Jakarta

No List 2026: Delapan Negara yang Terancam Overtourism, Pertimbangkan Jika Ingin Berkunjung

Anggerhana Denni Rahmawati | 29 November 2025, 14:32 WIB
No List 2026: Delapan Negara yang Terancam Overtourism, Pertimbangkan Jika Ingin Berkunjung

AKURAT JAKARTA - Daftar Delapan Destinasi Negara yang Masuk No List 2026 kembali menjadi sorotan setelah Fodor’s merilis laporannya yang menggambarkan tekanan serius akibat tingginya jumlah wisatawan global.

Ketika kamu mendengar istilah No List 2026, mungkin muncul pertanyaan apa alasan sebenarnya di balik peringatan tersebut.

Dalam tiga tahun terakhir, jumlah pelancong meningkat pesat seiring pulihnya sektor pariwisata, sehingga daftar ini menjadi pengingat penting untuk kamu yang gemar bepergian.

Baca Juga: Konser Kahitna di Alun-Alun Tuban pada 8 Desember 2025, Meriahkan Malam Resepsi Hari Jadi ke-732 Kabupaten Tuban, Gratis!

Popularitas destinasi internasional memang menggoda, tetapi No List 2026 menunjukkan bahwa beberapa negara kini menghadapi kondisi yang tak lagi ideal bagi keberlanjutan lingkungan.

Fodor’s mencatat delapan negara yang mengalami tekanan parah akibat overtourism, perubahan iklim, hingga pembangunan besar-besaran.

Pertama, Antartika menjadi wilayah dengan ekosistem paling rentan.

Baca Juga: JakJazz 2025 Kembali Bergema 20 Desember Nanti dengan Konsep dan Energi Baru

Peningkatan kapal wisata dan ekspedisi manusia dinilai dapat mempercepat kerusakan lingkungan yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu.

Wilayah kedua adalah Kepulauan Canary di Spanyol, yang kini mengalami ledakan wisatawan hingga memicu protes besar-besaran dari warga karena naiknya biaya hidup dan terganggunya keseimbangan sosial.

Kawasan ketiga yang turut masuk daftar adalah Glacier National Park di Montana, Amerika Serikat.

Baca Juga: Resmi Dirilis! Lineup JakJazz 2025 Penuh Kejutan Musisi Lintas Generasi

Tidak hanya wisatawan yang semakin membludak, tetapi perubahan iklim turut mempercepat penyusutan gletser di wilayah tersebut.

Sementara itu, Italia menghadapi persoalan tersendiri di Isola Sacra yang terancam oleh rencana pembangunan pelabuhan besar.

Para aktivis lokal mengkhawatirkan dampak buruk terhadap pesisir dan kehidupan laut, sehingga menolak proyek tersebut.

Baca Juga: Siap-Siap! Big Bang Festival 2025 Janjikan Diskon Gila dan Konser Seru

Jungfrau Region di Swiss juga mengalami hal serupa.

Destinasi pegunungan yang sangat populer ini kini menghadapi lonjakan wisatawan yang membuat lingkungan semakin tertekan dan masyarakat setempat merasa kurang nyaman.

Sementara itu, Mexico City mencatat kenaikan harga sewa, meningkatnya biaya hidup, serta berubahnya karakter sosial dan budaya akibat membanjirnya wisatawan dari berbagai negara.

Baca Juga: Rekomendasi Restoran Fine Dining di Jakarta Selatan untuk Dinner Romantis Bersama Orang Terkasih

Sorotan berikutnya tertuju ke Mombasa, Kenya.

Aktivitas kapal pesiar serta kunjungan turis dalam jumlah besar memberi tekanan besar pada infrastruktur dan kelestarian lingkungan.

Tidak jauh berbeda, Montmartre di Paris juga mulai kehilangan identitas budaya karena laju wisatawan internasional yang terus meningkat, disertai kenaikan biaya hidup yang dialami warga setempat.

Baca Juga: 5 Destinasi Wisata Akhir Tahun Anti-Ramai yang Cocok untuk Kamu dan Anak

Fodor’s menegaskan bahwa No List 2026 bukanlah ajakan untuk berhenti bepergian, melainkan peringatan agar kamu lebih peka terhadap dampak yang ditimbulkan oleh pariwisata massal.

Meski wisata global diperkirakan meningkat 5 persen pada paruh pertama 2025, pemulihan ini membawa beban besar seperti tekanan lingkungan, naiknya biaya hidup, hingga perlahan hilangnya budaya lokal.

Daftar ini mengingatkan bahwa perjalanan bukan sekadar mengunjungi tempat indah, tetapi juga tentang tanggung jawabmu sebagai wisatawan untuk menjaga keberlanjutan alam dan masyarakat. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.