Jakarta

Sejarah Gencatan Senjata Perang Diponegoro Selama Bulan Ramadhan yang Berakhir Tragis Ketika Lebaran

aditia | 23 Maret 2024, 10:00 WIB
Sejarah Gencatan Senjata Perang Diponegoro Selama Bulan Ramadhan yang Berakhir Tragis Ketika Lebaran

AKURAT.CO - Dalam sejarah dicatat bahwa pada Perang Diponegoro (1825-1830) sempat terjadi gencatan senjata di bulan Ramadhan.

Gencatan senjata antara Pangeran Diponegoro dan Belanda tersebut terjadi pada akhir bulan Februari 1930 hingga bulan Maret 1830.

Pada 21 Februari 1830, empat hari jelang bulan Ramadhan tiba, Pangeran Diponegoro bertemu dengan Cleerens, utusan De Kock (Gubernur Jenderal Hindia Belanda).

Di bulan Februari 1830 itulah awal mula gencatan senjata Perang Diponegoro selama bulan Ramadhan tercatat dalam sejarah.

Baca Juga: Hanya PNS yang menerima, Begini Sejarah Perjuangan Buruh PKI Memperjuangkan THR

Pangeran Diponegoro bersama dengan 800 pengikutnya tinggal di sebuah rumah besar di tepi Kali Progo.

Saat itu masyarakat menyebutnya sebagai daerah Matesih. Meski musuh besar Belanda, rakyat tetap mengelukan nama Diponegoro karena dianggap sebagai Ratu Adil.

Sejumlah 800 pengikut Diponegoro tersebut bersenjatakan tombak yang tampil dalam balutan sorban dan jubah putih.

Setiap pagi selama bulan Ramadhan, Diponegoro dan pasukannya berlatih olah kanuragan sembari menjalankan ibadah puasa.

Baca Juga: Hanya Penanda Persiapan Puasa Dimulai, Begini Sejarah Awal Mula Imsak

Awal bulan Maret 1830, Diponegoro berpesan kepada De Kock melalui Cleerens jika selama bulan puasa, ia tidak akan melakukan pembicaraan apapun soal perang.

Jadi, pertemuan antara Cleerens dengan Pangeran Diponegoro hanya beramah-tamah biasa.

Pesan Diponegoro disambut manis oleh De Kock, ia bahkan memberikan seekor kuda berwarna abu-abu dan uang f10.000.

De Kock bahkan mengizinkan anggota keluarga Diponegoro yang ditawan di Yogyakarta dan Semarang bergabung dengannya di Magelang.

Baca Juga: Sudah Jadi Tradisi Jelang Lebaran, Bagaimana Sejarah Mudik di Indonesia? Berikut Penjelasannya

Ajudan De Kock, Mayor F.V.H.A. de Stuers dan Residen Kedu, Vlack sering bertamu ke pesanggrahan Diponegoro yang berada di Metesih, mereka juga minta diberitahu keperluannya.

Selama gencatan senjata tersebut, banyak masyarakat Kedu yang berkunjung ke pesanggrahan Diponegoro sembari memberikan berbagai makanan, seperti gula jawa.

De Kock tercatat tiga kali bertemu dengan Diponegoro, dua kali ketika jalan subuh di taman karesidenan dan sekali di pesanggrahan.

De Kock sangatlah politis, ia membiarkan Diponegoro menikmati jaminan semuanya sembari berharap ia menyerah tanpa syarat.

Baca Juga: Sering Terjadi Perdebatan, Begini Sejarah Shalat Tarawih 11 dan 23 Rakaat

Sikap manis De Kock selama gencatan senjata di bulan Ramadhan tidak bisa meruntuhkan pendirian Pangeran Diponegoro.

Ia kemudian mendapat kabar dari mata-mata yang disusupkan dalam kesatuan Diponegoro, yakni Tumenggung Mangunkusumo.

De Kock mendapat berita jika Diponegoro menyatakan dirinya sebagai pemimpin dan pengatur agama di seluruh Tanah Jawa.

Baca Juga: Sejarah Sunda Kelapa, Kota Pelabuhan yang Jadi Awal Mula Perkembangan Jakarta

Berangkat dari itu, De Kock kemudian mengambil langkah tegas. Pada 25 Maret 1830, dua hari sebelum bulan Ramadhan berakhir, ia memerintahkan secara rahasia dua komandannya. Mereka adalah Louis du Perron dan A.V Michels.

Dua komandan tersebut diberi tugas untuk mempersiapkan perlengkapan militer guna menangkap Diponegoro.

Gencatan senjata yang berlangsung selama bulan Ramadhan akhir berakhir.

Pangeran Diponegoro ditangkap secara tragis pada hari kedua lebaran, tepatnya pada 28 Maret 1830.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.