatakan harusnya SKPD tidak boleh bersikap seperti itu. Sebab, anggota dewan punya hak yang sama, baik itu permintaan dari Komisi A, Komisi B, Komisi C, Komisi D, dan Komisi E, harus diperlakukan sama.
"Semua pengajuan tetap harus sesuai aturan administrasi, yakni pengajuan dari RT/RW, atau organisasi setempat, harus ada suratnya, intinya adalah harus tertib administratif dan lengkap," katanya.
Baca Juga: Apapun Hasil Revisi UU Pemilu, Golkar DKI Jakarta Sudah Mempersiapkan Diri
Anggota Komisi B DPRD DKI itu mengatakan, anggota dewan dipilih oleh rakyat dan harus menjalankan amanah, bukan dibatasi oleh struktur internal komisi. Mereka turun ke dapilnya dan menemukan permasalahan, permintaan dari rakyat.
"Ketua, Wakil Ketua, dan Sekretaris Komisi itu untuk memimpin jalannya rapat, dalam pengambilan keputusan tetap kolektif kolegial," jelasnya.
Untuk itu, Andri berharap agar kebijakan pembatasan ini harus dievaluasi agar aspirasi dari rakyat dapat tersampaikan dengan baik.
"Jadi saya minta kebijakan pembatasan aspirasi rakyat berdasar komisi harus dievaluasi. Rakyat cuma minta dan ingin diperhatikan misalkan aspirasinya itu minta KJP dibantu, BPJS dibantu, dan penanganan banjir serta sampah diselesaikan," pungkasnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Anderlecht vs RB Salzburg di UEL, 6 November 2026: Adu Kuat Rekor Kandang dan Tandang
- 2Prediksi Skor NEC Nijmegen vs Omonia di UEL, 6 November 2026: Misi Menghentikan Tren Negatif di De Goffert
- 3Prediksi Skor Lillestrom vs Viktoria Plzen di UEL, 6 November 2026: Memburu Kemenangan Perdana di Norwegia
- 4Prediksi Skor Levski Sofia vs Jagiellonia di UEL, 6 November 2026: Momentum Positif Jadi Modal Kedua Tim
- 5Prediksi Skor Crystal Palace vs Hoffenheim di UEL, 6 November 2026: Duel Tim Terpuruk di Selhurst Park
- 6Prediksi Skor Elche vs Real Betis di La Liga, 8 November 2026: Mampukah Los Franjiverdes Menghentikan Dominasi Tim Tamu?
- 7Prediksi Skor Sparta Praha vs Bournemouth di UEL, 6 November 2026: Akankah Runtunan Kemenangan The Cherries Terus Berlanjut?
- 8Prediksi Skor Real Sociedad vs Lyon di UEL, 6 November 2026: Duel Sengit di Reale Arena
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!



