Jakarta

Ini 6 Persoalan Lama di Bidang Ekonomi yang Harus Diselesaikan Prabowo-Gibran, Disampaikan INDEF dalam Kajian Tengah Tahun 2024

Yasmina Nuha | 26 Juni 2024, 08:27 WIB
Ini 6 Persoalan Lama di Bidang Ekonomi yang Harus Diselesaikan Prabowo-Gibran, Disampaikan INDEF dalam Kajian Tengah Tahun 2024

AKURAT JAKARTA - The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengungkapkan, ada enam persoalan lama terkait ekonomi yang harus diselesaikan oleh Presiden Terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming.

Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, mengungkapkan persoalan pertama yang harus dibenahi pemerintah baru ialah terkait kualitas pertumbuhan ekonomi yang relatif menurun.

"Pada akhirnya konsumsi selalu jadi backbone dari pertumbuhan ekonomi. Padahal tidak hanya itu, tapi bisa investasi, ekspor, belanja pemerintah, pajak, dan transfer daerah," katanya pada Kajian Tengah Tahun (KTT) INDEF 2024 di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Selasa (25/6/2024).

Baca Juga: KEREN! Brand Perhiasan Ternama Ini Hadirkan Koleksi Terbaru yang Ramah Lingkungan: Hasil Daur Ulang Emas 14K dan Lab Grown Diamonds

Kedua, masalah daya beli masyarakat yang terus menerus turun. Terkait hal ini, pemerintah masih memperketat kebijakan fiskalnya.

"Karena apalagi presiden terpilih sudah mencanangkan bahwa tax ratio-nya harus naik sekitar 23%. Untuk itu, Generate income dari pajak ini harus ditingkatkan. Caranya nanti harus kita lihat lagi," katanya.

Ketiga, terkait kebijakan moneter Indonesia yang masih ketat. Saat ini kondisi ekonomi, baik fiskal maupun moneter masih relatif ketat.

"Hal ini ditandai dengan tingkat suku bunga yang terus menerus naik juga. Kemudian dilakukan juga fluktuasi nilai tukar rupiah yang saat ini sekitar Rp16.400," katanya

Keempat, turunnya fleksibilitas fiskal karena rasio pajak juga relatif hanya dikisaran 8-10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Kemudian untuk ratio utang juga 38%. Apalagi nanti akan ada kebijakan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ini naik menjadi dari 11% sampai 12%," jelas Esther.

Baca Juga: Golkar Umumkan Nama Cagub Jakarta pada Hari Pendaftaran, Ada Nama Zaki Iskandar dan RK

Kelima, performa dari industri manufaktur juga mengalami penurunan. Apalagi, ketika import bahan baku masih terus membengkak karena nilai rupiahnya terdepresiasi

"Sehingga industri manufaktur atau industri yang lainnya yang menggantungan depend on bahan baku import akan sangatlah terdampak," katanya.

Terakhir, fungsi intermediasi dari sektor keuangan masih terbatas. Artinya net interest margin (NIM) perbankan di Indonesia masih relatif tinggi.

"Nah apalagi ini dengan adanya kebijakan tingkat suku bunga tinggi, dan nilai tukar rupiah yang volatil," ungkapnya.

Baca Juga: Bang Zaki Iskandar Sebagai Tokoh Penjaga Toleransi, Dapat Apresiasi dan Penghargaan dari Keuskupan Agung Jakarta

Ia pun berharap, Presiden Prabowo dan Wapres Gibran nantinya dapat menyelesaikan persoalan-persoalan lama ekonomi tersebut. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.