Jakarta

Bahaya Tersembunyi di Balik Tren Thrifting, Murah tapi Berisiko!

Zainal Abidin | 3 November 2025, 07:00 WIB
Bahaya Tersembunyi di Balik Tren Thrifting, Murah tapi Berisiko!

AKURAT JAKARTA - Tren thrifting atau membeli pakaian bekas kini menjadi gaya hidup populer, terutama di kalangan muda yang ingin tampil trendi dengan biaya hemat.

Banyak yang memandang thrifting sebagai cara bijak dan ramah lingkungan, tetapi tidak sedikit yang lupa bahwa di balik pakaian murah itu, tersimpan bahaya thrifting bagi kesehatan.

Tak hanya berdampak pada tubuh, membanjirnya baju bekas juga mengancam industri pakaian lokal di dalam negeri.

Baca Juga: Jangan Lupa! Maher Zain Konser di Istora Senayan Jakarta pada Minggu Depan, 9 November 2025, Segini Harga Tiketnya

Pemerintah pun mulai bersikap tegas.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah akan memperketat larangan impor pakaian bekas dalam bentuk balpres atau karungan.

Ia menekankan bahwa pelaku impor ilegal bisa dikenai sanksi pidana dan denda tambahan.

Baca Juga: Resort Putri Duyung Ancol, Surga Tropis yang Dekat dari Pusat Kota

“Negara bisa rugi jika hanya memenjarakan pelaku dan memusnahkan barang bukti, karena biaya hukumnya besar,” ujarnya.

Dukungan serupa datang dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang mendorong masyarakat beralih dari sekadar reseller menjadi pengusaha lokal melalui pelatihan wirausaha.

Namun, bahaya terbesar dari thrifting justru datang dari sisi medis.

Baca Juga: Ingat! Wali Bersama Sejumlah Band Lokal Siap Meriahkan Penutupan Maja Fest 2025 pada Sabtu 8 November, Harga Tiketnya Cuma Rp 10 Ribu

dr. Arini Widodo, SM, SpDVE, dari PERDOSKI, menjelaskan bahwa pakaian bekas membawa risiko infeksi serius.

Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Agen Infeksi dan Bakteri

Baca Juga: 5 Kesalahan Fatal pada Paspor yang Bisa Bikin Perjalananmu Gagal Total

Menurut dr. Arini, pakaian bekas sulit dijamin kebersihannya.

“Agen infeksi seperti bakteri, jamur, virus, hingga parasit seperti tungau dan kutu bisa berpindah lewat pakaian tersebut,” katanya.

2. Memicu Penyakit Kulit

Baca Juga: Wisata Tanam Mangrove di TWA Angke Kapuk, Seru dan Penuh Edukasi

Salah satu yang paling umum adalah scabies atau kudis, yang menyebabkan rasa gatal ekstrem, terutama di malam hari.

3. Risiko Eksim Akibat Debu dan Jamur

Baju bekas yang disimpan di tempat lembap sering kali mengandung debu dan spora jamur yang bisa memicu eksim, peradangan kulit, hingga luka melepuh.

Baca Juga: BLACKPINK: DEADLINE in Jakarta Guncang GBK, Ini Panduan dan Jadwal Penukaran Tiket Resmi

4. Penularan Infeksi Melalui Cairan Tubuh

Sebagian konsumen mencoba pakaian tanpa memperhatikan kebersihan.

“Hal ini bisa menyebabkan perpindahan cairan tubuh seperti keringat atau air liur yang menjadi media penularan infeksi,” tambahnya.

Baca Juga: 17 Musisi Top Siap Guncang Lampung Fest 2025, Berlangsung di PKOR Way Halim pada 11-25 November, Simak Jadwal Lengkapnya, Gratis!

5. Sarang Virus Pernapasan

Proses distribusi panjang membuat pakaian bekas bisa membawa virus pernapasan, seperti influenza.

6. Paparan Bahan Kimia dari Cairan Disinfektan

Baca Juga: Jogja Menyapa #6 Digelar di Teras Malioboro Beskalan pada 7-8 November, Hadirkan Aftershine hingga Kohi Sekai, Gratis!

Banyak penjual membersihkan pakaian dengan cairan kimia keras.

“Uap bahan kimia dapat menyebabkan sakit kepala, vertigo, mual, hingga kejang,” jelas dr. Arini.

Meski tren thrifting tampak menguntungkan, penting bagi kamu untuk berhati-hati.

Baca Juga: Jangan Lupa! Maher Zain Konser di Istora Senayan Jakarta pada Minggu Depan, 9 November 2025, Segini Harga Tiketnya

Di balik harga murah dan tampilan modis, pakaian bekas bisa membawa risiko kesehatan yang tak terlihat. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.