Jakarta

Indonesia Jadi Pengguna AI Pendidikan Tertinggi, tetapi Ada Risiko bagi Kemampuan Berpikir

Anggerhana Denni Rahmawati | 28 September 2026, 06:30 WIB
Indonesia Jadi Pengguna AI Pendidikan Tertinggi, tetapi Ada Risiko bagi Kemampuan Berpikir
AI makin banyak dipakai untuk belajar. (BINUS University)

AKURAT JAKARTA - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin banyak dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar.

Namun, kemudahan mendapatkan jawaban dari teknologi ini juga memunculkan pertanyaan: apakah pelajar masih terbiasa berpikir dan menyelesaikan masalah secara mandiri?

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyoroti persoalan tersebut.

Berdasarkan data Statista Consumer Insights, Indonesia disebut menempati peringkat pertama dalam pemanfaatan AI untuk pendidikan.

Meski penggunaan AI di Indonesia tergolong tinggi, Stella mengingatkan bahwa pemanfaatannya dalam pembelajaran perlu mendapat perhatian.

Ia menyebut bukti dan data menunjukkan penggunaan AI dalam pelajaran dan pendidikan dapat menurunkan kemampuan.

Pernyataan itu disampaikan Stella saat menjadi pembicara dalam High Level Talk FEKDI-IFSE di Jakarta.

Tantangan ketika AI menjadi jalan pintas belajar

AI dapat membantu pelajar mencari informasi, memahami materi, hingga menyusun tugas.

Namun, jika teknologi digunakan untuk menggantikan seluruh proses berpikir, pelajar berisiko kehilangan kesempatan untuk berlatih menganalisis dan menyelesaikan persoalan sendiri.

Baca Juga: Mahasiswa UNS Asal Nigeria Ini Belajar Arti Peduli dari Pertanyaan Sederhana Warga Solo

Dalam konteks ini, persoalannya bukan sekadar seberapa sering AI digunakan, melainkan bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan selama proses belajar.

Stella menilai penggunaan AI di pendidikan perlu disertai batasan yang jelas.

Tujuannya agar pemanfaatan teknologi tetap mendukung pembelajaran tanpa mengabaikan perkembangan kemampuan peserta didik.

Ia juga menekankan pentingnya membentuk manusia yang mampu mengevaluasi AI, bukan hanya menjadi pengguna yang menerima hasilnya begitu saja.

“Jadi yang harus kita buat adalah sistem insentif yang benar. Dan satu-satunya cara untuk kita bisa tetap mampu mengevaluasi AI, adalah kita harus bisa mengerti melalui proses berpikirnya,” tegas Stella.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.