Jakarta

Bukan Sekadar Kelelahan, Perubahan Sikap Ibu Setelah Melahirkan Bisa Jadi Tanda Psikosis

Anggerhana Denni Rahmawati | 26 Agustus 2026, 08:30 WIB
Bukan Sekadar Kelelahan, Perubahan Sikap Ibu Setelah Melahirkan Bisa Jadi Tanda Psikosis
Ketika ibu tak sadar dirinya berubah, kenali tanda psikosis pascapersalinan. - Magnific

AKURAT JAKARTA - Masa setelah melahirkan sering dianggap sebagai periode ketika seorang ibu hanya perlu beradaptasi dengan kehadiran bayi.

Padahal, perubahan perilaku yang muncul setelah persalinan tidak selalu bisa dianggap sebagai kelelahan biasa.

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah psikosis pascapersalinan atau postpartum psychosis (PPP).

Kondisi ini memang jarang terjadi, tetapi termasuk keadaan darurat psikiatri karena dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan membedakan kenyataan dan persepsi.

Psikosis pascapersalinan dapat ditandai dengan halusinasi, delusi, kebingungan berat, paranoia, hingga perubahan perilaku yang berlangsung cepat.

Kondisi ini berbeda dari baby blues maupun depresi pascapersalinan.

Pada psikosis pascapersalinan, gangguan dapat mencapai tahap ketika seseorang tidak lagi mampu menilai apakah pengalaman atau keyakinannya sesuai dengan kenyataan.

Salah satu hal yang membuat psikosis pascapersalinan sulit dikenali adalah gejalanya dapat berubah dengan cepat.

Kondisi mental ibu dapat terlihat sangat naik-turun.

Pada satu waktu, ia tampak sangat tertekan, menangis, cemas, menarik diri, dan merasa putus asa.

Baca Juga: Hamil dan Sempat Dirawat di Rumah Sakit, Penyandang Disabilitas Netra Ini Tetap Tuntaskan S2 dengan Predikat Cum Laude

Namun pada waktu lain, ia justru terlihat sangat berenergi, berbicara cepat, memiliki banyak pikiran sekaligus, sulit tidur, atau bertindak impulsif.

Psikiater reproduksi Katrina Furey, MD, mengingatkan bahwa perubahan kondisi yang naik-turun justru dapat menjadi tanda bahaya.

“Perubahan kondisi mental yang naik-turun ini sering disalahartikan sebagai tanda membaik, padahal sebenarnya merupakan tanda bahaya yang khas dari psikosis pascapersalinan,” kata Furey.

Karena itu, keluarga perlu melihat perubahan perilaku secara keseluruhan, bukan hanya menunggu apakah ibu terlihat lebih tenang pada suatu waktu.

Persoalan lain muncul karena orang yang mengalami psikosis pascapersalinan tidak selalu menyadari bahwa dirinya sedang mengalami gangguan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.