Jakarta

Mengenal Anak Sensory Seeker: Ketika Dunia Terasa Kurang Nyata Tanpa Rangsangan Tambahan

Zainal Abidin | 13 Juli 2025, 08:15 WIB
Mengenal Anak Sensory Seeker: Ketika Dunia Terasa Kurang Nyata Tanpa Rangsangan Tambahan

AKURAT JAKARTA - Di balik antusiasme dan aktivitas fisik yang tinggi pada sebagian anak, tersembunyi kebutuhan khusus yang sering kali keliru dipahami, yaitu keinginan akan stimulasi sensorik.

Anak sensory seeker, atau anak yang memiliki kebutuhan lebih terhadap stimulasi dari panca indera, sering kali dipandang sebagai anak nakal, hiperaktif, atau tidak bisa diam.

Sebenarnya, situasi ini sangat berkaitan dengan bagaimana otak mereka mengolah rangsangan sensorik, bukan semata-mata karena keinginan untuk menarik perhatian.

 Baca Juga: Kaya Isoflavon, Susu Kedelai Punya Manfaat Dahsyat untuk Kesehatan Pria dan Wanita

Anak sensory seeker biasanya menunjukkan perilaku yang intens dan aktif, seperti menyentuh benda-benda secara berlebihan, suka berteriak, melompat-lompat tanpa henti, atau bahkan menggigit benda di sekitarnya.

Semua tindakan tersebut muncul karena mereka merasa bahwa lingkungan sekitar belum memberikan cukup stimulus bagi tubuh dan pikirannya.

Rangsangan yang dianggap cukup oleh sebagian besar orang, justru terasa kurang memuaskan bagi mereka.

 Baca Juga: Manfaat Ikan Gabus, Si Superfood Lokal yang Baik Untuk Kesehatan

Inilah sebabnya mengapa anak-anak yang memiliki kebutuhan sensorik tampak seolah-olah selalu "haus akan rangsangan".

Kondisi ini merupakan bagian dari spektrum gangguan pemrosesan sensorik (Sensory Processing Disorder), namun tidak selalu berarti anak mengalami gangguan perkembangan lainnya.

Sebagian besar dari mereka cerdas, kreatif, dan memiliki rasa ingin tahu tinggi, tetapi kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang kurang merangsang bisa menimbulkan tantangan, terutama di sekolah atau tempat umum.

 Baca Juga: Awas! Gigi Bisa Goyang Tanpa Lubang, Ini Bahaya Rokok bagi Kesehatan Mulut

Anak sensory seeker butuh gerak karena gerakan bisa membantu mereka menyalurkan energi berlebih sekaligus menyeimbangkan sistem sarafnya.

Itulah sebabnya, memahami kebutuhan sensorik mereka adalah langkah pertama untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan suportif.

Alih-alih melarang atau menghukum, orang tua dan pendidik bisa menyediakan “diet sensorik” berupa aktivitas fisik dan taktil, seperti bermain di kolam bola, berlari di taman, atau menggunakan alat bantu sensorik seperti bola terapi dan kursi goyang.

 Baca Juga: Berikut Bahaya Kebiasaan Merokok Bagi Kesehatan, Peringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Terapi okupasi menjadi pendekatan profesional yang dapat membantu anak sensory seeker mengelola kebutuhan sensoriknya secara lebih sehat dan terarah.

Melalui terapi yang berkelanjutan serta dukungan dari orang-orang di sekelilingnya, anak-anak ini memiliki potensi untuk tumbuh menjadi individu yang percaya diri dan stabil, sambil tetap mempertahankan keistimewaan mereka.

Pemahaman masyarakat mengenai anak pencari rangsangan sensorik masih harus terus ditingkatkan, agar tidak ada lagi anak yang tumbuh dengan cap yang keliru.

 Baca Juga: Flavonoid: Kunci Alami untuk Kesehatan dan Awet Muda

Memahami bahwa setiap anak memproses dunia dengan caranya sendiri adalah awal dari masyarakat yang lebih empatik dan berdaya.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.