Menaker Pasang Badan, Upah Minimum Pantang Turun Meski Ekonomi Daerah Minus

AKURAT JAKARTA – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli memberikan jaminan tegas bahwa tarif upah minimum di seluruh Indonesia tidak akan mengalami penurunan pada tahun mendatang.
Meskipun sebuah daerah mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang negatif atau berada di bawah nol, pemerintah memastikan upah pekerja akan tetap terkoreksi naik.
"Tidak ada tentu istilahnya upahnya turun. Kalau pertumbuhan ekonominya negatif, maka Dewan Pengupahan Daerah tentu mempertimbangkan kenaikan berdasarkan inflasi," ujar Yassierli saat ditemui di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta.
Baca Juga: Deadline 24 Desember! Menaker Minta Gubernur Segera Umumkan Upah Minimum Baru
Inflasi Jadi Penyelamat Kenaikan Upah
Kepastian tidak turunnya upah ini didasarkan pada formula pengupahan baru yang telah disahkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dalam aturan terbaru tersebut, variabel inflasi menjadi dasar utama penghitungan, sehingga ketika pertumbuhan ekonomi daerah tercatat negatif, komponen inflasi tetap akan mendorong angka upah ke atas.
Pemerintah juga memberikan ruang kompensasi yang lebih besar melalui peningkatan rentang Alfa menjadi 0,5–0,9 poin.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan aturan sebelumnya (PP Nomor 51 Tahun 2023) yang hanya mematok Alfa di kisaran 0,1–0,3 poin.
Dengan indeks Alfa yang lebih besar, daya dongkrak kenaikan upah tetap terjaga meskipun produktivitas ekonomi sedang melemah.
Baca Juga: Ancaman Bibit Siklon Tropis! BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi Hingga 4 Meter di Perairan Indonesia
Solusi bagi Wilayah dengan Ekonomi Negatif
Kebijakan "anti-turun" ini menjadi angin segar bagi para pekerja di wilayah yang sedang mengalami kontraksi ekonomi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat dua wilayah yang menjadi perhatian khusus karena pertumbuhan ekonomi negatifnya pada triwulan III 2025, yaitu:
1. Provinsi Papua Tengah: Mencatat angka -4,74 persen.
2. Provinsi Papua Barat: Mencatat angka -0,02 persen.
Menaker meyakini bahwa Dewan Pengupahan Daerah telah dibekali data dan pelatihan yang mumpuni untuk menetapkan upah yang adil sesuai karakteristik ekonomi di wilayah masing-masing.
Gubernur di seluruh Indonesia kini diwajibkan untuk menetapkan besaran Upah Minimum Provinsi (UMP) paling lambat pada 24 Desember 2025, dengan harapan kebijakan ini menjadi solusi terbaik bagi kesejahteraan buruh sekaligus keberlangsungan dunia usaha. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Skor Kepulauan Faroe vs Kazakhstan di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Punya Modal Kandang Kuat
- 2Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di UNL, 25 September 2026: Duel Perdana yang Sulit Diprediksi
- 3Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di UNL, 25 September 2026: Dapatkah Khvicha Kvaratskhelia Menjadi Pembeda?
- 4Prediksi Skor Armenia vs Latvia di UNL, 25 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Tanpa Kemenangan?
- 5Prediksi Skor Islandia vs Estonia di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Incar Awal Positif
- 6Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di UNL, 26 September 2026: Mampukah The Brave Falcons Lanjutkan Tren Positif?
- 7Prediksi Skor Andorra vs Malta di UNL, 24 September 2026: Mampukah Tim Tamu Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan?
- 8Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di UNL, 26 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!








