Jakarta

Dari Panggung Southeast Asia Forum, Rektor UI Tawarkan Model Triple Helix untuk Masa Depan Kolaborasi Indonesia–China

Ainun Kusumaningrum | 18 November 2025, 13:07 WIB
Dari Panggung Southeast Asia Forum, Rektor UI Tawarkan Model Triple Helix untuk Masa Depan Kolaborasi Indonesia–China

AKURAT JAKARTA — Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof. Heri Hermansyah, kembali menegaskan posisi UI sebagai motor kolaborasi inovasi regional saat tampil sebagai pembicara pembuka dalam Southeast Asia Forum 2025 di Guangzhou, Tiongkok, 15–16 November.
‎
‎Dalam forum internasional yang dihadiri ratusan pemimpin akademik, industri, dan pemerintah dari 11 negara Asia Tenggara dan Tiongkok itu, gagasan besar Prof. Heri mengenai kemitraan strategis Indonesia–Tiongkok mencuri perhatian.
‎
‎Melalui paparan berjudul “75th Years Anniversary of Indonesia-China Strengthening Partnership by Strategic Triple Helix Collaborations”, Prof. Heri menekankan bahwa masa depan hubungan kedua negara bergantung pada kemampuan mengintegrasikan kekuatan masing-masing melalui model triple helix.

Baca Juga: Ubah Nama Kampung Tanah Merah Jadi Tanah Harapan, Gubernur Pramono Komitmen Beri Fasilitas Layak
‎
‎Baginya, kolaborasi pemerintah, industri, dan perguruan tinggi bukan sekadar konsep, tetapi arsitektur strategi yang terbukti berhasil mempercepat lompatan teknologi di berbagai negara.
‎
‎“Perjalanan pembangunan Tiongkok memberi banyak pelajaran berharga. Indonesia harus berani mengambil momentum yang sama,” ujarnya.
‎
‎Ia menilai, keunggulan teknologi China—mulai dari manufaktur, 5G, kecerdasan artifisial, kendaraan listrik, hingga energi hijau—dapat memperkuat potensi besar Indonesia yang memiliki populasi muda dan pasar yang terus berkembang.

Baca Juga: Sikapi Demo Buruh Tuntut UMP DKI Naik Jadi Rp 6 Juta, Gubernur Pramono Sebut Masih Dibahas
‎
‎Prof. Heri menyoroti bahwa kerja sama yang berorientasi inovasi tidak akan berjalan tanpa peran universitas. Karena itu, ia menegaskan UI harus menjadi pusat gravitasi riset multidisiplin, pengembangan talenta global, dan produsen rekomendasi kebijakan berbasis sains.
‎
‎“UI tidak hanya membangun jaringan akademik, tetapi membangun ekosistem inovasi yang menyambungkan pengetahuan, teknologi, dan industri,” katanya.
‎
‎Ia mencontohkan keberhasilan model triple helix Tiongkok, termasuk kolaborasi Huawei dan Tsinghua University yang mendapat dukungan penuh pemerintah. Formula ini, menurutnya, dapat menginspirasi desain baru hubungan Indonesia–Tiongkok untuk mempercepat transformasi industri dan meningkatkan daya saing kawasan.
‎
‎Reputasi UI di tingkat internasional juga diperkuat melalui sejumlah kemitraan strategis dengan universitas terkemuka di China. Prof. Heri menyebut upaya tersebut sebagai bagian dari strategi UI untuk memperdalam integrasi akademik, memperluas kolaborasi riset, serta meningkatkan kualitas pembelajaran dan kapasitas sumber daya manusia Indonesia.
‎
‎Pada sesi terpisah, Professor Wu Jian dari SCNU menegaskan pentingnya menjaga momentum kerja sama pendidikan, teknologi, dan pengembangan talenta di kawasan.
‎
‎Forum ini juga meluncurkan biografi Marching Across Boundaries on the Stormy Seas – The Biography of Fadjar Suhendra, yang menyoroti figur industrialis Indonesia dalam sejarah hubungan China–Asia Tenggara. (*)
‎
‎

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.