Jakarta

Ajarkan Tobat Ekologis Sejak Dini, Kemenag Terapkan Kurikulum Cinta di Madrasah

Yusuf Doank | 12 Oktober 2026, 17:56 WIB
Ajarkan Tobat Ekologis Sejak Dini, Kemenag Terapkan Kurikulum Cinta di Madrasah
Menang Nasaruddin Umar

AKURAT JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) merancang kurikulum baru bernuansa ekoteologi yang dinamakan Kurikulum Cinta.

Kurikulum ini digagas untuk menanamkan kesadaran serta kepedulian merawat lingkungan hidup kepada para peserta didik sejak usia dini.

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menjelaskan, dalam satu tahun terakhir kurikulum ini dirancang untuk membangun relasi interaktif yang seimbang antara Tuhan, manusia, dan alam semesta.

Baca Juga: MRT Jakarta Bakal Tembus Tangsel, Gubernur Pramono Ungkap Ini Syaratnya

Hal tersebut disampaikan Menag dalam acara "Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata" di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (12/10/2026).

"Kini muncul kesadaran baru di kalangan pelajar untuk memperlakukan makhluk hidup lain dengan penuh kasih sayang," ujar Menag Nasaruddin di hadapan 650 siswa jenjang SD, SMP, hingga SMA/sederajat dari seluruh Indonesia.

Menag memaparkan, hasil evaluasi penerapan kurikulum yang melibatkan ratusan pengawas madrasah dan pondok pesantren menunjukkan dampak positif yang signifikan di tengah masyarakat. Karakter peserta didik mulai terbangun untuk mengasihi sesama makhluk hidup.

Nasaruddin mencontohkan adanya siswa sekolah dasar yang kini enggan membunuh nyamuk karena empati, hingga anak-anak yang sukarela merawat hewan peliharaan tetangga saat ditinggal mudik.

"Muncullah kesadaran 'Tat Tvam Asi'—engkau adalah aku, aku adalah engkau. Bukan hanya antarmanusia, tetapi juga kepada tumbuh-tumbuhan dan binatang," tuturnya.

Melalui Kurikulum Cinta, Kemenag berupaya mengubah cara pandang generasi muda agar tidak lagi memandang alam semata-mata sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra hidup yang harus dijaga keberlanjutannya.

Langkah ini sekaligus mendukung program strategis Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Lebih jauh, Menag mengungkapkan bahwa kemajuan sains modern serta teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) saat ini justru makin memperkuat kearifan lokal dalam memperlakukan alam semesta.

Sains modern membuktikan bahwa alam memiliki sistem kehidupan dan komunikasinya sendiri, sebagaimana diulas dalam berbagai literatur internasional, salah satunya karya Karen Armstrong berjudul The Sacred Nature.

"Teknologi AI kini mampu melipatgandakan hingga 20.000 kali getaran suara dari tumbuh-tumbuhan, dan ternyata suara dedaunan itu bertasbih. Jadi mari kita kembali bersahabat dengan alam. Jangan jadikan alam hanya sebagai objek, melainkan partner dalam mendukung kesejahteraan hidup kita bersama," pungkas Menag Nasaruddin Umar.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y