Jakarta

Quiet Covering di Tempat Kerja: Saat Gen Z Merasa Harus Menyembunyikan Diri

Anggerhana Denni Rahmawati | 28 September 2026, 21:15 WIB
Quiet Covering di Tempat Kerja: Saat Gen Z Merasa Harus Menyembunyikan Diri
Ilustrasi. Gen Z menutupi masalah mental hingga berpura-pura paham demi bertahan di kantor. - Magnific

AKURAT JAKARTA - Terlihat percaya diri dan selalu mampu menyelesaikan pekerjaan menjadi tuntutan tidak tertulis di sejumlah lingkungan kerja.

Namun, di balik citra profesional tersebut, sebagian karyawan justru merasa harus menyembunyikan kekurangan dan sisi pribadi mereka agar tidak mendapat penilaian negatif.

Fenomena ini dikenal sebagai quiet covering, yakni perilaku menutupi aspek tertentu dari diri sendiri demi menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja.

Bagi sebagian pekerja Gen Z, tindakan tersebut menjadi cara untuk menjaga reputasi, menghindari diskriminasi, hingga memperbesar peluang promosi.

Berpura-pura paham demi menjaga citra profesional

Tekanan untuk selalu terlihat kompeten dapat membuat karyawan enggan mengakui bahwa mereka belum memahami suatu pekerjaan.

Alih-alih bertanya atau meminta bantuan, mereka memilih berpura-pura mengerti agar tidak dianggap kurang mampu.

Survei Attensi terhadap 2.000 karyawan dari berbagai industri dan kelompok usia menunjukkan bahwa 58% responden mengaku melakukan skill masking, yaitu menyembunyikan kekurangan dalam pengetahuan atau kompetensi.

Hampir setengah responden juga mengaku pernah berpura-pura memahami sesuatu di tempat kerja.

Sementara itu, 40% memilih tidak meminta bantuan meskipun belum yakin bagaimana menyelesaikan tugasnya.

Baca Juga: Indonesia Jadi Pengguna AI Pendidikan Tertinggi, tetapi Ada Risiko bagi Kemampuan Berpikir

Perilaku tersebut memperlihatkan bagaimana kekhawatiran terhadap penilaian orang lain dapat memengaruhi cara karyawan berkomunikasi dan menjalankan pekerjaan.

Menutupi diri demi peluang karier

Quiet covering tidak hanya berkaitan dengan kemampuan profesional.

Fenomena ini juga mencakup upaya menyembunyikan identitas, pengalaman pribadi, maupun kondisi tertentu agar seseorang lebih mudah diterima di lingkungan kerja.

Penelitian Hu-X bersama HiBob mencatat bahwa 97% karyawan melakukan covering setidaknya sesekali, sedangkan 67% melakukannya secara sering.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.