AKURAT JAKARTA - Pemerintah Indonesia lewat Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah secara resmi menonaktifkan sementara akses ke aplikasi kecerdasan buatan (AI) Grok guna menangkal bahaya penyebaran konten pornografi palsu.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam menjaga ruang digital yang beretika.
Serta melindungi martabat warga negara dari praktik deepfake seksual non-konsensual yang dianggap sebagai pelanggaran serius hak asasi manusia.
Penggunaan teknologi AI untuk menyebarkan konten asusila tanpa persetujuan korban dinilai sebagai kekerasan berbasis digital yang menimbulkan kerugian psikologis, sosial, hingga hukum bagi para korbannya.
Baca Juga: Alasan Keamanan Nasional, Trump Terobsesi Rebut Greenland dari Denmark
Pemutusan akses yang bersifat preventif dan korektif ini dilakukan agar setiap platform digital di Indonesia memiliki sistem keamanan yang memadai guna mencegah penyebarluasan konten terlarang.
Sejalan dengan tindakan tersebut, Komdigi juga telah meminta klarifikasi dari Platform X terkait dampak negatif penggunaan Grok serta menuntut penjelasan mengenai langkah mitigasi untuk mencegah penyalahgunaan teknologi di masa depan.
Secara hukum, kebijakan ini berpijak pada Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) Lingkup Privat.
Baca Juga: OpenAI Luncurkan ChatGPT Health, Bukan Diagnosis hanya Pendukung Kualitas Hidup
Di mana pada Pasal 9 diwajibkan bagi setiap PSE untuk memastikan sistem mereka tidak memuat atau memfasilitasi dokumen elektronik yang dilarang undang-undang.
Kebijakan tegas Indonesia ini selaras dengan gelombang kritik dan pengawasan global terhadap Grok yang dikembangkan oleh xAI milik Elon Musk.
Sejumlah negara dan wilayah seperti Uni Eropa, India, Inggris, Prancis, hingga Malaysia juga telah menyatakan kecaman atau melakukan penyelidikan terhadap chatbot tersebut karena kemampuannya menghasilkan gambar tidak senonoh.
India bahkan telah memerintahkan Platform X untuk segera memperbaiki fitur pembuatan gambar tersebut atau berisiko kehilangan perlindungan safe harbor di negara mereka.
Sementara Uni Eropa menuntut dokumentasi lengkap terkait operasional chatbot tersebut demi menjaga keamanan ruang siber internasional. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Skor Athletic Bilbao vs Getafe di La Liga, 25 Oktober 2026: Mampukah Los Leones Akhiri Tren Negatif?
- 2Prediksi Skor Cagliari vs Bologna di Serie A, 24 Oktober 2026: Siapakah yang Akan Kembali ke Jalur Kemenangan?
- 3Prediksi Skor Atalanta vs Frosinone di Serie A, 25 Oktober 2026: Misi La Dea Menghentikan Kejutan Tim Promosi
- 4Prediksi Skor Genoa vs Venezia di Serie A, 25 Oktober 2026: Mampukah Lagunari Lanjutkan Kejutan?
- 5Prediksi Skor Crystal Palace vs Newcastle United di Premier League, 25 Oktober 2026: Mampukah The Eagles Manfaatkan Kerapuhan Pertahanan The Magpies?
- 6Prediksi Skor Alaves vs Malaga di La Liga, 24 Oktober 2026: Misi Bangkit Tuan Rumah di Tengah Ancaman Zona Bawah
- 7Prediksi Skor Torino vs AC Monza di Serie A, 24 Oktober 2026: Mampukah Il Toro Lanjutkan Tren Positif?
- 8Prediksi Skor Real Sociedad vs Levante di La Liga, 26 Oktober 2026: Mampukah La Real Lanjutkan Tren Kemenangan?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!










