Jakarta

5 Orang Meninggal Akibat DBD di Jaktim, Kepala Dinkes DKI: Belum Ada Laporan, Kami Akan Cek

Laode Akbar | 15 Oktober 2026, 07:04 WIB
5 Orang Meninggal Akibat DBD di Jaktim, Kepala Dinkes DKI: Belum Ada Laporan, Kami Akan Cek
Ilustrasi - Nyamuk Aedes Aegypti- Magnific

AKURAT JAKARTA – Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta akan mengecek laporan kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) di ibu kota.

Langkah ini dilakukan setelah muncul informasi lima orang meninggal akibat DBD di Jakarta Timur hingga Agustus 2026.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengatakan, pihaknya belum menerima laporan kematian akibat DBD berdasarkan data yang dimiliki dinas tersebut.

Baca Juga: Cegah DBD Makin Luas, Legislator Golkar Farah Savira Minta Kader Jumantik Senior Mulai Lakukan Regenerasi

"Nanti terkait data lengkapnya saya akan cek kembali, tapi sampai dengan hari ini di data kami belum ada laporan tentang kasus DBD yang meninggal," kata Ani di Balai Kota Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Ani menjelaskan, DBD merupakan salah satu penyakit yang terus dipantau melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan kasus sekaligus menentukan langkah pencegahan yang diperlukan.

"Tapi kalau lonjakan kasus DBD sejauh ini masih sesuai dengan pola musiman," tuturnya.

Menurut Ani, jumlah kasus DBD dapat mengalami kenaikan dan penurunan mengikuti kondisi iklim dan cuaca.

Karena itu, perkembangan kasus terus dibandingkan dengan periode sebelumnya untuk mengetahui apakah peningkatannya masih dalam batas yang terkendali.

"Jadi DBD itu memang akan naik turun sesuai dengan iklim, sesuai dengan cuaca, jadi ada polanya," kata Ani.

Ia menambahkan, Dinkes DKI tidak hanya memantau jumlah kasus, tetapi juga membandingkan kenaikan kasus dengan bulan sebelumnya dan kondisi pada tahun lalu.

"Apabila pola naik turunnya masih sesuai dengan musiman-nya atau kita bandingkan kenaikan dengan bulan lalu, kenaikan dengan kondisi tahun lalu, apabila semuanya masih dalam status terkendali, maka biasanya kami akan lakukan pencegahan," jelasnya.

Adapun langkah pencegahan yang dilakukan, kata Ani, meliputi pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan edukasi yang lebih masif kepada masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan untuk menekan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, yang menularkan virus dengue penyebab DBD.

Sebelumnya, sebanyak lima orang meninggal dunia akibat infeksi demam berdarah dengue (DBD) di Jakarta Timur sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Lima kematian tersebut tercatat di empat kecamatan, yakni dua kasus di Pulogadung serta masing-masing satu kasus di Cakung, Ciracas, dan Matraman.

"Tren peningkatan kasus DBD biasanya terjadi ketika memasuki peralihan musim kemarau menuju musim penghujan," kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Arief Wahyudhy di Jakarta, Rabu (7/10/2026). (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

L
Reporter
Laode Akbar
Y