Jakarta

Asal Usul Medan, Kota Kedua Tujuan Konser Sheila On 7, Benarkah Dulu Bekas Tempat Perang Kerajaan Aceh dan Kerajaan Deli?

Mustolih. | 28 April 2024, 11:29 WIB
Asal Usul Medan, Kota Kedua Tujuan Konser Sheila On 7, Benarkah Dulu Bekas Tempat Perang Kerajaan Aceh dan Kerajaan Deli?

AKURAT JAKARTA - Grup band papan atas, Sheila on 7, akan menggelar konser di lima kota besar di Indonesia, termasuk Medan, Sumatera Utara.

Rangkaian konser Sheila on 7 akan digelar mulai Juli sampai September 2024.

Medan menjadi kota kedua Sheila on 7 menggelar konser bertajuk Tunggu Aku Di pada 14 September 2024.

Baca Juga: UPDATE GEMPA GARUT! Berikut Daftar Kerusakan dan Korban Gempa Berkekuatan M 6,2 di Garut Sabtu Malam, Simak Rinciannya di Sini

Medan merupakan Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara yang memiliki wilayah yang sangat strategis.

Medan terletak pada persilangan Sungai Deli dan Sungai Babura, serta sebelah timur dari Urung Percut dan di tengah-tengah Urung Sukapiring.

Sejarah Kota Madya Medan 1950 -1917 karya Usman Pelly dan kawan-kawan (1985) menyatakan sebagai suatu wilayah, Medan telah ada jauh sebelum Belanda membuka usaha perkebunan secara besar-besaran.

Baca Juga: KOSGORO 1957 Resmi Dukung Zaki Iskandar Sebagai Cagub DKI 2024, Dave Laksono Serukan Kader Turun ke Bawah dari Rumah ke Rumah

Diperkirakan, Medan pertama kali muncul sebagai kampung pada sekitar abad ke-15.

Tokoh pertama pendiri Kota Medan adalah Guru Patimpus, salah seorang dari keturunan Sisingamangaraja.

Hingga 1823, Medan masih sebuah kampung dengan jumlah penduduk sekitar 200 orang.

Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat Sebut Allah SWT Akan Memberikan Rezeki Terbaik kepada Kita Melalui Doa Ini

Pada 1876, Kampung Medan berada di bawah kekuasaan Sultan Deli dan menjadi salah satu bagian dari Urung 10 Dua Kota.

Sultan Deli menunjuk Datuk Penghulu kepada Datuk Urung dengan gelar Orang Kaya Setia Raja sebagai penguasa Kampung Medan.

Menurut catatan E.A Hallewijn (1876), saat di Kampung Medan sudah berdiri 50 unit rumah.

Baca Juga: Kecelakaan Maut Mobil dan Motor Merenggut 2 Korban Jiwa di Surabaya

Meski hanya sebuah kampung kecil, letak Medan yang strategis amat memungkinkan kampung itu untuk berkembang.

Apalagi, jalur sungai di Kampung Medan dapat dilayari kapal-kapal tongkang kayu menuju daerah pelabuhan di Labuhan Deli.

Letaknya yang strategis inilah yang mendorong Belanda membuka perkebunan-perkebunan besar di sekitar medan.

Baca Juga: Sinopsis Drama Korea Uncle Samsik, Tayang 15 Mei 2024

Dari sini, Medan berkembang pesat. Kampung yang semula amat sederhana dan sepi, menjadi ramai dengan kehidupan yang serba kompleks.

Medan berkembang tidak saja hanya sebagai pusat perekonomian, tetapi juga menjadi pusat pemerintahan bagi Kerajaan Deli dan Karesidenan Sumatera Timur.

Dari kisah di dalam Syair Putri Hijau, nama Medan berasal dari kata Medan Peperangan yang menjadi bekas tempat peperangan antara Kerajaan Deli dan Kerajaan Aceh pada 1522.

Baca Juga: SEGERA DAFTAR! Geopark Ciletuh Run 2024 Bakal Digelar Pada Minggu 12 Mei 2024, Ada Dua Kategori Lomba, Simak Selengkapnya di Sini

Bekas tempat perang itu disebutkan berada di tepi sungai, di antara Labuhan dan Delitua, yaitu di Kota Medan sekarang.

Peperangan dua kerajaan itu meletus akibat pinangan Sultan Aceh terhadap Putri Deli, yakni Putri Hijau, ditolak kedua saudara laki-laki Putri Hijau.

Medan dalam Bahasa Melayu berarti gelanggang. Medan Peperangan berarti gelanggang peperangan.

Baca Juga: Mengenal Warung Madura Yang Mengancam Gurita Bisnis Minimarket, Lahir Karena Desakan Ekonomi di Kampung Halaman

Di tempat ini, berangsur-angsur berkembang menjadi perkampungan.

Versi lain menyatakan Medan berasal dari kata India yaitu Maiden yang berarti tanah datar (lapangan).

Ini tertulis pada sebuah Tambo Melayu, bahwa asal keturunan Raja Deli dari India.

Dua buah versi Batak Karo mengatakan Medan berasal dari kata Maden (sembuh).

Baca Juga: Panas! Warung Madura Tantang Minimarket Buka 24 Jam Sehari, Jangan Pakai Tangan Kekuasaan Gusur Usaha Mikro

Versi Batak Karo kedua menghubungkan kata Medan dengan kata Kesawan, yang berarti tempat yang lengang dan sunyi.

Kesawan dalam Bahasa Karo disebut Kesain.

Lama-kelamaan, kata maden, Kesain, dan Mauden berubah menjadi Medan.

Baca Juga: Nih Daftar Harga Tiket Konser Sheila On 7 di Makassar, Sudah Dijual Simak Syarat dan Ketentuannya di Sini

Nama Medan dapat dihubungkan dengan Bahasa Batak Karo karena adanya pertalian darah antara Suku Karo dengan orang-orang Deli.

Naskah lama yaitu Riwayat Hamparan Perak juga mengungkap asal-usul Medan.

Naskah itu mengisahkan tentang Guru Patimpus, salah satu keturunan Sisingamangaraja, melakukan perjalanan sampai ke Deli.

Baca Juga: Asal-usul Samarinda, Kota Pertama Tujuan Konser Sheila on 7, Berstatus Ibu Kota Provinsi sejak 1957

Di tanah Deli, Guru Patimpus berguru pada Datuk Bangun, ulama besar yang kala itu menetap di daerah hilir Sungai Deli.

Di depan Datuk Bangun, Guru Patimpus lalu masuk Islam pada 1590.

Setelah menikah dengan putri Kepala Pulau Berayan, salah seorang keturunan dari Panglima Deli, Guru Patimpus membuka lahan yang kelak diberi nama Kampung Medan.

Baca Juga: Inilah 6 Rekomendasi Sarung Wadimor Terbaik Beserta Harganya, Adem dan Nyaman Dikenakan

Di kampung ini, Guru Patimpus memerintah dan menjadi nenek moyang dari Datuk Hamparan Perak dan Sukapiring.

Riwayat Hamparan Perak ini menjadi rujukan utama Pemerintah dalam menentukan penetapan hari jadi Kota Medan yang jatuh pada 1590.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.