NOVEL BAG.109 : Reuni dengan Keluarga Mas David

BERTEMU. Akhirnya, kami reunian dengan keluarga Mas David. Di sebuah restoran di pinggiran Jakarta. Restoran dengan nuansa alam bebas.
Restoran ini sering dijadikan venue wedding. Karena nuansanya yang natural banget. Begitu masuk tempat makan ini, akan merasakan keasriannya.
Bangunannya pun turut mendukung suasana pedesaan yang hendak dihadirkan. Dominasi kayu dan bata exposed di dindingnya, membuat Resto makin menarik. Ada playground juga untuk menghibur anak-anak.
Ada juga area sawah yang ditanam padi-padian, serta kebun pisang juga. Ini bisa jadi tempat yang tepat untuk mengedukasi anak tentang indahnya alam.
Serunya lagi, banyak pula aktivitas yang ditawarkan untuk mengisi waktu anak. Seperti mengecat keramik atau caping yang seru abis. Tak hanya itu, ada juga hamparan danau buatan yang cukup mempesona.
Baca Juga: Jangan Terlewat! Ini Jadwal Indonesia International Book Fair 2023
Sepertinya, pemilik resto sangat serius mengerjakan konsep alamnya. Hasilnya, keren banget. Pas untuk jadi tujuan short escape saat tubuh butuh yang menyejukkan mata.
Makanannya juga juara. Mereka punya Iga yang nikmatnya tiada tara. Tekstur dagingnya empuk dan dapat terlepas dari tulangnya dengan mudah. Rasa bumbunya tak perlu diragukan, finger licking banget saking enaknya.
Bagi penyuka Ikan Gurame, kamu harus pesan Gurame Abu Dhabi. Menu spesial ini terdiri dari Ikan Gurame goreng yang disiram dengan sambal dabu dabu ala Manado yang sangat fresh sekali. Ikannya diambil langsung dari danau.
Sejak sembuh dari kanker paru-paru, istriku memang paling gemar wisata kuliner. Maski begitu, tubuh istriku tetap ideal. Sepetinya, makanan yang masuk ke lambungnya diproses dengan baik, sehingga tak jadi daging.
Berbeda dengan diriku, yang harus susah payah menjaga berat badan. Sudah susah payah saja, berat tubuhku tetap jauh dari ideal. Dengan tinggi 158 cm, berat badanku 70 kg.
Baca Juga: MENCERAHKAN! Buku Islam dan Politik Karya Quraish Shihab Diluncurkan di Islamic Book Fair 2023
Pernah aku diet ketat. Dalam kurun waktu tiga bulan, berat badanku turun jadi 65 kg. Tapi, ketika tak diet lagi, hanya dalam waktu tiga pekan, berat badanku kembali ke 69 kg. Tak apalah. Biar gemuk, yang penting sehat wal afiat.
"Dik Yasmin beruntung banget ya dapet suami Mas Rahman. Orangnya baik, soleh, pintar, dan sekarang jadi bos," kata Vivi kepada istriku.
"Iya, Mbak. Alhamdulillah..." jawab istriku datar aja.
Dulu, orang bilang, aku lah yang beruntung. Yasmin, bagiku merupakan berkah. Aku, bagi Yasmin adalah musibah. Itu dulu. Sekarang, orang bilang, istriku yang lebih beruntung.
Dalam acara-acara kantor, sebagai istri direktur, istriku sangat dihormati. Demikian halnya di lingkungan tempat tinggalku. Karena aku salah satu orang yang ditokohkan, maka istriku pun ikut dihormati.
Baca Juga: Persija Gagal Menang Lawan Bali United, Thomas Doll: Kami Seharusnya Mendapatkan Penalti
"Terang aja mau, suaminya direktur. Perempuan mana yang nggak mau dinikahi bos."
Begitu kebanyakan komentar atas kenyataan istriku yang cantik dan muda.
Atau begini: "Hari gini cari suami modal ganteng doang...? Ke laut aja. Emang orang berumahtangga mau makan tampang..?"
Ada juga yang komentar begini; "Punya cowok ganteng dan kaya? Siap-siap aja makan hati."
Itu sih anggapan orang. Bisa benar bisa salah. Bisa jadi pengalaman pribadi, bisa juga karena kebanyakan nonton sinetron.
Maklum, mereka tidak tahu bagaimana perjuangan cinta kami. Mereka tak tahu bagaimana rasanya menikah tanpa rasa cinta. Mereka tidak tahu bagaimana kami bertahun-tahun hidup dalam mahligai rumah tangga tanpa saling menyayangi.
Bagiku, Yasmin adalah pelengkap hidupku. Dia punya apa yang aku tidak punya. Aku punya apa yang dia tidak punya. Kami saling melengkapi. Itulah jodoh.
Baca Juga: Sejarah Jakarta: Asal Usul Krukut dari Bahasa Sindiran
Mas David dan Vivi dikaruniai dua anak. Laki-laki semua. Karim dan Syafiq. Keduanya alumni Pondok Pesantren. Anak pertama sudah jadi sarjana. Anak kedua sedang kuliah di Timur Tengah.
Aku dikaruniai lima anak; Putri, Ahmad, Zein, Fatih dan Alvin. Si sulung bentar lagi Sarjana. Si bungsu masih balita.
Dari pertemuan ini, aku dan Mas David sepakat untuk bersama-sama membangun generasi masa depan yang lebih baik, melalui yayasan sosial keagamaan.
Aku juga mengajak Zakky, sohib karibku waktu di pesantren. Zakky sekarang sudah jadi pejabat di daerah Jawa Barat. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





