Jakarta

Lulus S2 dalam 1,5 Tahun dengan IPK 4,00, Guru SD Ini Ciptakan Inovasi Pembelajaran Berbasis Budaya Lokal

Anggerhana Denni Rahmawati | 16 Oktober 2026, 21:15 WIB
Lulus S2 dalam 1,5 Tahun dengan IPK 4,00, Guru SD Ini Ciptakan Inovasi Pembelajaran Berbasis Budaya Lokal
Kisah Firda Emilia, guru SD yang mengubah tantangan mengajar jadi riset inovatif. - unesa.ac.id

AKURAT JAKARTA - Menghafal materi pelajaran belum cukup untuk membentuk siswa yang mampu menghadapi berbagai persoalan.

Anak-anak juga perlu belajar menganalisis masalah, menguji gagasan, dan menarik kesimpulan sendiri sejak sekolah dasar.

Tantangannya, tidak semua materi mudah dipahami jika hanya disampaikan melalui metode pembelajaran biasa.

Persoalan tersebut mendorong Firda Emilia, lulusan S2 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), mengembangkan e-book berbasis Etno-STEAM untuk siswa kelas 3 SD.

Media ini dirancang agar pembelajaran lebih menarik dengan menghubungkan konsep akademik dan budaya lokal yang dekat dengan kehidupan anak.

Inovasi tersebut mengantarkan Firda meraih predikat Wisudawan Terbaik Program Magister Unesa.

Ia menyelesaikan studi dalam waktu 1,5 tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.

Budaya lokal membuat materi lebih mudah dipahami

Etno-STEAM merupakan pendekatan yang menggabungkan kearifan lokal dengan lima bidang ilmu, yaitu sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika.

Melalui pendekatan ini, konsep yang semula terasa abstrak dapat dijelaskan menggunakan cerita, fenomena budaya, dan situasi yang akrab bagi siswa.

Baca Juga: Mulai 16 Oktober, Koper Penumpang di Thailand Bisa Dibuka Tanpa Pemilik, Ini yang Perlu Diketahui

E-book buatan Firda tidak hanya menyajikan materi untuk dibaca.

Media digital tersebut juga dilengkapi simulasi visual dan permainan edukatif agar siswa bisa mengeksplorasi materi dengan cara yang lebih menarik.

Namun, bagian penting dari inovasi ini terletak pada pertanyaan pemantik yang disisipkan dalam pembelajaran.

Pertanyaan tersebut mendorong siswa untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga memikirkan alasan, menganalisis persoalan, dan menyusun kesimpulan secara mandiri.

Dengan demikian, teknologi tidak hanya digunakan untuk membuat buku tampil lebih menarik.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.