Buntut Kecelakaan Transjakarta di Koridor 13, Francine PSI Desak Pemprov DKI Benahi Manajemen Sopir

AKURAT JAKARTA – Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Francine Widjojo, mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk segera membenahi sistem manajemen Transjakarta.
Langkah tegas ini diambil menyusul kecelakaan yang melibatkan dua bus Transjakarta di Koridor 13 baru-baru ini.
“Kecelakaan bus Transjakarta belum lama ini sangat disayangkan,” sesal Francine dalam keterangan resminya pada Rabu (25/2/2026).
Baca Juga: 7 Herbal Pilihan agar Tubuh Tetap Sehat dan Bugar Selama Puasa Ramadhan
Berdasarkan temuan sementara, kecelakaan diduga terjadi karena pengemudi berinisial Y kehilangan konsentrasi akibat mengantuk. Bus yang dikendarainya keluar jalur hingga masuk ke lajur berlawanan dan menghantam bus lain.
Insiden kecelakaan yang melibatkan dua bus Transjakarta ini mengakibatkan 24 penumpang mengalami luka ringan akibat guncangan tabrakan.
Francine menegaskan bahwa kejadian ini merupakan pelajaran pahit bagi Pemprov DKI dan manajemen Transjakarta. Ia menekankan pentingnya memastikan kondisi fisik pramudi sebelum bertugas di jalan raya.
“Para sopir tidak boleh mengendarai kendaraan dalam keadaan mengantuk. Transjakarta harus memastikan sopir-sopirnya selalu berada dalam kondisi prima ketika berkendara,” ujar anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta tersebut.
Baca Juga: Kampoeng Ramadhan Minangkabau 2026 di ITC Cempaka Mas, Surga Takjil Khas Minang di Jakarta
Salah satu poin krusial yang disoroti Francine adalah potensi kelelahan fisik akibat lokasi tempat tinggal sopir yang jauh dari depot bus.
"Tidak jarang para sopir tinggal di daerah yang berbeda dengan depot tempat mereka mengambil kendaraan, sehingga mereka sudah lelah sebelum mulai bekerja," ungkapnya.
Sebagai solusi, Francine meminta adanya perbaikan tata kelola manajemen agar penugasan sopir disesuaikan dengan lokasi depot terdekat dari rumah mereka.
Selain itu, aspek waktu kerja, waktu istirahat, dan pengaturan shift harus diawasi ketat demi menjaga kesehatan mental serta fisik pengendara.
Francine juga mempertanyakan fungsi command center Transjakarta. Menurutnya, pengawasan seharusnya bisa lebih maksimal jika memanfaatkan teknologi yang sudah ada pada armada.
Beberapa bus Transjakarta telah dilengkapi dengan alat canggih seperti Advanced Driver Assistance System (ADAS) dan Driver Monitoring System (DMS).
"Peralatan mahal ini dibeli dengan uang pajak masyarakat. Seharusnya alat ini bisa mendeteksi dini sopir yang mengantuk sebelum kecelakaan terjadi,” tegasnya.
Ia mendesak Transjakarta untuk melakukan audit terhadap seluruh armada, termasuk Mikrotrans, guna memastikan perangkat ADAS/DMS berfungsi dengan baik dan terintegrasi dengan pusat komando.
Menutup pernyataannya, Francine meminta Pemprov DKI Jakarta menjamin seluruh korban luka mendapatkan perawatan medis terbaik hingga pulih.
Baca Juga: Waka DPRD DKI Minta Trotoar di Jalan Rasuna Said Diperlebar, Usai 109 Tiang Monorel Dibongkar
Ia berharap perbaikan sistem manajemen segera dilakukan agar keselamatan transportasi publik di Jakarta tetap terjaga.
"Saya minta Pemprov DKI Jakarta memastikan kecelakaan ini tidak terulang lagi di kemudian hari,” pungkasnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





