Jakarta

Pasca-Longsor 2018, Luas Gunung Anak Krakatau Kini Capai 341,5 Hektare

Yusuf Doank | 26 September 2026, 06:45 WIB
Pasca-Longsor 2018, Luas Gunung Anak Krakatau Kini Capai 341,5 Hektare
Ilustrasi, daratan baru gunung anak krakatau - Magnific

AKURAT JAKARTA – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mencatat total luas daratan Gunung Anak Krakatau telah mencapai 341,5 hektare per pertengahan September 2026.

Ukuran ini melampaui luas tubuh gunung api tersebut sebelum mengalami erupsi dan kolaps pada Desember 2018 silam.

Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menguraikan bahwa penambahan luasan daratan tersebut terpantau melalui citra Satelit Sentinel per 15 September 2026.

Baca Juga: Sinyal Ponsel Wartawan Hilang di Anak Krakatau Terlacak di Pulau Sebesi

Sebelum bencana keruntuhan pada 22 Desember 2018, luas Anak Krakatau tercatat 300 hektare.

"Bencana keruntuhan sektor barat daya tersebut sempat memangkas drastis daratan gunung menjadi tersisa 246,18 hektare per 26 Desember 2018," ujar Rita dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026) malam.

Namun, akumulasi material dari aktivitas erupsi yang berkelanjutan membuat daratan gunung kembali membesar.

Data PVMBG menunjukkan per 8 Agustus 2026 luas daratan kembali menyentuh 312,3 hektare. Penambahan endapan material dari fase letusan pada 4–6 September 2026 seluas 32,8 hektare kemudian menggenapkan total area gunung menjadi 341,5 hektare.

Pertumbuhan masif ukuran fisik Anak Krakatau sejalan dengan riset kolaboratif antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ITB, University of Birmingham, Penn State University, British Geological Survey, University of Oxford, serta PVMBG.

Riset mengonfirmasi bahwa Gunung Anak Krakatau saat ini tengah berada dalam fase rekonstruksi dan pembangunan kembali (rebuilding phase).

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, menjelaskan bahwa gunung api merupakan sistem geologi dinamis yang berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembentukan kerucut baru.

"Peristiwa runtuhnya sektor barat daya pada 22 Desember 2018 memuntahkan material sekitar 0,116 kilometer kubik ke laut, memangkas ketinggian puncak dari 330 meter menjadi 120 meter, serta memicu tsunami di Selat Sunda," terang Dini.

Hilangnya beban tubuh gunung secara mendadak sempat mengubah mekanisme erupsi dari tipe Strombolian menjadi Surtseyan yang eksplosif akibat interaksi air laut dengan celah kawah. Namun, sepanjang periode 2019 hingga 2026, aktivitas erupsi bertransisi kembali ke tipe Strombolian, lava fountain, serta lelehan lava baru yang konsisten menambah volume daratan.

Meski bertambah luas, tim peneliti BRIN memberikan catatan khusus terkait kestabilan struktur gunung. Pertumbuhan Anak Krakatau tidak berlangsung simetris, di mana sektor barat daya tumbuh di atas lereng kaldera bawah laut yang curam, sedangkan bagian timur laut bertumpu pada dasar laut yang lebih dangkal.

"Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya," pungkas Dini.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y