Jakarta

NOVEL BAG.71 : Michel Jatuh Cinta Padaku

Afriadi B | 10 Agustus 2023, 06:10 WIB
NOVEL BAG.71 : Michel Jatuh Cinta Padaku

AGUSTUS. Dua bulan setelah aku dan Michel melakukan riset di Puncak. Riset soal pernikahan. "Ternyata pernikahan dalam Islam itu indah ya, Man. Tak ribet. Simpel. Dan sarat nilai-nilai ibadah."

"Iya. Dan setelah menikah, rumah tangga adalah ladang ibadah bagi suami - istri. Semua yang dilakukan akan diganjar pahala. Keluarga yang tentram (sakinah), penuh cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah)."

Pernikahan. Ya, itu yang diinginkan Michaella. Wartawati bule itu ingin menikah. Tapi, calon suaminya belum ada. Ia memintaku mencarikan calon mempelai laki-lakinya.

"Rahman, aku ingin pernikahan. Aku ingin menikah. Aku bisa minta tolong carikan calon suami?"

"Insya'alloh." Jawabku.

Obrolan itu mengalir begitu saja. Layaknya teman dekat.

"Kriteria suami idaman kamu yang seperti apa?"

Tak ada perasaan apapun. Aku bertanya soal kriteria calon suami Michel juga tak pakai perasaan. Seperti umumnya orang bertanya pada temannya.

"Yang pintar. Yang soleh. Yang bisa memimpin aku. Yang bisa jadi imam bagiku. Yang bisa membahagiakanku," jawab Michel sambil memandangi sekujur tubuhku.

"Kenapa lihatin aku?" tanyaku.

"Ya, laki-laki yang seperti kamu. Aku ingin punya suami yang seperti kamu."

Hahh....! Dug...! Tepok jidad. "Pengen punya suami yang seperti aku..?"

"Iya. Kamu mau atau tidak jadi suami aku?"

"Ngaco kamu, Michel! Di luar sana masih banyak laki-laki yang sepadan dengan kamu. Yang ganteng, yang soleh, dan mapan secara pekerjaan. Kalau aku, jauh banget lah."

"Rahman, kata kamu Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasang, berjodoh-jodoh. Kita memang berbeda. Tapi justru karena beda, aku lihatnya kita berjodoh."

"Memang banyak laki-laki yang seperti kamu sebutkan tadi. Tapi, itu baru katanya. Aku tak kenal mereka secara dalam. Aku tak tahu seperti apa karakter mereka. Sedangkan kamu, aku sudah tahu," sambung Michel.

Aku tak bisa berkata-kata lagi. Tiba-tiba ada seperti yang memantek di jantungku. Hatiku terkena panah asmara. Berbunga-bunga. Terbang ke atas nirwana.

"Mimpi kah ini? Aku punya istri bule? Alhamdulillah banget. Anak-anakku kelak, pasti ganteng dan cantik. Seperti artis."

Saking senangnya, kakiku sampai gemetaran. Mulutku tak mampu bicara lagi. Aku langsung ngeloyor pulang. Tanpa permisi.

Di sepanjang jalan, dari kontrakan Michel ke kos-kosan, pikiranku melayang. Aku bak mabuk kepayang. Pernyataan Michel yang ingin punya suami seperti aku, terus membayang.

"Inikah jawaban atas do'a-do'aku selama ini? Diakah hasil ikhtiar cintaku selama ini? Semoga."

Monolog itu, terus berisik di dalam hatiku. Membuatku kadang terdiam. Kadang senyum-senyum sendiri.

"Tapi, agh...!" Jangan terlalu ge'er. Kan hanya kriteria yang seperti aku. Belum tentu Michel benar-benar mau sama aku. Tapi, nggak ada salahnya juga aku coba. Siapa tahu, Michel memang sungguh-sungguh mau sama aku. Tulus karena mencintaiku.

September. Hujan mulai mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Meskipun intensitas masih jarang. Juga tak deras. Tapi lumayanlah untuk membasahi bumi yang telah lama mengering.

Aku kembali berjumpa Michel. Ia kembali mendesakku untuk memberikan jawaban. Hingga akhirnya, aku menjawab iya untuk menikah dengannya. (Bersambung)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.