Jakarta

Ada Kunang-kunang dan Lukisan Kamasan, Sisi Bali Ini Tak Banyak Diketahui Wisatawan

Anggerhana Denni Rahmawati | 25 September 2026, 06:30 WIB
Ada Kunang-kunang dan Lukisan Kamasan, Sisi Bali Ini Tak Banyak Diketahui Wisatawan
Ilustrasi kunang-kunang di malam hari. - nationalgeographic.com

AKURAT JAKARTA - Bali selama ini dikenal lewat pantai, pura, sawah hingga kawasan wisata yang ramai.

Namun, pengalaman berbeda bisa ditemukan ketika wisatawan keluar dari jalur wisata yang sudah umum dan mulai mengenal kehidupan masyarakat lokal.

Di sejumlah desa, warga justru menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana alam dan tradisi Bali dipertahankan.

Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga dapat mengikuti proses konservasi dan mengenal seni yang diwariskan antargenerasi.

Salah satu contohnya berada di Desa Taro, sekitar 20 kilometer dari Ubud.

Di sana, Wayan Wardika bersama timnya menjalankan inisiatif Bring Back The Light untuk mengembalikan populasi kunang-kunang yang semakin sulit ditemukan.

Bagi Wayan, hilangnya kunang-kunang berkaitan dengan perubahan lingkungan.

Penggunaan pestisida, polusi, serta perubahan habitat membuat serangga tersebut semakin jarang terlihat.

Melalui program tersebut, Wayan melibatkan petani lokal, peneliti, dan ilmuwan muda untuk mempelajari kehidupan kunang-kunang sekaligus menjaga habitatnya.

Kawasan konservasi berada di sekitar perkebunan dan lahan pertanian Desa Taro.

Baca Juga: Perpusnas Ubah Naskah Kuno Jadi Komik, Biar Sejarah Nusantara Tak Makin Jauh dari Anak

Menariknya, wisatawan juga dapat ikut mengenal proses tersebut.

Pengunjung diajak menyusuri persawahan pada malam hari untuk melihat kunang-kunang, mempelajari siklus hidupnya, hingga mengenal kegiatan penelitian dan pembiakan.

Wayan juga melihat konservasi kunang-kunang sebagai bagian dari upaya menjaga identitas Bali.

“Kunang-kunang memiliki hubungan yang sangat erat dengan kearifan lokal, spiritualitas, budaya, dan tradisi Bali. Saat kita melindungi kunang-kunang, kita juga sedang melindungi bagian kecil dari identitas budaya dan kearifan yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujar Wayan.

Pengalaman berbeda bisa ditemukan di Klungkung melalui seni lukis Kamasan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.