Jakarta

Rintik Publishing Kenalkan Literasi Eko-Kritis Lewat Buku Anak

Yusuf Doank | 13 Oktober 2026, 19:28 WIB
Rintik Publishing Kenalkan Literasi Eko-Kritis Lewat Buku Anak
Sesi diskusi "Dari Buku Ke Perubahan: Buku Anak, Ecocritical Literacy, dan Aksi Bersama", yang digelar oleh Rintik Publishing (PT GTS Literanesia Adabi) di panggung Children Book Festival, Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta

AKURAT JAKARTA — Di tengah maraknya persoalan lingkungan seperti perubahan iklim, bencana ekologis, hingga krisis sampah, pendampingan terhadap anak menjadi krusial.

Orang tua dan pendidik dituntut mampu menjelaskan realitas krisis lingkungan tanpa memicu ketakutan atau kecemasan berlebihan pada anak.

Isu tersebut mengemuka dalam diskusi panel "Dari Buku Ke Perubahan: Buku Anak, Ecocritical Literacy, dan Aksi Bersama" yang diselenggarakan oleh Rintik Publishing (PT GTS Literanesia Adabi). Acara ini berlangsung di panggung Children Book Festival, Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026, Jakarta International Convention Center (JICC), Senin (5/10/2026).

Baca Juga: Nyala Ainun, Penulis Cilik Tangsel yang Telah Melahirkan 9 Buku dan Sabet Berbagai Penghargaan

Menghadirkan narasumber dari bidang literasi, pendidikan, dan kesehatan mental anak, diskusi ini menyoroti peran buku anak sebagai sarana membangun literasi eko-kritis.

Melalui pendekatan ini, anak diajak memahami akar penyebab kerusakan lingkungan, aspek sosial-ekonomi dan kebijakan, serta dampak pola hubungan manusia dengan alam.

Dalam kesempatan tersebut, Rintik Publishing meluncurkan buku Pulihkan Kembali: Kisah Dua Kota, Satu Sungai, dan Harapan untuk Bumi. Buku ini merupakan adaptasi bahasa Indonesia dari karya Jenny Molendyk Divleli dan Somaye Mohamady berjudul Turn It Around.

Mengangkat cerita dua kota yang dipisahkan sungai, buku ini menggambarkan bagaimana pilihan gaya hidup manusia berdampak langsung pada lingkungan dan sesama.

Editor buku Pulihkan Kembali, Ahliana Afifati Sani, menjelaskan bahwa konsep keterhubungan (interconnectedness) disampaikan melalui narasi teks dan teknik visual dynamic negative space.

"Pergeseran ruang kosong (white space) pada halaman buku menggambarkan dinamika kerusakan dan pemulihan lingkungan. Ketika kedua kota berupaya memulihkan alam, ruang kosong kembali bergerak menyeimbangkan halaman. Ini membantu anak memahami konsep abstrak secara konkret," terang Ahliana.

Dari sudut pandang psikologi, Psikiater Anak dan Remaja, Dr. dr. Fransiska Kaligis, Sp.KJ(K)., memaparkan ancaman eco-anxiety atau kecemasan ekologis pada generasi muda. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang jujur namun adaptif.

"Pembahasan isu lingkungan perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan daya cerna anak. Sampaikan secara jujur tanpa menakut-nakuti, lalu arahkan pada diskusi solutif mengenai aksi nyata yang bisa dilakukan bersama," ujar praktisi yang akrab disapa dr. Cika tersebut.

Sementara itu, Pendiri Sekolah Cinta Anak Indonesia (Sekoci), Ajeng Satiti Ayuningtyas, menggarisbawahi peran keluarga dan komunitas literasi dalam membentuk kebiasaan ramah lingkungan. Menurutnya, edukasi lingkungan paling efektif diberikan melalui keteladanan sehari-hari, seperti memilah sampah dan menghemat energi.

"Komunitas literasi juga menjadi ruang krusial bagi orang tua, khususnya para ibu, untuk saling mendukung dan mengakses informasi agar lebih percaya diri menanamkan nilai kepedulian lingkungan di rumah," tambah Ajeng.

Dipandu oleh moderator Reisya Callista, sesi ini diikuti oleh orang tua, pendidik PAUD dan SD, pustakawan, serta pegiat literasi. Diskusi menegaskan bahwa buku anak dapat menjadi media awal untuk mengenalkan konsep-konsep kompleks seperti keadilan lingkungan (environmental justice) dan literasi eko-kritis (ecocritical literacy).

Aplikasi Konsep "Satu Sungai" dan Teori Perkembangan Anak

Metafora "satu sungai" dalam buku Pulihkan Kembali merefleksikan prinsip dasar ekosistem: pencemaran di hulu akan berdampak hingga ke hilir dan melintasi batas wilayah—baik antar-RT, antarkota, maupun antarnegara.

Pendekatan visual dan naratif ini sejalan dengan teori perkembangan mental Jean Piaget. Anak usia 7–10 tahun umumnya berada pada tahap operasional konkret, di mana mereka lebih mudah memahami hubungan sebab-akibat melalui contoh visual dan cerita nyata dibandingkan penjelasan teoritis yang abstrak. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y