Jakarta

Waspada Perdarahan Menstruasi Berat: 1 dari 4 Perempuan Berisiko, Banyak yang Tak Sadar

Saeful Anwar | 26 Mei 2025, 19:17 WIB
Waspada Perdarahan Menstruasi Berat: 1 dari 4 Perempuan Berisiko, Banyak yang Tak Sadar

AKURAT JAKARTA - Perdarahan Menstruasi Berat (PMB) atau heavy menstrual bleeding menjadi isu kesehatan reproduksi yang kerap diabaikan oleh banyak perempuan. 

Menurut dokter kandungan dari FKUI RSCM, satu dari empat perempuan berpotensi mengalami PMB, namun ironisnya hampir separuh tidak menyadari kondisi ini sebagai masalah medis. 

Artikel ini akan mengupas fakta penting tentang PMB, gejalanya, dampaknya, dan solusi penanganan medis yang tersedia.

Baca Juga: Mau Tinggal 10 Tahun di UEA Tanpa Ribet? WNI Bisa Dapat Golden Visa Lewat Cara Ini!

Dokter Kandungan dan Ahli Fertilitas Endokrinologi Reproduksi FKUI RSCM dr. Achmad Kemal Harzif, Sp.OG, Subsp. FER, mengungkapkan bahwa satu dari empat perempuan berpotensi mengalami PMB. 

Dikutip dari Antara, Dokter Achmad di Jakarta, Senin 26 Mei 2025 menyampaikan, “Normalnya (menstruasi) memang hanya 80 cc total lima hingga tujuh hari terserah berapa hari menstruasinya, normalnya paling antara 4-8 hari. Kalau udah lewat delapan hari itu sudah memanjang.”

PMB didefinisikan sebagai menstruasi dengan volume darah berlebih yang memengaruhi aspek fisik, emosional, hingga finansial perempuan. 

Gejala khasnya termasuk frekuensi mengganti pembalut setiap satu hingga dua jam, perdarahan yang berlangsung lebih dari tujuh hari, munculnya gumpalan darah besar, dan nyeri di bagian bawah perut saat haid.

Baca Juga: Ini 3 Catatan Penting Terkait Pengelolaan Keuangan Pemprov DKI Jakarta dari BPK RI, Dibalik Raihan Opini WTP Kedelapan Tahun Anggaran 2024

Meski prevalensinya tinggi, “sebanyak 47 persen perempuan tidak mengetahuinya dan justru percaya bahwa PMB adalah hal yang lumrah dari menstruasi.” Selain itu, “sebanyak 39 persen perempuan tidak menyadari bahwa ada pilihan pengobatan yang tersedia untuk kondisi ini,” lanjut dr. Kemal.

Dampak serius dari PMB meliputi anemia akibat kekurangan zat besi, yang membuat penderitanya lemas, pucat, serta sesak napas. 

Kondisi ini juga meningkatkan risiko penyakit jantung dan menurunkan kualitas hidup akibat aktivitas terganggu, nyeri hebat, gangguan tidur, tekanan mental, hingga beban biaya medis yang signifikan.

Deteksi dini dan konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting dalam menangani PMB. 

Bagi pasien yang ingin hamil, terapi menggunakan obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) dan asam traneksamat bisa menjadi pilihan. 

Sementara bagi yang tidak dalam program hamil, tersedia metode Levonorgestrel Releasing Intraurine System (LNG IUS).

Baca Juga: Prediksi Skor Ross County vs Livingston di Scottish Premiership, 27 Mei 2025: Duel Hidup-Mati Rebut Tiket Promosi

LNG IUS merupakan alat kecil berbentuk huruf T yang dimasukkan ke dalam rahim, bekerja dengan cara melepaskan hormon secara perlahan untuk mencegah penebalan dinding rahim dan mengurangi perdarahan.

Perdarahan Menstruasi Berat bukanlah kondisi yang normal atau harus ditoleransi. Edukasi, kesadaran, dan penanganan yang tepat dapat membantu perempuan menjalani hidup lebih sehat dan produktif. 

Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala PMB, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan terapi yang sesuai. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.