Publik Bandingkan Gaya Pramono dan Dedi Mulyadi Tinjau Banjir, Sekretaris Fraksi Golkar Andri Santoso: yang Penting Hasilnya

AKURAT JAKARTA - Gaya para pejabat saat meninjau korban banjir Jabodetabek beberapa hari belakangan ini viral di media sosial dan menjadi perbincangan publik.
Publik membandingkan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam meninjau lokasi banjir menggunakan helikopter dibandingkan dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang terjun langsung ke lapangan.
Berbagai pihak menyebut Gubernur Pramono pun dinilai kurang peka terhadap korban banjir. Harusnya, Pramono terjun langsung ke lapangan.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Andri Santosa mengatakan bahwa cara meninjau lokasi banjir oleh para pejabat tidak perlu dibanding-bandingkan.
Ia menilai, yang lebih penting diperbincangkan ialah hasil dari tinjauan tersebut, apakah berhasil untuk mencari solusi pencegahan banjir atau tidak.
“Hendaknya masalah cara meninjau lokasi banjir untuk tidak dipertajam pembandingannya. Yang ditunggu justru hasil dari tinjauan, mitigasi bencana," kata Andri kepada wartawan, Jumat (14/3/2025).
"Dan apa langkah yang diambil dalam rangka membantu korban bencana juga mencari solusi untuk pencegahan bencana di kemudian hari," imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwaokasi yang ditinjau oleh Pramono tidak hanya lokasi banjir Jakarta, namun juga sampai ke wilayah penyangga di Bekasi dan sekitarnya.
Selain itu, kata Andri, jika tinjauan udara itu bisa mempercepat langkah serta bisa membantu identifikasi titik untuk evakuasi korban serta pemberian bantuan tentunya positif saja.
Baca Juga: Peluncuran QRIS TAP di Stasiun MRT, Pramono: Warga Jakarta Paling Banyak Pakai QRIS
"Namun jika hanya sekedar melihat tentunya perlu juga untuk dikritisi. Dan sejauh ini penanganan oleh Pemprov sudah cepat dan tepat sasaran," tuturnya.
Dalam penjelasannya, Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta itu menyampaikan bahwa penanganan banjir di Jakarta perlu adanya koordinasi dengan wilayah penyangga.
Andri menyebut, istilah banjir kiriman yang punya konotasi negatif sebenarnya adalah karena hulu sungai ada di wilayah penyangga.
Dengan itu, di saat curah hujan di daerah penyangga tinggi maka Jakarta walaupun curah hujan rendah tetap berpotensi dilanda banjir.
"Langkah kongkrit Gubernur dalam membuat kajian untuk menanggulangi banjir Jakarta bersama sama Gubernur Jabar penanganan harus dimulai dari hulu hingga hilir," ucap Andri.
"Koordinasi yang baik antar Pemimpin Daerah sangat diperlukan. Tujuannnya adalah menciptakan rasa nyaman dimasyarakat," pungkasnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Athletic Bilbao vs Getafe di La Liga, 25 Oktober 2026: Mampukah Los Leones Akhiri Tren Negatif?
- 2Prediksi Skor Cagliari vs Bologna di Serie A, 24 Oktober 2026: Siapakah yang Akan Kembali ke Jalur Kemenangan?
- 3Prediksi Skor Atalanta vs Frosinone di Serie A, 25 Oktober 2026: Misi La Dea Menghentikan Kejutan Tim Promosi
- 4Prediksi Skor Genoa vs Venezia di Serie A, 25 Oktober 2026: Mampukah Lagunari Lanjutkan Kejutan?
- 5Prediksi Skor Crystal Palace vs Newcastle United di Premier League, 25 Oktober 2026: Mampukah The Eagles Manfaatkan Kerapuhan Pertahanan The Magpies?
- 6Prediksi Skor Alaves vs Malaga di La Liga, 24 Oktober 2026: Misi Bangkit Tuan Rumah di Tengah Ancaman Zona Bawah
- 7Prediksi Skor Torino vs AC Monza di Serie A, 24 Oktober 2026: Mampukah Il Toro Lanjutkan Tren Positif?
- 8Prediksi Skor Real Sociedad vs Levante di La Liga, 26 Oktober 2026: Mampukah La Real Lanjutkan Tren Kemenangan?
- 9Kekurangan 464 Ribu Guru, CPNS 2027 Buka Peluang bagi Fresh Graduate
- 10Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih


