Revolusi Karakter, Menag Nasaruddin Umar Dorong Lembaga Pendidikan Adopsi Kurikulum Cinta

AKURAT JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh institusi pendidikan di Indonesia untuk mulai mengintegrasikan pendekatan ekoteologi melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Inisiatif ini dipandang sebagai solusi jitu dalam membangun ekosistem sosial yang tangguh sekaligus menjaga kelestarian alam.
Menag menegaskan bahwa cinta harus menjadi fondasi utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa, melampaui pendekatan formalitas semata.
Nasaruddin mengungkapkan kekagumannya atas testimoni yang diberikan oleh sekitar 305 ribu guru agama di seluruh Indonesia yang telah menguji coba kurikulum ini. Hasilnya, terjadi pergeseran perilaku yang signifikan pada peserta didik.
"Saya merinding mendengar cerita para guru dari Sabang sampai Merauke. Sejak Kurikulum Cinta diterapkan, anak-anak kita mulai menyayangi binatang dan tumbuh-tumbuhan. Selama ini alam seringkali hanya dianggap sebagai objek, namun sekarang mereka memperlakukannya dengan kasih sayang," ujar Nasaruddin saat acara Jalan Santai Kerukunan di Katedral Jakarta, Sabtu (9/5),
Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar teori, melainkan instrumen pembentukan karakter yang berfokus pada lima pilar utama, atau yang disebut sebagai Panca Cinta:
Cinta kepada Tuhan dan Rasul: Memperkuat sisi spiritualitas.
Cinta Diri dan Sesama: Membangun empati dan penghargaan antarmanusia.
Cinta Alam Lingkungan: Menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini.
Cinta Ilmu: Mendorong haus akan pengetahuan.
Cinta Tanah Air: Menanamkan jiwa patriotisme yang tulus.
Selama satu tahun masa uji coba, Kemenag mencatat perubahan atmosfer belajar yang drastis. Ruang kelas yang semula kaku kini bertransformasi menjadi "taman belajar" yang membahagiakan.
"Kita ingin menciptakan lingkungan sekolah yang mampu memerdekakan jiwa anak-anak. Jika cinta sudah menjadi basisnya, maka pendidikan bukan lagi beban, melainkan proses yang membahagiakan," tambah Menag.
Kementerian Agama berharap kesuksesan KBC ini bisa menjadi model bagi dunia internasional bahwa Indonesia memiliki metode unik dalam mencetak generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga lembut secara hati.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Kepulauan Faroe vs Kazakhstan di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Punya Modal Kandang Kuat
- 2Prediksi Skor Islandia vs Estonia di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Incar Awal Positif
- 3Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di UNL, 25 September 2026: Dapatkah Khvicha Kvaratskhelia Menjadi Pembeda?
- 4Prediksi Skor Armenia vs Latvia di UNL, 25 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Tanpa Kemenangan?
- 5Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UNL, 27 September 2026: Duel Seru di Kaunas!
- 6Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di UNL, 26 September 2026: Mampukah The Brave Falcons Lanjutkan Tren Positif?
- 7Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg di UNL, 26 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Amankan Kemenangan Perdana?
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di UNL, 27 September 2026: Mampukah The Falcons Raih Kemenangan di Kandang Sendiri?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!



