Jakarta

Kecelakaan Maut di Situbondo Tewaskan 54 Orang, Melibatkan Bus dan 2 Truk, Mengenang Tragedi Paiton 21 Tahun Silam

Ainun Kusumaningrum | 8 Oktober 2024, 13:05 WIB
Kecelakaan Maut di Situbondo Tewaskan 54 Orang, Melibatkan Bus dan 2 Truk, Mengenang Tragedi Paiton 21 Tahun Silam

AKURAT JAKARTA - Kecelakaan Maut di Situbondo Tewaskan 54 Orang, Melibatkan Bus dan 2 Truk, Mengenang Tragedi Paiton 21 Tahun Silam

Hari ini 21 tahun silam, Tragedi Paiton 8 Oktober 2003 tercatat sebagai salah satu kecelakaan darat paling mematikan dalam sejarah transportasi Indonesia.

Kecelakaan tersebut mengakibatkan 54 nyawa melayang. Korban mayoritas siswa-siswi SMK Yapemda Sleman, Yogyakarta, yang baru wisata dari Bali.

Baca Juga: Pelatih Bahrain Ketar-ketir dengan Pertahanan Timnas Indonesia: Bilang Begini soal Pemain Diaspora

Jumlah korban yang meninggal pada kejadian ini 54 orang, terdiri dari 51 siswa dan siswi, dua guru dan satu pemandu wisata.

Sementara korban luka satu orang Budi kernet bus dengan luka bakar cukup parah, yang berhasil memecah kaca pintu depan sebelum api menyebar.

Sementara Arwan, supir bus selamat setelah berhasil meloncat dari bus sesaat setelah tabrakan terjadi.

Baca Juga: Kecelakaan Maut di Jalan S Parman Slipi Jakarta Barat, Pemotor Tewas Tabrak Pohon dan Pembatas Jalan

Kronologi kisah tragis tersebut, dilansir dari berbagai sumber, bermula ketika rombongan yang terdiri dari tiga bus sedang dalam perjalanan pulang menuju Yogyakarta.

Bus membawa ratusan siswa kelas dua SMK Yayasan Pembina Generasi Muda (Yapemda) setelah perjalanan study tour dari Bali. Mereka menumpang tiga bus armada AO Transport yang melaju beriringan.

Ketiga bus diberi nomor 1, 2 dan 3 untuk menandai rombongan dan berangkat tak lama usai adzan Isya.

Baca Juga: Anggota DPRD dari Golkar Alia Noorayu Laksono Berharap Pimpinan Bisa Tingkatkan Sinergi Legislatif dan Eksekutif

Tragedi bermula saat bus melewati sebuah tanjakan di tikungan Jalan Raya Surabaya-Banyuwangi, kawasan Banyu Blugur, Situbondo, Jawa Timur.

Sebuah truk kontainer tiba-tiba memotong jalur dan tidak mengindahkan marka jalan pembatas. Sementara di sisi berlawanan, ketiga bus rombongan siswa Yapemda sedang menyalip kendaraan di depannya.

Bus 1 dan 3 berhasil menyalip masuk kembali ke jalur. Nahas, bus 2 tidak berhasil menyalip dan langsung ditabrak truk kontainer.

Tidak hanya itu, tiba tiba saja truk jenis colt diesel dari arah belakang juga menghantam bagian belakang bus nahas tersebut.

Seketika Bus itu terjepit oleh kedua truk dan tidak berselang lama usai ditabrak, api tiba-tiba berkobar di bagian depan bus.

Kebakaran dipicu oleh tangki bahan bakar truk bernomor polisi L 8493 F yang pecah dan terpercik api sekering listrik bus.

Sebagian lagi menyebut api tersulut akibat gesekan antar badan truk dan bus sehingga menghasilkan percikan api yang kemudian menyebar.

Api kian membesar karena tanki bahan bakar truk bocor. Saat kebakaran terjadi, para siswa di dalam bus saat itu masih sadar dan selamat.
Mereka panik berlarian ke arah belakang bus yang belum dilalap api sambil berteriak meminta tolong.

Sementara itu api terus membesar dan mulai membakar bagian depan bus dan merambat ke belakang. Siswa dan guru pendamping berangsur mundur menghindari api di hadapan mereka.

Mereka mencoba keluar dari satu satunya akses yang tersisa, yakni pintu belakang bus. Namun, pintu itu ternyata tak bisa terbuka lantaran macet akibat tertabrak truk dari arah belakang.

Siswa di dalam terus berteriak meminta pertolongan. Kondisi mereka terus terhimpit api yang kian mendekat dan membakar satu persatu kursi dan tas yang mereka kenakan.

Asesori di dalam bus seperti karpet, busa pengisi kursi dan benda benda mudah terbakar lainnya membuat api semakin membesar.

Para siswa dan guru yang panik terus meminta tolong dan memukul mukul kaca bus dari dalam. Sayangnya, lokasi kecelakaan saat itu terbilang sepi.

Rumah rumah warga pun paling dekat jaraknya sekitar 500 meter dari lokasi kejadian.

Selain itu, tidak ada alat pemecah kaca jendela yang tersedia di dalam bus, sehingga mereka tidak bisa keluar melalui kaca bus yang cukup tebal.

Akhirnya para korban tebakar di dalam bus. Kebakaran berlangsung cepat karena barang-barang mudah terbakar di dalam bus dan bensin yang bocor akibat tabrakan.

Lokasi kejadian mengenaskan ini berada tak jauh dari Pintu PLTU Paiton. Sejak saat itu, kejadian tersebut dinamakan "Tragedi Paiton".

Bahkan perangkat desa setempat mengimbau setiap pengendara yang melintas di kawasan Tragedi Paiton agar mengklakson, berdoa dan berselawat.

Sejak kejadian itu, jalan tersebut diklaim angker hingga warga setempat juga menggelar rokat atau selamatan. Tujuannya, mendoakan para korban dan menghilangkan bala. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.