Jakarta

Curhat ke AI Lebih Nyaman? Ini Risiko Tersembunyi bagi Gen Z

Anggerhana Denni Rahmawati | 13 Februari 2026, 20:45 WIB
Curhat ke AI Lebih Nyaman? Ini Risiko Tersembunyi bagi Gen Z

AKURAT JAKARTA - Tren Gen Z lebih pilih curhat ke AI tampak dari meningkatnya penggunaan aplikasi pendamping berbasis kecerdasan buatan.

Sejumlah survei terbaru menunjukkan banyak anak muda menjadikan chatbot sebagai tempat bercerita tentang masalah pribadi, mulai dari urusan sekolah, karier, hingga percintaan.

Dalam studi sepanjang 2024, sekitar 40% pengguna bahkan mengaku merasa berada dalam hubungan romantis dengan chatbot yang mereka pakai setiap hari.

Baca Juga: 7 Trik Simpan Cabai agar Awet dan Tetap Pedas yang Perlu Diketahui

Namun, para ahli mengingatkan bahwa kedekatan itu sebenarnya bersifat semu.

Chatbot hanyalah sistem algoritma yang dirancang untuk meniru percakapan manusia, bukan makhluk dengan kesadaran atau perasaan.

“Sekarang banyak chatbot AI berpura-pura menjadi manusia dan itu mengganggu saya. Itu strategi untuk meningkatkan keterlibatan dan kepercayaan pengguna,” ujar Renwen Zhang, asisten profesor komunikasi dan media baru di National University of Singapore, dikutip dalam BBC, Jumat (13/2/2026).

Baca Juga: Jangan Kebanyakan! 6 Risiko Tersembunyi dari Mentimun

Penelitian Renwen terhadap lebih dari 10.000 percakapan pengguna AI menemukan bahwa banyak orang membangun keterikatan emosional yang kuat.

Kamu mungkin merasa dipahami karena responsnya cepat dan empatik.

Tetapi, sistem itu tetap mesin.

Baca Juga: Jangan Asal Taruh Kulkas! Inilah 7 Cara Simpan Tahu Putih agar Tahan Lama

Saat server bermasalah atau chatbot berhenti merespons, ilusi kedekatan tersebut langsung runtuh.

Renwen menegaskan kembali, “AI tidak punya pengalaman dan perasaan seperti manusia.”

Secara ilmiah, cinta pada manusia melibatkan proses biologis yang rumit.

Baca Juga: Bukan Sekadar Barongsai, PIK Sulap Imlek Jadi Festival Terbesar Tepi Laut

Perasaan tertarik muncul dari kerja zat kimia otak seperti dopamin yang memicu rasa senang, serta oksitosin yang membantu membangun ikatan jangka panjang.

Semua itu tidak dimiliki AI.

Berbeda dari manusia, kecerdasan buatan hanya membaca pola data dan menyusun kalimat paling relevan.

Baca Juga: Liburan Batal Mendadak? Begini Cara Refund Tiket Kereta Api Tanpa Ribet

Ia bisa memahami konteks emosi, tetapi tidak benar-benar merasakan apa pun.

Artinya, hubungan yang kamu rasakan dengan AI pada dasarnya satu arah.

Meski begitu, banyak pengguna tetap merasa nyaman.

Baca Juga: Waspadai Makanan Minyak Berlebih, Ancaman Tersembunyi bagi Metabolisme dan Asam Urat

Mereka bisa bercerita tanpa takut dihakimi atau ditolak.

Sayangnya, para pakar menilai kebiasaan ini berisiko membuat kemampuan sosial di dunia nyata menurun.

“Orang bisa sementara waktu lari dari rumitnya hubungan manusia dan merasa nyaman dengan AI. Tetapi dalam jangka panjang itu tidak membantu mengembangkan kemampuan komunikasi dan menjaga hubungan nyata,” ujarnya.

Baca Juga: Biji Mahoni, Herbal Pahit dengan Potensi Manis bagi Kesehatan

Perdebatan lain muncul soal kemungkinan AI memiliki kesadaran di masa depan.

University of California, Irvine melalui salah satu profesornya, Donald Hoffman, menilai teknologi saat ini masih jauh dari tahap tersebut.

“Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana menciptakan pengalaman sadar dari AI. Kita bahkan tidak tahu harus mulai dari mana,” katanya.

Baca Juga: Akar Alang-Alang, Herbal Tradisional untuk Dukung Kesehatan Saluran Kemih

Fenomena ini pada akhirnya menunjukkan satu hal: kamu butuh didengar dan dipahami.

Namun, cinta dan empati sejati tetaplah pengalaman manusia yang belum bisa digantikan mesin. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.