Jakarta

Apa Itu Golden Triangle dan Kaitannya dengan TKW Dewi Astutik yang Jadi Ratu Narkoba Asia Tenggara, Ini Uraian Singkat dan Sejarahnya!

Sastra Yudha | 30 Mei 2025, 19:09 WIB
Apa Itu Golden Triangle dan Kaitannya dengan TKW Dewi Astutik yang Jadi Ratu Narkoba Asia Tenggara, Ini Uraian Singkat dan Sejarahnya!

AKURAT JAKARTA - Seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Ponorogo, Jawa Timur, bernama Dewi Astutik tengah ramai diperbincangkan publik.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Marthinus Hukom, menyebut Dewi Astutik dalang penyelundupan Narkoba jenis sabu-sabu seberat 2 ton, yang digagalkan BNN di Perairan Karimun, Batam, Kepulauan Riau (Kepri) beberapa waktu lalu.

Dewi Astutik juga disebut sebagai salah satu figur sentral jaringan narkotika internasional yang mengendalikan kawasan Golden Triangle atau Segitiga Emas.

Baca Juga: Berikut Bahaya Kebiasaan Merokok Bagi Kesehatan, Peringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Apa itu Golden Triangle? dan mengapa disebut sebagai kawasan Segitiga Emas?

Golden Triangle adalah kawasan di bagian utara Asia Tenggara yang meliputi Burma, utara Laos dan bagian utara Thailand.

Disebut 'segitiga emas' karena kekayaan kawasan ini berasal dari emas hitam atau opium. Penghasil terbesar di Asia Tenggara.

Dalam beberapa dekade, Kawasan Golden Triangle memang menjadi pemasok Narkoba jenis heroin dan opium.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, narkoba yang berasal dari tanaman telah digantikan oleh jenis sintetis, khususnya metamfetamin seperti Sabu-sabu.

Selain karena tingginya keuntungan, juga karena luasnya pasar obat-obatan terlarang itu di Asia Timur dan Asia Tenggara, yang kini menjadi pasar sabu dengan pertumbuhan terpesat di dunia.

Perbatasan Thailand, Myanmar, dan Laos disebut dengan golden triangle atau segitiga emas. Di sinilah pertemuan tiga negara ini terjadi, tepatnya di sekitar pertemuan Sungai Mekong dan Sungai Ruak.

Baca Juga: Dishub DKI Targetkan Pendapatan Parkir Naik Dua Kali Lipat Pada Tahun 2026, Segini Jumlahnya

Segitiga emas adalah wilayah pegunungan yang menjadi tempat bertemunya perbatasan Thailand, Myanmar, dan Laos. Beberapa definisi wilayah ini bahkan mencakup bagian utara Vietnam dan provinsi Yunnan di Tiongkok.

Istilah segitiga emas pertama kali diciptakan pada tahun 1971 oleh Asisten Menteri Luar Negeri AS, Marshall Green.

Secara geografis, kawasan ini juga dikenal sebagai salah satu pusat utama produksi opium dan heroin di dunia, yang merupakan salah satu faktor utama yang membentuk sejarah kawasan ini.

Kawasan ini bahkan mencatatkan diri sebagai pemasok sekitar 60% stok opium dan heroin dunia.

Diperkirakan, industri narkoba yang berkembang di segitiga emas memberikan profit sebesar USD 160 milyar per tahun.

Sebagian besar produksi narkoba ini berasal dari Myanmar, yang juga dikenal sebagai penghasil opium terbesar kedua setelah Afghanistan.

Dilansir dari United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), segitiga emas telah menjadi jalur perdagangan narkoba yang sangat besar.

Kawasan ini berfungsi sebagai koridor utama produksi dan perdagangan opium, heroin, dan bahkan narkoba sintetis seperti metamfetamin yang menyebar ke seluruh Asia Pasifik.

Baca Juga: Tiket Konser BLACKPINK 2025 Jakarta Rp 3,8 Juta, Bonus VIP Gift Set, VIP Laminate and Lanyard serta Akses ke Booth Merchandise Khusus

Dengan letaknya yang strategis, kawasan ini menjadi jalur perdagangan internasional yang sangat menguntungkan.

Myanmar, khususnya, adalah aktor terpenting dalam perdagangan narkoba di kawasan ini, dengan ladang opium yang luas di negara bagian Shan.

Berdasarkan laporan UNODC dalam Southeast Asia Opium Survey 2023, Myanmar saat ini memiliki sekitar 47.000 hektar ladang opium, yang terus berkembang dari tahun ke tahun.

Setiap hektarnya dapat menghasilkan antara 9,5 hingga 15,9 kilogram opium. Angka ini menunjukkan betapa besar produksi opium di negara tersebut, menjadikannya salah satu pusat utama dalam pasar narkoba global.

Penggagalan penyelundupan Sabu seberat 2 ton yang dilakukan BNN bersama TNI AL dan Bea Cukai, menunjukkan pertumbuhan yang eksponensial dalam produksi dan perdagangan sabu di Kawasan Golden Triangle.

Hal ini telah mencapai tingkat yang berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir.

Di sinilah Dewi Astutik diduga bermain dan mengendalikan peredaran Narkoba dari tempat persembunyiannya.

Ia diduga kuat menjadi dalang di balik pengiriman lebih dari 4 ton sabu dan kokain dari kawasan Asia Tenggara ke Indonesia.

Baca Juga: MK Putuskan Sekolah SD-SMP Gratis, DPRD Dorong Pemprov DKI Jakarta Respons dengan Langkah Nyata

Jumlah tersebut dibongkar BNN dalam waktu yang berdekatan. Pertama, BNN menggagalkan peredaran Narkoba yang diangkut Kapal The Aungtoetoe 99, sebanyak 1,2 ton kokain dan 678 kg sabu.

Sepekan kemudian, BNN kembali membongkar sindikat peredaran Narkoba yang dibawa Kapal Sea Dragon Tarawa, sebanyak 2 ton sabu.

Kepala BNN, Komjen Marthinus Hukom mengonfirmasi adanya keterkaitan antara Dewi Astutik dengan dua kapal yang ditangkap secara beruntun tersebut.

“Kami menduga kuat kedua kapal tersebut beroperasi dalam jaringan Dewi Astutik. Jika hasil drug signature yang sedang kami uji menunjukkan kesamaan, maka benang merahnya semakin kuat,” tegas Kepala BNN Komjen Marthinus Hukom saat konferensi pers di Batam, Senin (26/5/2025).

Nama Dewi Astutik pun disebut bersanding dengan gembong kelas kakap lainnya seperti Chan Chai dan Ka Khao, dua pria asal Thailand yang kini juga masuk daftar buronan internasional (DPO Interpol).

Ketiganya diduga menjalin kerja sama erat dalam menyuplai narkoba dari kawasan Golden Triangle menuju wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Jaringan Dewi Astutik dikenal rapi dan beroperasi lewat jalur laut, memanfaatkan pekerja pelayaran dan jalur perairan Kepri sebagai pintu masuk utama.

Baca Juga: Prediksi Skor Kasimpasa vs Goztepe di Super Lig Turki, 31 Mei 2025: Dendam The Apache atas Dua Kekalahan Telak

Komjen Marthinus mengungkapkan, penangkapan kapal pembawa Narkoba 2 ton tersebut, setelah pihaknya melakukan pengintaian terhadap jaringan ini selama lima bulan.

Keterlibatan Dewi diperkuat dengan kesaksian para tersangka dan pola pengiriman yang mirip dengan kasus sebelumnya.

BNN kini tengah memburu Dewi Astutik secara intensif, bekerja sama dengan intelijen regional dan internasional.

“Kami tidak akan berhenti sampai aktor utamanya tertangkap. Dewi Astutik adalah salah satu target utama perang Indonesia melawan narkotika,” tegas Marthinus.

Jika akhirnya terbukti Dewi Astutik sebagai pengendali peredaran Narkoba dalam jumlah ton-tonan, maka ia layak dijuluki Ratu Narkoba Asia Tenggara. (*)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.