Jakarta

Apa Itu Penyakit Cacar Monyet atau Monkeypox, Apa Saja Ciri-cirinya? Berikut Penjelasannya.

Sastra Yudha | 20 Oktober 2023, 15:21 WIB
Apa Itu Penyakit Cacar Monyet atau Monkeypox, Apa Saja Ciri-cirinya? Berikut Penjelasannya.

AKURAT JAKARTA - Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, tercatat sudah ada tiga kasus cacar monyet atau Monkeypox.

Kasus pertama, ditemukan di DKI pada Agustus 2022. Kemudian, pada tanggal 12 Oktober 2023 ditemukan satu kasus, dan pada 19 Oktober 2023 kembali ditemukan satu kasus.

Lalu, apa itu cacar monyet atau Monkeypox? Staf Teknis Komunikasi dan Transformasi Kesehatan Kemenkes RI, Ngabila Salama, menjelaskan bahwa cacar monyet atau Monkeypox merupakan penyakit menular yang diakibatkan oleh virus bernama zoonosis.

Sama dengan jenis penyakit cacar lain, cacar monyet juga mengakibatkan manusia yang terpapar akan mengalami demam dan pembengkakan pada kelenjar getah bening di ketiak.

"Cacar monyet bisa ditularkan dengan kontak langsung dengan luka yang terkontaminasi virus, droplet, dan cairan tubuh lain," katanya dalam keterangan tertulis pada Jumat (20/10/2023).

Baca Juga: Perkuat Sinergi Demokrasi, Partai Golkar DKI Berkunjung ke KPUD DKI Jakarta

Tak hanya itu, penularan juga bisa terjadi dari hewan ke manusia dengan gigitan, cakaran, bahkan kontak langsung dengan kulit hewan yang terkontaminasi virus.

Kasus cacar monyet pertama kali yang menular dari monyet ke manusia ditemukan pada tahun 1970 di Kongo, Afrika Selatan. Dimana manusia yang terpapar mengalami bintil-bintil bernanah dan juga melepuh.

Ada 5 ciri-ciri atau gejala seseorang terkena Cacar Monyet, yaitu:

1. Deman dan Sakit Kepala

Gejala awal cacar monyet yakni demam dan sakit kepala hebat. Demam dengan suhu tinggi diatas 38,5 derajat menandakan sistem kekebalan tubuh sedang bekerja melawan infeksi.

2. Nyeri Otot

Gejala umum yang timbuk adalah nyeri otot, kondisi ini juga menandakan bahwa tubuh sedang bertahan melawan virus.

3. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening

Pembengkakan kelenjar getah bening menjadi salah satu ciri infeksi, biasanya hal ini terjadi di area leher dan ketiak.

Baca Juga: Ed Sheeran Bakal Konser di Jakarta pada Maret 2024, Cek Harga Tiket dan Cara Belinya

4. Ruam

Selanjutnya dalam kurun waktu 1-3 hari usai demam, manusia yang terpapar cacar monyet akan mengalami ruam. Kemunculan ruam terjadi mulai dari bagian wajah dan menyebar ke bagain tubuh lain.

5. Lesi

Ruam-ruan yang timbul akan menjadi lesi, atau luka pada kulit, Sejumlah lesi juga memiliki cairan nanah di dalamnya dan akan menghilang setelah luka tersebut mulai mengering.

Ngabila mengatakan, butuh waktu 2-4 minggu untuk sembuh. Definisi sembuh di sini adalah, jika semua luka sudah kering sempurna dan muncul kulit baru.

"Pasien mendapat terapi terbaik dari konsultan ahli monkeypox dari spesialis penyakit dalam dan spesialis kulit kelamin FKUI-RSCM," katanya.

Baca Juga: Resep Tempe Mendoan, Camilan dari Jawa Tengah dengan Rasa Renyah dan Gurih

Kementerian Kesehatan RI dan Dinkes DKI Jakarta dengan cepat melakukan pemantauan pada orang yang kontak erat dengan pasien. Pemantauan dilakukan setiap hari, untuk mengetahui apakah timbul gejala atau tidak.

"Pada kontak erat monkeypox, jika tidak bergejala maka tidak diperlukan isolasi mandiri. Investigasi kasus dilakukan aktif untuk menggali perjalanan penyakit dan sumber penularan agar penyebaran tidak terjadi dan memutus mata rantai penularan," katanya.

Dikatakan Ngabila, cacar monyet atau monkeypox ini penularannya melalui droplet berupa dahak atau bersin atau liur, yang mengkontaminasi lingkungan atau tangan, kontak kulit, kontak luka, cairan tubuh, dan kontak seksual.

Masa inkubasi cacar monyet atau monkeypox ini cukup panjang. Dari tertular sampai muncul gejala, bisa 3 hingga 21 hari. Namun yang tersering adalah 6 sampai 10 hari.

"Masyarakat jangan panik, akan tetapi perlu waspada. Lakukan beberapa cara mencegah sakit dan mencegah kematian," tegas Ngabila.

Baca Juga: Tanggal Tua Tetap Ceria, Berikut Daftar Konser Gratis di Jabodetabek Sabtu Pekan Ini, Ada HIVI! dan Isyana

Ngabila berpesan, hindari komplikasi dan kematian dengan deteksi dini. Jika menemukan gejala monkeypox seperti demam, lenting isi air, luka pada kulit.

Apalagi, lanjutnya, apabila disertai gejala khas monkeypox yaitu ada benjolan atau pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, di leher, di selangkangan, atau di lipat paha, segera datang ke fasilitas kesehatan semua Puskesmas dan RS untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Bagi yang melakukan kontak erat dengan kasus positif monkeypox, maka segera lakukan pemeriksaan di lab. Hal ini untuk mendeteksi dan pengobatan dini.

"Pada kontak erat karena belum pernah ada gejala sama sekali, maka tidak dilakukan pemeriksaan swab orofaring atau tenggorokan, swab kulit, swab anus, dan pemeriksaan darah. Akan tetapi dipantau setiap hari, apakah ada gejala yang timbul. Jika muncul gejala akan dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut," terangnya. (*)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.