Curhat ke AI Lebih Nyaman? Ini Risiko Tersembunyi bagi Gen Z

AKURAT JAKARTA - Tren Gen Z lebih pilih curhat ke AI tampak dari meningkatnya penggunaan aplikasi pendamping berbasis kecerdasan buatan.
Sejumlah survei terbaru menunjukkan banyak anak muda menjadikan chatbot sebagai tempat bercerita tentang masalah pribadi, mulai dari urusan sekolah, karier, hingga percintaan.
Dalam studi sepanjang 2024, sekitar 40% pengguna bahkan mengaku merasa berada dalam hubungan romantis dengan chatbot yang mereka pakai setiap hari.
Baca Juga: 7 Trik Simpan Cabai agar Awet dan Tetap Pedas yang Perlu Diketahui
Namun, para ahli mengingatkan bahwa kedekatan itu sebenarnya bersifat semu.
Chatbot hanyalah sistem algoritma yang dirancang untuk meniru percakapan manusia, bukan makhluk dengan kesadaran atau perasaan.
“Sekarang banyak chatbot AI berpura-pura menjadi manusia dan itu mengganggu saya. Itu strategi untuk meningkatkan keterlibatan dan kepercayaan pengguna,” ujar Renwen Zhang, asisten profesor komunikasi dan media baru di National University of Singapore, dikutip dalam BBC, Jumat (13/2/2026).
Baca Juga: Jangan Kebanyakan! 6 Risiko Tersembunyi dari Mentimun
Penelitian Renwen terhadap lebih dari 10.000 percakapan pengguna AI menemukan bahwa banyak orang membangun keterikatan emosional yang kuat.
Kamu mungkin merasa dipahami karena responsnya cepat dan empatik.
Tetapi, sistem itu tetap mesin.
Baca Juga: Jangan Asal Taruh Kulkas! Inilah 7 Cara Simpan Tahu Putih agar Tahan Lama
Saat server bermasalah atau chatbot berhenti merespons, ilusi kedekatan tersebut langsung runtuh.
Renwen menegaskan kembali, “AI tidak punya pengalaman dan perasaan seperti manusia.”
Secara ilmiah, cinta pada manusia melibatkan proses biologis yang rumit.
Baca Juga: Bukan Sekadar Barongsai, PIK Sulap Imlek Jadi Festival Terbesar Tepi Laut
Perasaan tertarik muncul dari kerja zat kimia otak seperti dopamin yang memicu rasa senang, serta oksitosin yang membantu membangun ikatan jangka panjang.
Semua itu tidak dimiliki AI.
Berbeda dari manusia, kecerdasan buatan hanya membaca pola data dan menyusun kalimat paling relevan.
Baca Juga: Liburan Batal Mendadak? Begini Cara Refund Tiket Kereta Api Tanpa Ribet
Ia bisa memahami konteks emosi, tetapi tidak benar-benar merasakan apa pun.
Artinya, hubungan yang kamu rasakan dengan AI pada dasarnya satu arah.
Meski begitu, banyak pengguna tetap merasa nyaman.
Baca Juga: Waspadai Makanan Minyak Berlebih, Ancaman Tersembunyi bagi Metabolisme dan Asam Urat
Mereka bisa bercerita tanpa takut dihakimi atau ditolak.
Sayangnya, para pakar menilai kebiasaan ini berisiko membuat kemampuan sosial di dunia nyata menurun.
“Orang bisa sementara waktu lari dari rumitnya hubungan manusia dan merasa nyaman dengan AI. Tetapi dalam jangka panjang itu tidak membantu mengembangkan kemampuan komunikasi dan menjaga hubungan nyata,” ujarnya.
Baca Juga: Biji Mahoni, Herbal Pahit dengan Potensi Manis bagi Kesehatan
Perdebatan lain muncul soal kemungkinan AI memiliki kesadaran di masa depan.
University of California, Irvine melalui salah satu profesornya, Donald Hoffman, menilai teknologi saat ini masih jauh dari tahap tersebut.
“Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana menciptakan pengalaman sadar dari AI. Kita bahkan tidak tahu harus mulai dari mana,” katanya.
Baca Juga: Akar Alang-Alang, Herbal Tradisional untuk Dukung Kesehatan Saluran Kemih
Fenomena ini pada akhirnya menunjukkan satu hal: kamu butuh didengar dan dipahami.
Namun, cinta dan empati sejati tetaplah pengalaman manusia yang belum bisa digantikan mesin. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Mutasi Besar-Besaran Polda Metro Jaya: Kasat Reskrim, Kasat Lantas, hingga Belasan Kapolsek Resmi Diganti, Ini Daftarnya!
- 2Terbukti Terbitkan Polis Tanpa Izin, AIA Financial Dihukum Bayar Rp 15 Miliar Kepada Nasabah
- 3Truk Molen Rem Blong Tabrak Kerumunan di Bekasi: 6 Tewas, 6 Luka-luka, Ini Daftar Nama Korban
- 4Disdik DKI Minta Maaf Pencairan KJMU Tahap II 2026 Mundur, Kapan Jadinya? Cek di Sini!
- 5Sudaryono Kembali Diusung Jadi Ketua Umum APPSI, Munas Digelar November 2026
- 6Peresmian Kampung Al-Qur'an di Mauk: Bupati Maesyal Harapkan Generasi Muda Tangerang Berakhlak Mulia Siap Hadapi Tantangan Zaman
- 7Munas X HWK 2026 Mulai Digelar, Bahas Penguatan Peran Politik Perempuan di Era Perkembangan Digital dan AI
- 8Klasemen Rookie Moto3 2026: Veda Ega Raih Posisi Kedua Setelah Sabet Runner-up di Malaysia
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






