Jakarta

Ketika Rajin dan Malas Dianggap Sama, Kebijakan Naik Kelas Jadi Sorotan

Anggerhana Denni Rahmawati | 9 Oktober 2026, 17:31 WIB
Ketika Rajin dan Malas Dianggap Sama, Kebijakan Naik Kelas Jadi Sorotan
Ilustrasi anak sekolah. - Magnific

AKURAT JAKARTA - Apa yang terjadi ketika siswa merasa belajar dengan sungguh-sungguh atau bermalas-malasan tidak memberikan perbedaan berarti?

Situasi ini menjadi salah satu alasan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menilai kebijakan siswa tidak otomatis naik kelas perlu dipertimbangkan kembali.

Mu'ti menyoroti pola pikir sebagian siswa yang merasa tetap bisa naik kelas meskipun tidak berusaha maksimal.

Ia menyebut fenomena tersebut dengan istilah RMS, yakni rajin malas sama saja.

Menurutnya, sekolah perlu membiasakan siswa untuk tekun belajar, memiliki daya juang, dan siap menghadapi persaingan.

Pernyataan itu membuka persoalan yang lebih luas daripada sekadar aturan kenaikan kelas: bagaimana membangun motivasi belajar ketika siswa tidak melihat hubungan yang jelas antara usaha dan hasil?

Fenomena psikologi di balik pola pikir rajin dan malas sama saja

Dalam psikologi, salah satu konsep yang relevan untuk memahami persoalan ini adalah learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari.

Konsep ini menggambarkan keadaan ketika seseorang merasa tindakannya tidak akan membawa perubahan sehingga motivasinya untuk mencoba kembali dapat menurun.

Dalam konteks pendidikan, siswa yang berulang kali merasa usahanya tidak menghasilkan kemajuan bisa kehilangan semangat untuk belajar.

Baca Juga: Kurangi Macet di Perintis Kemerdekaan, Jalan Tembusan Kelapa Gading-Pulo Gadung Ditargetkan Rampung 2027

Sebaliknya, apabila siswa menganggap dirinya akan tetap naik kelas tanpa perlu memperbaiki kemampuan, dorongan untuk belajar lebih giat juga berpotensi melemah.

Meski demikian, kedua situasi tersebut tidak selalu menunjukkan learned helplessness.

Rendahnya motivasi belajar bisa dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kesulitan memahami materi, metode mengajar yang kurang sesuai, lingkungan keluarga, hingga kurangnya dukungan emosional.

Karena itu, persoalan RMS tidak cukup diselesaikan dengan memberikan konsekuensi akademik.

Sekolah juga perlu memastikan siswa memahami bahwa usaha, strategi belajar, dan kemajuan kemampuan mereka memiliki arti.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.