Jakarta

Banjir Bandang Sumar Sebabkan 47 Orang Meninggal, BMKG Sebut Penyebabnya, Ada Lahar Dingin Sisa Erupsi Gunung Marapi

Ainun Kusumaningrum | 14 Mei 2024, 11:15 WIB
Banjir Bandang Sumar Sebabkan 47 Orang Meninggal, BMKG Sebut Penyebabnya, Ada Lahar Dingin Sisa Erupsi Gunung Marapi

AKURAT JAKARTA - Banjir Bandang Sumar Sebabkan 47 Orang Meninggal, BMKG Sebut Penyebabnya, Ada Lahar Dingin Sisa Erupsi Gunung Marapi.

Basarnas Padang menacatat, jumlah korban bencana Hingga Senin (13/5/2024) malam pukul 21.00 WIB, tercatat 47 orang meninggal dunia.

Tiga di antaranya belum teridentifikasi. Korban terbanyak di Kabupaten Tanah Datar tercatat ada 23 orang.

Baca Juga: Konser Padi Reborn di GOR Satria Purwokerto, Simak Waktunya di Sini Jangan Sampai Dilewatkan

Kabupaten Agam 20 orang. Sedangkan Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang Panjang masing-masing dua orang.

"Yang belum teridentifikasi ada tiga orang. Satu dari Tanah Datar sekarang di RSUD Batu Sangkar," kata Kepala Basarnas Padang, Abdul Malik.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, korban hilang banjir lahar dingin Gunung Marapi kemungkinan bertambah.

Baca Juga: Berikut Amalan Doa Pelunas Utang Dibaca Habis Sholat, Penting Jangan Sampai Ada Niat Kabur

"Sebab tim SAR menemukan korban lain yang tidak masuk dalam daftar hilang itu," ucapnya.

Penyebab Banjir Bandang

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, pemicu utama utama banjir bandang bercampur lahar gunung adalah hujan deras.

Hujan berlangsung mulai dari sore hingga malam di atas 150/200 mm sehingga banjir bandang diikuti oleh lahar," ujar Dwikorita.

Akibatnya, banjir bandang lahar dingin itu menejang beberapa kabupaten di Sumbar. Seperti, Kabupaten Agam, Tanah Datar, dan Kota Padang Panjang.

Kemudian, Dwikorita menjelaskan, lahar itu merupakan material sisa erupsi Gunung Marapi yang masih mengendap di lereng bagian puncak. Kemudian, terbawa air akibat derasnya hujan.

"Jadi bukan saat itu Gunung Marapi erupsi tapi karena memang hujannya sangat deras.

Bahkan masih akan berlangsung hingga tanggal 22 Mei 2024 atau setidaknya dalam tiga hari ke depan," kata Dwikorita.

Hujan deras di daerah tersebut berdurasi panjang. Potensi hujan yang demikian itu teramati dapat berlangsung secara lebih intensif.

"Oleh karena ada fenomena Sirkulasi Sinklonik. Atau pembentukan awan dan belokan angin lokal," kata Dwikorita seperti dilansir Antara.

Berdasarkan analisa BMKG pada 8 Mei 2024, Dwikorita mengatakan, sudah ditemukan potensi hujan intensitas sedang. Hingga, sangat deras di wilayah Sumbar.

"Tim meteorologi BMKG pada hari yang sama langsung menerbitkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem. Cuaca itu dapat berujung bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan lainnya di Sumbar," ucap Dwikorita.

Dalam peringatan dini tersebut, Dwikorita menegaskan, masyarakat Sumbar di daerah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaanya.

Seperti, masyarakat di pesisir pantai, pegunungan, hingga perbukitan. (*)


​

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.