Awas Pangan Palsu Jelang Nataru! BPOM Bongkar 4 Titik Kritis Akibat El Nino Ekstrem

AKURAT JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berkomitmen untuk memperketat pengawasan keamanan pangan nasional.
Langkah strategis ini diambil guna menyusul ancaman fenomena El Nino dengan kategori sangat kuat yang diprediksi akan bertahan hingga awal tahun 2027.
Selain itu, pengawasan intensif ini juga diperkuat menjelang momen Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru).
Baca Juga: Dari Bangku Kuliah UT ke Panggung Dunia, Perjalanan Alda Callista Menuju Miss World 2027
Upaya pengetatan ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap lonjakan risiko cemaran mikrobiologi dan kimia.
Tidak hanya itu, BPOM juga mewaspadai potensi pemalsuan pangan yang rawan terjadi akibat adanya gangguan pasokan selama musim kemarau panjang.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa perubahan suhu yang ekstrem serta keterbatasan akses air bersih dapat berdampak signifikan pada stabilitas keamanan pangan di sepanjang rantai pasok.
"Keamanan pangan adalah bagian integral dari ketahanan pangan. Menghadapi El Niño, mutu dan keamanan pangan, termasuk cadangan beras, harus dijaga di sepanjang rantai pasok. BPOM memperkuat pengawasan berbasis risiko bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah," ujar Taruna kepada wartawan belum lama ini.
Baca Juga: Tabrakan Maut 2 Kereta di Spanyol, 60 Orang Lebih Belum Ditemukan
4 Titik Kritis Keamanan Pangan yang Diwaspadai BPOM
Dalam menghadapi dampak El Nino ini, BPOM telah mengidentifikasi empat titik kritis keamanan pangan utama yang memerlukan kewaspadaan tinggi:
Risiko Pemalsuan Pangan: Potensi terjadinya pengoplosan atau pemalsuan pangan akibat kelangkaan stok di pasaran.
Cemaran Kimia (Aflatoksin): Risiko tinggi munculnya racun aflatoksin yang dihasilkan oleh kapang atau jamur tertentu pada komoditas jagung dan kacang tanah akibat kondisi kekeringan yang ekstrem.
Kerusakan Fisik: Penurunan mutu atau kerusakan fisik pada produk pangan akibat paparan suhu tinggi.
Masalah Sanitasi: Risiko kontaminasi bakteri akibat keterbatasan ketersediaan air bersih di lingkungan produksi dan distribusi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 2Prediksi Skor Bochum vs Mainz 05 di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Menghentikan Dominasi Tim Bundesliga?
- 3Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 4Prediksi Skor Hamburger SV vs Eintracht Frankfurt di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Duel Dua Tim dengan Pertahanan Rapuh
- 5Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 6Prediksi Skor Sonnenhof Grossaspach vs Augsburg di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Die Fuggerstadter
- 7Prediksi Skor Borussia Dortmund vs Werder Bremen di DFB-Pokal, 28 Oktober 2026: Mampukah BVB Mempertahankan Dominasi?
- 8Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!



