Mengenal Pariwisata Gastronomi di Indonesia yang Bukan Sekadar Kulineran Biasa

AKURAT JAKARTA - Wisata kuliner mungkin sudah sering kita dengar, namun kini ada istilah baru yang semakin populer dalam dunia pariwisata Indonesia, yaitu wisata gastronomi.
Meski sama-sama berhubungan dengan makanan, wisata gastronomi memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar menikmati hidangan lezat.
Secara etimologi, kata gastronomi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu gaster yang berarti “perut” dan nomos yang berarti “aturan”.
Dalam perkembangannya, gastronomi bukan hanya soal memasak, tetapi juga mencakup seni, budaya, filsafat, hingga antropologi makanan.
Menurut UNWTO, wisata gastronomi adalah perjalanan wisata yang menjadikan makanan sebagai tujuan utama, lengkap dengan pengalaman memahami sejarah, tradisi, hingga filosofi yang terkandung dalam setiap hidangan.
Indonesia memiliki potensi besar di bidang ini. Dari Sabang sampai Merauke, ribuan kuliner tradisional tersebar dengan cerita unik di baliknya.
Baca Juga: Resmi Terbang, Penerbangan Perdana Jember–Jakarta Buka Peluang Baru
Sebut saja rendang dari Minangkabau yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda, atau tempe yang juga masuk daftar warisan dunia.
Lebih dari sekadar makanan, keduanya merepresentasikan identitas bangsa, teknik memasak, hingga nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.
Sejarah gastronomi Nusantara sendiri sudah panjang. RA Kartini, misalnya, pernah mengoleksi lebih dari 200 resep masakan khas keluarganya.
Baca Juga: Wisata Edukatif Tanpa Biaya: 4 Museum Gratis Paling Underrated di Jakarta
Sejarah juga mencatat bahwa seorang warga Belanda yang pernah menetap di Indonesia pernah menerbitkan sebuah buku berisi lebih dari 1.300 resep masakan lokal.
Bahkan Presiden Soekarno pada 1967 menerbitkan buku legendaris Mustika Rasa berisi 1.685 resep kuliner tradisional, lengkap dengan cara pengolahan dan filosofi makanannya.
Semua catatan ini menunjukkan bahwa gastronomi sudah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Potensi wisata gastronomi jelas menjadi kekuatan bagi pariwisata Indonesia.
Wisatawan tidak hanya diajak mencicipi makanan, tetapi juga belajar tentang budaya, sejarah, hingga nilai sosial yang terkandung di dalamnya.
Bayangkan, menyantap gudeg langsung di Yogyakarta sambil mendengar kisah sejarahnya, atau menikmati papeda di Maluku sembari memahami filosofi kebersamaan yang melekat pada makanan tersebut.
Namun, agar wisata gastronomi semakin berkembang, diperlukan dukungan dari semua pihak.
Pelestarian resep tradisional, edukasi kepada generasi muda, hingga promosi ke dunia internasional menjadi langkah penting.
Dengan begitu, Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara kaya kuliner, tetapi juga sebagai destinasi wisata gastronomi kelas dunia.
Baca Juga: Wisata Literasi: Menjelajahi 5 Perpustakaan Estetik di Jakarta
Jadi, lain kali ketika kita menikmati hidangan Nusantara, ingatlah bahwa setiap suapan menyimpan cerita panjang tentang identitas dan budaya bangsa.
Gastronomi bukan sekadar kulineran biasa, melainkan perjalanan rasa yang memperkaya pengalaman wisata di Indonesia.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









