Program Makan Siang Gratis Prabowo-Gibran dalam Perspektif Mencegah Malnutrisi dan Stunting, Begini Saran Praktisi Kesehatan Masyarakat

AKURAT JAKARTA - Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2024 telah selesai. KPU telah mengumumkan pemenangnya adalah paslon nomor 02, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Salah satu program unggulan Prabowo-Gibran adalah makan siang gratis bagi anak sekolah.
Program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran anak sekolah sebagai calon orang tua memberi pengasuhan tumbuh kembang atau nurturing care terbaik untuk anaknya kelak. Persiapan mental fisik calon ibu juga.
"Menurut hemat saya, program ini harus dibuat murah, agar bisa direplikasi menunya oleh masyarakat di hari libur atau untuk makan malam," kata Praktisi Kesehatan Masyarakat, dr. Ngabila Salama.
Baca Juga: SEGERA DAFTAR Mudik gratis PT Pelni Siapkan 13.060 Kuota Penumpang
Dikatakan Ngabila, makanan yang disediakan di sekolah itu harus habis, untuk tercapainya gizi yang diharapkan dan mencegah adanya makanan basi.
"Program ini sejatinya bukan untuk mencegah stunting pada anak sekolah, tapi mencegah malnutrisi yang bisa mengancam kesehatan jangka panjang pada anak sekolah, termasuk para siswi yang merupakan calon ibu," katanya.
"Karena jika terjadi anemia kronis pada anak sekolah, di kemudian hari berpotensi melahirkan anak dengan gangguan gizi, pertumbuhan, perkembangan, termasuk stunting," tambahnya.
Menurut Ngabila, malnutrisi tidak hanya gizi kurang (underweight), tetapi juga gizi berlebih (overweight).
Bahkan obesitas yang dapat meningkatkan risiko hipertensi, Diabetes Miletus (DM), penyakit jantung, dan penyakit tidak menular lainnya, juga termasuk malnutrisi.
"Mengutip dari Menkes Budi Gunadi Sadikin, bahwa jika anak sudah ditemukan stunting artinya stadium empat dan sudah terlambat. Stadium satu itu weight faltering (gagal tumbuh), stadium dua gizi kurang, stadium tiga gizi buruk, dan stadium empat adalah stunting," ungkapnya.
Kemenkes memperkenalkan 5 cara mencegah stunting melalui ABCDE:
A. Aktif minum Tablet Tambah Darah (TTD)
B. Bumil teratur periksa kehamilan minimal 6 kali
C. Cukupi konsumsi protein hewani
D. Datang ke Posyandu setiap bulan
E. Eksklusif ASI 6 bulan
Sesuai konsep isi piringku, setengah piring adalah sayur dan buah, setengah piring lainnya karbohidrat dan lauk tinggi protein hewani, karena anak masih dalam masa pertumbuhan perkembangan.
"Program makan siang gratis bersama seluruh anak sekolah, diharapkan dapat menjadi budaya yang baik dimulai sejak kecil untuk makan makanan seimbang dan bergizi," katanya.
Menyambut puncak bonus demografi 2030 dan Indonesia Emas 2045, mereka yang saat ini masih berusia SD atau bahkan lebih muda, adalah calon ibu dan orang tua yang akan mendidik dan membiasakan anak-anak untuk hidup sehat di tahun 2045.
"Makan adalah sebuah proses belajar dan perlu menjadi budaya yang terus dibiasakan sehari-hari. Jika dari kecil anak sukanya jajan makanan berpengawet, maka akan jadi kebiasaan seperti itu sampai besar," tegasnya.
Baca Juga: Sejarah Gencatan Senjata Perang Diponegoro Selama Bulan Ramadhan yang Berakhir Tragis Ketika Lebaran
Ngabila Salama pun menyampaikan saran untuk program makan siang gratis Prabowo-Gibran:
1. Menu seimbang sesuai konsep isi piringku
2. Tinggi protein hewani
3. Ada sayur dan buah
4. Rendah kadar gula, garam, lemak
5. Tanpa MSG dan bahan pengawet (menggunakan bumbu atau rempah alami)
6. Manfaatkan bahan pangan lokal alami
7. Variatif, menarik, higienis (untuk mencegah keracunan makanan atau diare)
8. Penyedia makan siang gratis harus sudah mendapat sertifikat layak hygiene dari Puskesmas atau Dinkes setempat.
9. Dilakukan monitoring evaluasi secara berkala serta menu dan variasi makanan sudah disetujui oleh Puskesmas setempat disertai kandungan kalori.
10. Ramah lingkungan (tidak berkemasan plastik atau mika atau styrofoam.
11. Kalau bisa sistem penyajiannya prasmanan, agar tidak perlu budget kemasan dan tidak menimbulkan tumpukan sampah baru.
12. Budget atau anggaran untuk kemasan dapat dialokasikan untuk penambahan protein hewani agar lebih banyak.
13. Makanan harus habis dimakan di sekolah, tidak dibawa pulang karena bisa basi, dimakan orang tua atau keluarga lain.
14. Porsi makan yang diberikan harus sesuai dengan usia. Ukuran lambung anak tidak besar, kira-kira segenggam telapak tangannya.
15. Strong leadership at all level: koordinasi aktif dinas pendidikan melalui sekolah, puskesmas, dinas ketahanan pangan.
16. Pikirkan pajak untuk penyedia catering
17. Jangan sampai ada sunat anggaran pada penyedia catering, sekecil apa pun
18. Kalau bisa berdayakan UMKM atau pemberdayaan masyarakat sekitar sekolah.
19. Libatkan ahli gizi dari Puskesmas atau organisasi profesi dalam penentuan menu, variasi, kalori, dan monitoring evaluasi program. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





