Jakarta

Mengenal Warung Madura Yang Mengancam Gurita Bisnis Minimarket, Lahir Karena Desakan Ekonomi di Kampung Halaman

Mustolih. | 27 April 2024, 19:26 WIB
Mengenal Warung Madura Yang Mengancam Gurita Bisnis Minimarket, Lahir Karena Desakan Ekonomi di Kampung Halaman

AKURAT JAKARTA - Imbauan Kementerian Koperasi dan UMKM kepada Warung Madura untuk tidak beroperasi 24 jam sehari mendapat banyak kritikan dari banyak kalangan.

Alasan yang menjadi dasar Kementerian Koperasi mengeluarkan imbauan pun sangat kental dengan nuansa persaingan bisnis, yakni karena ada banyak pengusaha minimarket yang merasa tersaingi dengan Warung Madura.

Paguyuban Warung Sembako Madura Indonesia dalam siaran pers mencurigai para pengusaha minimarket yang merupakan pemodal besar sedang menggunakan tangan kekuasaan untuk menggusur bisnis Warung Madura.

Baca Juga: Panas! Warung Madura Tantang Minimarket Buka 24 Jam Sehari, Jangan Pakai Tangan Kekuasaan Gusur Usaha Mikro

"Buka saja juga 24 jam sebagaimana warung Madura jika mau?," kata Ketua Paguyuban, Cak Hamied, mengeluarkan tantangan untuk pengusaha minimarket, Sabtu (27/4/2024).

Terlepas dari kecurigaan adanya upaya menghadang usaha Warung Madura, fenomena keberadaan warung kelontong ini memang cukup menarik dikaji.

Moh. Wafiruddaroin dan Shinta Mutiara Rezeky dalam artikel berjudul Dinamika Sosial Budaya Komunitas Pedagang Kelontong Madura di Kecamatan Pamulang Kota Tangerang Selatan yang terbit di Jurnal Muqaddima pada Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (2022) menulis Warung Madura merupakan sebutan lumrah bagi warung kelontong yang digeluti orang-orang Madura di perantauan.

Baca Juga: Nih Daftar Harga Tiket Konser Sheila On 7 di Makassar, Sudah Dijual Simak Syarat dan Ketentuannya di Sini

Namun, penyebutan yang serupa dengan malabelkan nama Madura juga disematkan pada penjual sate, bubur ayam, penjual bebek, bahkan tukang besi.

Madura secara geologis merupakan sebuah Pulau dan berdasarkan klaster adat-budaya merupakan sebuah suku yang memang lebih dikenal luas dan lebih mudah diingat.

Sehingga, nomenklatur Madura lebih cenderung digunakan sebagai label untuk menunjukkan ciri khas tertentu di antara pesaing-pesaing lain dari kelompok maupun etnis yang berbeda.

Baca Juga: Asal-usul Samarinda, Kota Pertama Tujuan Konser Sheila on 7, Berstatus Ibu Kota Provinsi sejak 1957

Warung Madura dikenal dengan ciri-ciri, memajang etalase berisi beras dan bensin eceran di depan warung; barang-barang yang dijual tertata rapi sesuai dengan jenisnya masing-masing; dan beroperasi selama 24 jam sehari.

Meski tidak semua, hampir semua Warung Madura bisa dikenali dengan ciri-ciri tersebut di atas.

Konsep warung yang relatif sama ini tidak lepas dari pengaruh etnisitas.

Baca Juga: Inilah 6 Rekomendasi Sarung Wadimor Terbaik Beserta Harganya, Adem dan Nyaman Dikenakan

Latar belakang suku dan budaya tradisional yang mereka miliki menjadi dasar keseragaman konsep warung sebagai identitas mereka.

Mendirikan Warung Madura bagi orang-orang Madura harus mematuhi aturan tidak tertulis yang sudah disepakati, yakni, minimal berjarak 5 tiang dari Warung Madura yang lebih dulu beroperasi.

Aturan jarak 5 tiang ini setara dengan 250 meter.

Aturan ini menjadi panduan umum dalam mobilitas warung kelontong bagi orang-orang Madura di perantauan, terutama Jakarta dan sekitarnya.

Baca Juga: Susul Suami Sandra Dewi, Kejagung Jebloskan Lagi 3 Tersangka Baru Kasus Korupsi Timah ke Tahanan

Latar belakang orang-orang Madura mendirikan warung kelontong di perantauan karena kebutuhan ekonomi yang tidak menentu di kampung halaman.

Menurut Kuntowijoyo, sulitnya ekonomi ini dipengaruhi oleh faktor iklim dan geologis pulau Madura yang menjadi pendorong migrasi orang Madura.

Huub De Jonge (1989) dalam buku Madura dalam Empat Zaman, mengatakan bahwa kehidupan ekonomi penduduk Madura di tempat asalnya adalah mengandalkan pertanian dan perternakan sebagai mata pencaharian utama.

Baca Juga: Hari Ini 87 Tahun Lalu, Aktivis di Italia, Antonio Gramsci, Meninggal di Penjara akibat Pendarahan Otak, Siapa Dia?

Walaupun tanah di Madura sangat tandus, sebagian besar penduduknya bergantung pada kegiatan agraris untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Faktor inilah yang akhirnya membangun pola pikir orang Madura untuk meningkatkan penghasilan, tanpa semata bergantung pada sektor pertanian.

Salah satu jalan yang mereka tempuh adalah dengan merantau ke daerah lain, antara lain, dengan mendirikan warung kelontong.

Baca Juga: Terungkap, Fakta Anggota Satlantas Polresta Manado Ditemukan Tewas Bunuh Diri di Mampang

Orang Madura yang mengawali membuka usaha warung kelontong adalah warga Sumenep Timur Sekitar 12 tahun lalu di Jakarta Utara.

Dari situ mengilhami orang-orang Madura lain membuka usaha warung kelontong di mana-mana.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.