NOVEL BAG.78 : Pinangan Tanpa Beralaskan Cinta

RUMAH Haji Ahmad. Jam 12 siang. Paman ayahnya Nur Laila Yasmin atau yang akrab disapa Zainab itu mengintrogasiku. Soal latar belakangku. Keluargaku. Pendidikanku. Kerjaanku. Visi missiku dalam berkeluarga.
Dan, ini yang paling krusial: soal seberapa besar keseriusanku dan cintaku kepada cucu iparnya itu.
Semua aku jawab dengan gamblang, lugas dan tegas. Aku cerita apa adanya, bukan ada apanya. Haji Ahmad pun hanya manggut-manggut.
"Oke, Baba Haji restui Rahman. Nanti pas lamaran, biar Baba yang atur. Insya'alloh," janjinya.
Plong. Lega, rasanya. Satu tahapan telah aku lewati. Selanjutnya tinggal mempersiapkan mental dan segala macam seserahan lamaran. Termasuk cincin tunangan.
Tak lupa, aku kirim surat ke kampung halaman. Memberitahu orangtuaku, bahwa aku akan melamar gadis bernama Nur Lalila Yasmin.
Aku sertakan pula photo-photo gadis calon menantunya itu. Aku minta, ayah dan ibuku dapat datang ke Jakarta untuk mengantarku melamar cewek keturunan Arab itu.
Surat balasan dari orangtuaku, aku terima dua hari sebelum hari lamaran. Isinya, ayah dan ibuku merestui aku melamar Laila Yasmin.
"Masyaalloh...calon istrimu cantik banget. Seperti artis. Keturunan India atau Arab ya? Ibumu suka banget. Semoga kalian berjodoh. Bapak dan ibu merestuimu. Tapi...."
Dalam suratnya, ayah dan ibuku memuji kecantikan Laila Yasmin. Sama dengan pandangan khalayak umum, ibuku menilai ia mirip dengan artis Maudy Koesnaedi, pemeran Zainab dalam sinetron Si Doel. Tapi...
"Tapi, bapak dan ibumu nggak bisa datang ke Jakarta. Nanti Masmu yang akan datang mewakili ayah. Maaf, ya. Nanti pas nikah saja, bapak dan ibu insya'alloh ke Jakarta."
Mendapati balasan surat dari orangtuaku, sejujurnya aku kecewa. Tapi, aku dapat memaklumi. Pertama, mungkin terkait dengan biaya pulang pergi Lampung- Jakarta, dan segala kebutuhan hidupnya.
Kedua, mungkin ayahku masih trauma dengan kasus rencana lamaranku kepada Fathia, yang malah berujung prahara. Karena itu, ayahku memilih menunggu kepastian hasil dari proses lamaranku. Bila diterima, ayahku siap datang ke Jakarta untuk menikahkanku.
Hari Sabtu. Bulan delapan. Pekan ketiga. Masehi. Selepas sholat isya. Aku memenuhi janjiku melamar Yasmin. Aku memulai langkah dari rumah Haji Taufik. Yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari rumah keluarga Yasmin.
Kami berenam. Aku ditemani abangku dan istrinya, Haji Taufik dan istrinya, dan seorang teman kantorku. Masing-masing membawa seserahan.
Aku membawa cincin tunangan. Yang lain membawa nampan berisi buah jeruk, apel, dan pisang. Lalu, roti dan senampan aneka kue jajanan.
Semuanya, aku persiapkan seharian. Mulai dari membeli, mengemas dan menghias, semua aku lakukan sendirian.
Sesungguhnya, tubuh ini terasa sangat lelah. Bukan hanya terkuras tenaga. Tapi juga pikiran. Apalagi, sejak semalam aku belum tidur. Aku tak bisa tidur. Deg-degan campur gelisah.
Untuk menghilangkan kegelisahan, aku isi dengan dzikir dan do'a. Satu amalan dzikir yang harus dilafalkan seribu kali dalam semalam. Amalan ijazah dari Habib Husein.
Sebuah kalimat yang diambil dari ayat al-qur'an. Satu ayat berisi kisah Nabi Sulaiman yang mengirim surat kepada Ratu Bilqis yang akhirnya ditakhlukannya.
Katanya, agar lamaranku diterima. Sebagaimana Nabi Sulaiman menakhlukkan Ratu Bilqis.
Meski lelah, aku tetap bersemangat. Karena inilah saat-saat paling menentukan. Peristiwa yang akan ditulis dalam sejarah hidupku. Peristiwa yang mungkin hanya akan aku lakukan sekali seumur hidupku. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








