Jakarta

Hadiri Asian Universities Forum 2026, Rektor UI Dorong Kolaborasi Perguruan Tinggi Berbasis Kebutuhan Lokal

Yusuf Doank | 7 November 2026, 17:24 WIB
Hadiri Asian Universities Forum 2026, Rektor UI Dorong Kolaborasi Perguruan Tinggi Berbasis Kebutuhan Lokal
Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof. Heri Hermansyah, dalam ajang Asian Universities Forum 2026 yang berlangsung di Seoul National University, Korea Selatan, Rabu (4/11/2026).

AKURAT JAKARTA — Keunggulan sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah, pemeringkatan, dan kualitas lulusan, tetapi juga dari kemampuannya menjawab persoalan masyarakat serta menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

Gagasan tersebut disampaikan Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof. Heri Hermansyah, dalam ajang Asian Universities Forum 2026 yang berlangsung di Seoul National University, Korea Selatan, Rabu (4/11/2026).

Dalam sesi bertajuk "Universities and Society: Expanding Opportunity and Impact", Prof. Heri menekankan bahwa inovasi sosial perlu dikembangkan melalui kolaborasi yang menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam merancang solusi.

Baca Juga: Genjot Produktivitas Melalui Program Oplah, Pemkab Tangerang Optimalkan 245 Hektare Lahan Pertanian Non Rawa

Pendekatan ini selaras dengan komitmen UI, yakni "Unggul Impactful", yang mengintegrasikan keunggulan akademik dengan manfaat nyata bagi publik.

"Inovasi sosial merupakan proses kolaboratif untuk mengembangkan cara-cara baru yang relevan dengan kondisi setempat dalam merespons tantangan sosial. Bagi kami, keunggulan akademik dan dampak sosial harus berjalan beriringan," ujar Prof. Heri.

Capaian dan Rekam Jejak Program Pengabdian

Prof. Heri memaparkan bahwa sepanjang 2025, program pengabdian kepada masyarakat UI telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia melalui 256 program yang melibatkan 1.969 mahasiswa dan memberikan manfaat kepada 68.670 penerima.

Namun, ia menegaskan keberhasilan program tidak sekadar dilihat dari angka, melainkan dari perubahan nyata di lapangan.

Sejumlah program berbasis kebutuhan lokal yang diusung UI antara lain:

Papua Barat: Perbaikan infrastruktur jembatan rusak untuk memulihkan mobilitas dan distribusi barang warga.

Bener Meriah (Sumatera): Integrasi keahlian medis, psikososial, dan teknik untuk penanganan bencana. Program ini melayani kesehatan 181 warga, menyediaka dua unit Starlink untuk akses komunikasi, serta dua pompa air bertenaga surya.

Penguatan Kepemimpinan Lokal: Program Village Heads on Campus yang membekali 868 kepala desa terkait tata kelola data dan pembangunan akuntabel.

Pemberdayaan Ekonomi: Kolaborasi dengan PT KAI membina perajin batik di Tegal, Jawa Tengah, serta program Ekspedisi Patriot yang menerjunkan 200 personel ke Papua, Kalimantan, dan Sumatera.

Tiga Pilar Pengukuran Dampak Sosial

Di tingkat internasional, UI juga menggalang kerja sama lintas kampus, salah satunya kolaborasi bersama Universiti Kuala Lumpur Business School dan Universiti Sultan Zainal Abidin di Bantargebang, Bekasi, yang membina 55 pelaku UMKM berbasis teknologi digital.

Untuk memastikan keberlanjutan program, Prof. Heri mengusulkan tiga aspek utama pengukuran dampak sosial:

Akses: Kemampuan masyarakat memanfaatkan layanan, infrastruktur, dan peluang ekonomi.

Kapasitas: Tingkat kemandirian masyarakat dan mitra lokal dalam menerapkan pengetahuan.

Keberlanjutan: Kemampuan menjaga solusi setelah pendampingan universitas selesai.

"Jika kita mampu memadukan keunggulan akademik, inovasi sosial, dan kemitraan sejati, kita dapat menciptakan dampak yang bertahan melampaui satu proyek atau satu institusi," pungkas Heri.

DIA mengajak Seoul National University dan perguruan tinggi se-Asia untuk memperluas kolaborasi riset dan pengabdian masyarakat.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y