Jakarta

Wajib Tahu Sebelum Muncak! Manajemen Pendakian Kunci Keselamatan dan Kelestarian di Gunung

Yusuf Doank | 30 Juli 2025, 13:48 WIB
Wajib Tahu Sebelum Muncak! Manajemen Pendakian Kunci Keselamatan dan Kelestarian di Gunung

AKURAT JAKARTA – Mendaki gunung bukan sekadar mencapai puncak, tetapi juga tentang bagaimana mengelola setiap aspek perjalanan demi keselamatan diri, tim, dan kelestarian alam.

Konsep manajemen pendakian menjadi pondasi krusial bagi setiap penggiat alam bebas, baik pemula maupun senior.

Dengan manajemen yang tepat, pendaki tidak hanya menjadi penjelajah, tetapi juga penjaga nyawa dan lingkungan.

Baca Juga: Jangan Lupa, Konser Intim Sandhy Sondoro Besok, Ajak Nostalgia Era 80-an Lokasinya di Sini

Berikut adalah enam pilar manajemen pendakian yang esensial:

1. Manajemen Waktu Pendakian

Waktu adalah elemen vital. Pendaki harus mampu mengatur jadwal tempuh dan istirahat secara efisien, menghindari perjalanan malam yang berisiko.

Ini mencakup estimasi waktu mulai hingga tiba di area camp atau summit, menentukan rest point yang efektif, menetapkan cut off time (batas waktu maksimal tiba di pos atau puncak), serta merencanakan waktu turun untuk menghindari gelap atau hujan.

2. Manajemen Logistik Pendakian

Perencanaan logistik yang matang menjamin ketersediaan kebutuhan pokok. Ini meliputi perhitungan kebutuhan makanan (pokok dan ringan), air (termasuk identifikasi sumber air di jalur), alat masak, tenda, serta perlengkapan kelompok lainnya seperti kompor dan flysheet.

Pembagian beban bawaan antar anggota tim juga harus diperhatikan agar merata dan efisien.

Baca Juga: Hutan Kota Srengseng: Ruang Hijau Tenang di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta

3. Manajemen Risiko Pendakian

Mengidentifikasi dan memitigasi potensi bahaya adalah hal utama. Risiko yang harus diantisipasi meliputi perubahan cuaca ekstrem (hujan, badai, petir), cedera fisik (terkilir, jatuh, hipotermia), masalah navigasi (tersesat), hingga potensi bahaya dari satwa liar.

4. Manajemen Tim Pendakian

Koordinasi dan komunikasi yang solid dalam tim adalah kunci keberhasilan. Pembagian peran yang jelas (seperti leader, sweeper, bagian dokumentasi, dan logistik), briefing sebelum memulai pendakian, menjaga ritme jalan agar seimbang, serta kejujuran antar anggota mengenai kondisi fisik (lelah, sakit) sangat diperlukan.

5. Manajemen Perizinan Mendaki

Aspek legalitas dan kepatuhan terhadap aturan pengelola gunung wajib dipenuhi. Ini mencakup pengurusan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI), screening kesehatan (jika diwajibkan), dan mematuhi aturan pendakian yang ditetapkan, seperti jumlah hari pendakian, jalur resmi, dan batas waktu.

6. Manajemen Sampah Pendakian

Prinsip zero waste adalah komitmen pendaki terhadap alam. Setiap pendaki harus membawa trash bag pribadi, memisahkan sampah organik dan anorganik, serta memastikan semua sampah dibawa turun. Larangan membuang sampah sembarangan, bahkan kulit pisang sekalipun, adalah wujud nyata menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Dukungan dari komunitas pecinta alam dan para pendaki—dalam bentuk like, share, komentar, dan follow—adalah motivasi terbesar untuk terus berbagi edukasi dan inspirasi dari alam bebas. Semoga para pendaki terus menjaga alam, menjelajah dengan bijak, dan tumbuh bersama. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.