Bukan Malas, Ini Makna Sebenarnya dari Slow Living yang Kian Diminati

AKURAT JAKARTA - Di tengah gempuran rutinitas harian yang padat dan serbacepat, muncul satu tren yang justru mengajak kita untuk memperlambat langkah: slow living.
Gaya hidup ini perlahan-lahan mulai diadopsi masyarakat urban yang merasa lelah dengan tekanan multitasking, tuntutan performa, dan derasnya arus media sosial.
Apa itu slow living?
Baca Juga: Estetiknya Blok M, Surga Baru Para Pemburu Konten di Jakarta Selatan
Banyak yang mengira slow living sama dengan hidup bermalas-malasan, padahal justru sebaliknya.
Slow living mendorong kita untuk lebih sadar dalam setiap aktivitas, lebih menikmati proses, dan fokus pada kualitas hidup, bukan kuantitas aktivitas.
Misalnya, menyantap sarapan tanpa terburu-buru, meluangkan waktu membaca buku, atau sekadar berjalan kaki di sore hari tanpa gangguan notifikasi digital.
Mengapa gaya hidup ini jadi populer?
Banyak individu mulai menyadari bahwa kebahagiaan bukan berasal dari produktivitas tanpa henti, melainkan dari keseimbangan hidup.
Slow living memberi ruang untuk berhenti sejenak, bernapas, dan benar-benar hadir dalam momen.
Baca Juga: Tips Cerdas Rencanakan Liburan Sekolah, Nggak Perlu Pusing dan Over Budget
Mereka yang menerapkannya mengaku merasa lebih tenang, lebih fokus, dan punya hubungan sosial yang lebih sehat.
Dampaknya sangat luas
Slow living juga berdampak pada pola konsumsi dan lingkungan.
Baca Juga: Jangan Lupa! Konser Gratis Putri Ariani Malam Ini di Jakarta, Catat Lokasi dan Waktunya di Sini
Mereka yang mengadopsi gaya ini cenderung memilih produk lokal, mengurangi limbah plastik, dan hidup lebih minimalis.
Rumah didesain lebih fungsional dan tenang, kebiasaan belanja jadi lebih bijak, dan waktu bersama keluarga menjadi prioritas utama.
Di era digital saat ini, gerakan slow living juga tumbuh di platform media sosial.
Baca Juga: Jangan Asal Nekat! Coba Tips Makan Pedas Anti Kapok Berikut Ini
Banyak akun dan komunitas berbagi inspirasi serta pengalaman menjalani hidup yang lebih lambat namun bermakna.
Kini, tren ini menjadi semacam ajakan untuk menata ulang prioritas hidup.
Bukan sekadar melambat, tapi juga untuk lebih sadar terhadap setiap detik yang dijalani, agar hidup terasa lebih utuh dan penuh makna. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini






