Jakarta

Situasi Memanas, Negara-Negara Eropa Desak Warganya Segera Tinggalkan Iran

Aisya Nur Aziza | 15 Januari 2026, 18:40 WIB
Situasi Memanas, Negara-Negara Eropa Desak Warganya Segera Tinggalkan Iran

 


AKURAT JAKARTA – Eskalasi konflik dan gelombang protes anti-pemerintah yang kian meluas di Iran memicu kekhawatiran internasional.

Sejumlah negara besar Eropa, termasuk Italia, Jerman, Polandia, dan Spanyol, secara serentak mengeluarkan imbauan darurat bagi warga negara mereka untuk segera meninggalkan Iran demi alasan keamanan, Rabu (14/1/2026).

Jerman menjadi salah satu negara yang paling tegas dalam peringatannya.

Kedutaan Besar Jerman di Teheran mendesak warganya untuk segera keluar dari wilayah Iran karena adanya ancaman nyata terkait penegakan hukum di sana.

Baca Juga: Pasar Modal Cetak Rekor, Rupiah Parkir di Level Rp16.865 per Dolar AS

"Ada risiko penangkapan sewenang-wenang," tulis pernyataan resmi Kedutaan Jerman.

Tak hanya itu, Jerman juga melarang keras warganya melakukan perjalanan ke Iran dalam waktu dekat.

Serupa dengan Jerman, Italia juga mencatat ada sekitar 600 warganya saat ini berada di Iran, dan mayoritas menetap di Teheran.

Kementerian Luar Negeri Italia menegaskan kembali perintah evakuasi mandiri ini agar warganya terhindar dari situasi yang tidak terkendali.

Baca Juga: Alasan Keamanan Nasional, Trump Terobsesi Rebut Greenland dari Denmark

Bahkan Kementerian Luar Negeri Spanyol turut menyoroti bahwa kondisi di Iran dan kawasan sekitarnya kini berada dalam status "sangat tidak stabil".

Mereka meminta warga Spanyol memanfaatkan sarana transportasi yang masih tersedia untuk segera keluar.

Sementara itu, Polandia merilis peringatan melalui platform X, meminta warganya untuk membatalkan seluruh rencana perjalanan ke Iran.

Adapun sebelumnya, ketidakstabilan ini dipicu oleh gelombang demonstrasi besar yang pecah sejak 28 Desember lalu.

Aksi protes yang awalnya dipicu oleh anjloknya nilai tukar mata uang Rial dan krisis ekonomi yang mencekik, kini telah meluas ke berbagai kota besar dan berubah menjadi gerakan anti-pemerintah yang masif. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.