Jakarta

NOVEL BAG.65 : Cinta Mati Tere Kepadaku

M.Rahman (editor) | 3 Agustus 2023, 12:10 WIB
NOVEL BAG.65 : Cinta Mati Tere Kepadaku

AKU terus melakukan eksperimen cinta. Gagal menggaet Indah, aku langsung mengincar urutan kedua. Kiki, nama panggilannya. Amira Rizqiyah, nama lengkapnya. Cantik; tinggi dan berkulit putih. Berkerudung. Tapi, hidungnya tak mancung.

Setelah pendekatan satu bulan, aku langsung ungkapkan isi hatiku. Dia tolak. Alasannya, dia sudah punya calon suami di kampungnya.

Cewek ketiga yang aku incar bernama Annisa. Satu kampus, lain jurusan. Sama-sama guru ngaji di TPA masjid kampus.

Namun, lagi-lagi tertolak. Jawabannya; “Maaf ya Ustadz Rahman, sepertinya kita belum berjodoh.”

Tak putus asa, aku terus melancarkan serangan. Satu per satu cewek yang jadi incaranku, aku tembak. Namun semuanya menolak.

Ada yang menolak dengan cara halus. Namun ada juga yang dengan kasar. Bahkan, ada yang sampai meludah di depanku.

“Cuih….! Amit-amit jabang bayi dah, pacaran sama kamu. Memangnya tidak ada laki-laki yang lebih ganteng apa.”

Cewek ketujuh. Namanya Teresia Naomi. Aktivis mahasiswi. Dia kuliah di Sekolah Tinggi Ekonomi Rawamangun. Beda kampus denganku. Kami sudah kenal lama. Sebagai sesama aktivis mahasiswa, aku sering ketemu Tere. Dalam aksi maupun kegiatan organisasi.

Tresno jalaran soko kulino. Karena sering bertemu, tumbuh benih-benih cinta. Meskipun aku belum pernah mengutarakannya.

Aku dan Teresia memang beda agama. Teresia adalah gadis Manado beragama Kristen. Berkulit putih, tinggi dan cantik jelita. Ayahnya pegawai Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).

Dulu, ayahnya bertugas di Solo. Karena itu, Tere banyak menghabiskan waktu kecilnya di kota di Jawa Tengah itu. Kini, ayahnya bertugas di kantor pusat. Di Jakarta.

Aku kirim surat elektronik kepada Tere. Aku sampaikan isi hatiku, bahwa aku mencintainya.

Gayung bersambut. Ternyata Tere juga menaruh hati padaku. Perbedaan agama tak menjadi penghalang cinta kami berdua.

Namun Tuhan berkehendak lain. Usia pacaran kami tak sampai setahun. Kecelakaan lalu lintas membuyarkan impian kami berdua.

Sore itu. Pukul 5 sore. Seorang teman kuliah Tere memberitahuku. Tere kecelakaan. Sekarang dirawat di Rumah Sakit Persahabatan.

Aku segera ke rumah sakit. Di ruang ICU. Kondisinya sangat parah. Tak sadarkan diri.

"Tere, sebenarnya aku ingin membangunkanmu. Kita menghabiskan malam ini dengan mengobrol. Bercerita soal cinta dan yang lucu-lucu. Tertawa bersama. Ceria bersama. Namun, aku tahu tidurmu tanda kelelahan. Kelelahan sangat. Lelah karena menahan sakit. Sakit yang sangat pula. Jadi aku tak sampai hati membangunkanmu."

Malam ini, monolog bagiku jauh lebih baik. Aku yakin, Tere bisa mendengar racauan suaraku. Dalam tidur lelapnya.

"Tere....Aku terkenang kala mengantarkanmu pulang ke Solo. Ke rumahmu. Dengan kereta Argo, aku antar kamu sampai Solo Balapan. Meski berniat mengantarmu, namun aku tak pernah benar-benar sampai ke depan rumahmu. Aku hanya mengantarkanmu sampai Stasiun Balapan, lalu kembali ke Jakarta dengan kereta yang sama untuk jadwal berikutnya. Aku belum siap untuk ketemu orangtuamu."

Pukul 9 malam. Aku masih menunggui Tere. Di sini, di ruang ICU RS Persahabatan. Aku melihat tidurnya makin nyenyak.

Alat pendeteksi detak jantung yang menempel di dinding, dan terhubung ke tubuhnya, beradu cepat dengan perputaran jarum jam, yang juga menempel di dinding.

Aku menghela napas panjang. Lelah. Aku sendiri juga lelah. Tapi aku tak bisa tidur. Mataku tak mau terpejam.

Aku kembali ke cerita. Bercerita pada diriku sendiri. Cerita yang sangat singkat, sesingkat kunjunganku ke kota Solo. Kunjungan yang tak sampai 24 jam. Padahal, di sepanjang perjalanan kereta, aku dan Tere sudah merencanakan seabrek kegiatan.

"Tere....Selama kita di Solo. Kamu mau mengajak aku mengelilingi kota Solo. Kota yang sangat kamu cintai. Meski kamu bukan orang Jawa. Tapi menurutku, kamu jauh lebih Jawa daripada aku yang keturunan Jawa. Mungkin karena kamu sejak kecil dibesarkan di Jawa. Sedangkan aku, meskipun ayah-ibuku orang Jawa, tapi aku lahir dan besar di Sumatera."

"Tere.....sebenarnya aku sangat ingin bersamamu berjalan-jalan di kota yang menjadi bagian hidupmu. Sangat ingin. Solo kota yang sangat unik. Aku tidak bisa menemukan diksi yang lebih tepat untuk mendeskripsikan kota ini."

"Tere.... aku sangat ingin mengajakmu ke pangkalan buku bekas di Alun-Alun Utara Keraton Solo. Tempat banyak pemuda-pemudi biasa menghabiskan waktu untuk memilih buku-buku yang disukai. Menyusuri lorong, dari satu kios ke kios yang lain. Aku sungguh-sungguh merindukan tawamu. Aku yakin bakal mendengar tawamu saat kita berada di tempat itu."

"Tere....Ingatkah kamu, soal bangku di bawah pohon beringin besar yang berdiri di depan lapak-lapak buku? Itu adalah tempat asyik untuk kita bercengkrama. Ah, kapan kita bisa ke sana lagi?"

"Tere....mohon maaf, aku belum sempat memenuhi janjiku. Mengajakmu jalan-jalan ke Masjid Istiqlal dan Masjid Kubah Emas. Itu yang kamu inginkan. Melihat masjid yang katanya paling besar di Asia Tenggara. Aku pernah tanyakan kepadamu, mengapa kamu sangat ingin melihat masjid? Padahal kamu kan non-muslim. Untuk apa? Kamu menjawab; Karena aku suka seni. Dan seni tak dibatasi oleh agama."

Tere...aku yakin kamu mendengar monologku. Berikanlah tanda, jika kau mendengar suara hatiku.

Monolog itu mengantarkanku ke dunia mimpi. Aku terlelap.

Pukul setengah lima pagi. Aku terbangun dengan rasa panik luar biasa. Jantungku serasa terlepas dari tubuhku untuk beberapa saat. Apa yang terjadi Tuhan?

Dua perawat dan seorang dokter ada di sekelilingnya. Beberapa wajah yang tak kukenali menangis sedan-sedu. Dan kakiku bergetar hebat saat selimut itu menutupi wajah Tere yang memucat. Wajahmu begitu putih, seputih kapas.

"Kamu telah pergi, Sayang. Kamu pergi untuk selamanya. Pergi membawa cinta kita yang baru seumur jagung." (Bersambung)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.