Jakarta

Awas Pangan Palsu Jelang Nataru! BPOM Bongkar 4 Titik Kritis Akibat El Nino Ekstrem

M Rahman Akurat | 30 Oktober 2026, 09:03 WIB
Awas Pangan Palsu Jelang Nataru! BPOM Bongkar 4 Titik Kritis Akibat El Nino Ekstrem
Ilustrasi - beras. foto: magnific.com/jcomp

AKURAT JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berkomitmen untuk memperketat pengawasan keamanan pangan nasional.

Langkah strategis ini diambil guna menyusul ancaman fenomena El Nino dengan kategori sangat kuat yang diprediksi akan bertahan hingga awal tahun 2027.

Selain itu, pengawasan intensif ini juga diperkuat menjelang momen Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru).

Baca Juga: Dari Bangku Kuliah UT ke Panggung Dunia, Perjalanan Alda Callista Menuju Miss World 2027

Upaya pengetatan ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap lonjakan risiko cemaran mikrobiologi dan kimia.

Tidak hanya itu, BPOM juga mewaspadai potensi pemalsuan pangan yang rawan terjadi akibat adanya gangguan pasokan selama musim kemarau panjang.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa perubahan suhu yang ekstrem serta keterbatasan akses air bersih dapat berdampak signifikan pada stabilitas keamanan pangan di sepanjang rantai pasok.

"Keamanan pangan adalah bagian integral dari ketahanan pangan. Menghadapi El Niño, mutu dan keamanan pangan, termasuk cadangan beras, harus dijaga di sepanjang rantai pasok. BPOM memperkuat pengawasan berbasis risiko bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah," ujar Taruna kepada wartawan belum lama ini.

Baca Juga: Tabrakan Maut 2 Kereta di Spanyol, 60 Orang Lebih Belum Ditemukan

4 Titik Kritis Keamanan Pangan yang Diwaspadai BPOM

Dalam menghadapi dampak El Nino ini, BPOM telah mengidentifikasi empat titik kritis keamanan pangan utama yang memerlukan kewaspadaan tinggi:

  1. Risiko Pemalsuan Pangan: Potensi terjadinya pengoplosan atau pemalsuan pangan akibat kelangkaan stok di pasaran.

  2. Cemaran Kimia (Aflatoksin): Risiko tinggi munculnya racun aflatoksin yang dihasilkan oleh kapang atau jamur tertentu pada komoditas jagung dan kacang tanah akibat kondisi kekeringan yang ekstrem.

  3. Kerusakan Fisik: Penurunan mutu atau kerusakan fisik pada produk pangan akibat paparan suhu tinggi.

  4. Masalah Sanitasi: Risiko kontaminasi bakteri akibat keterbatasan ketersediaan air bersih di lingkungan produksi dan distribusi.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.