NOVEL BAG.107 : Akhir Sebuah Cerita

PERGI ke Belanda. Ia menemukan istri pertamanya di sana. Wanita cantik nan kaya yang pernah berlabuh di hatinya. Meskipun tak lama. Hanya seumur jagung. Keduanya sudah berpisah.
Sejak beberapa tahun lalu. Sejak istrinya pergi ke Belanda, meninggalkan dirinya. Terjadi dilema. Karena dia kini telah beristri lagi.
Dia bahagia dengan istri barunya. Tapi dia juga masih cinta dengan istri lamanya. Dilema. Harus pilih yang mana.
Wanita mana yang tak hancur hatinya, mendapati suami yang ia tunggu kepulangannya membawa kabar bahwa ia bertemu dengan belahan jiwa beserta anak yang selama ini dirindukannya. Hal itulah yang dirasakan Zaenab.
Itu membuat hatinya menggalau dalam kebisuan. Ia bingung untuk memilih antara mempertahankan pernikahannya atau merelakannya kembali ke pelukan istri pertamanya.
Baca Juga: 3 Member Blackpink Dikabarkan Mundur, Begini Penjelasan YG Entertainment
"Zaenab, kalau kamu akan pilih mana?" tanyaku.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan pernikahanku. Silahkan ceraikan dia. Karena dia adalah masa lalu. Yang lalu, biarkan berlalu. Pertahankan yang sekarang," jawab istriku.
Keadaan semakin rumit saat ada informasi bahwa istri pertamanya itu akan kembali tinggal di Jakarta.
Kini pilihan untuk tetap mempertahankan cinta atau pergi menjadi keputusan yang sulit bagi Zaenab. Terlebih, ujian itu datang saat dirinya sedang hamil.
Tapi Zaenab akhirnya memilih menepi. Mempersilahkan suaminya untuk kembali ke pelukan istri lamanya.
Zaenab memilih menepi karena butuh ketenangan. Agar bayi yang dikandungnya tak keguguran. Zaenab kembali ke rumah orangtuanya. Meninggalkan suaminya dalam kebimbangan.
Di saat Zaenab pulang ke rumah orangtuanya, istri pertamanya juga pulang ke Belanda. Ia sudah memberikan kuasa kepada pengacara, untuk bercerai dari suaminya.
Akhirnya, Zaenab memperoleh kembali cinta sejatinya. Begitulah akhir ceritanya. Cerita dari film Si Doel The Movie, yang kami tonton di bioskop. Nonton berdua dengan istriku. Saat merayakan 15 tahun perkawinan kami.
Baca Juga: Bambang Pamungkas, Legenda Sepakbola Indonesia yang Mengakhiri Karier Gemilang
"Kamu masih sama seperti Zaenab yang aku kenal waktu remaja dulu. Zaenab yang cantik dan lemah lembut."
Aku mengecup keningnya. Di akhir film. Kecupan mesra tanda kasih sayang.
Di usia perkawinan kami yang ke-15 tahun, Zaenabku masih mirip dengan Zaenab si Doel. Masih sama-sama cantik, langsing dan kalem.
Zaenabku sepuluh tahun lebih muda dari Zaenab si Doel. Kami sudah dikaruniai empat anak. Cantik dan ganteng-ganteng. Pintar-pintar.
Dalam menjalankan kehidupan, kita sering merasakan kesendirian, sekaligus mengalami juga saat “rush”.
Sepi dan sibuk adalah kehadiran kita. Kita ada di dalam situasi itu. Kita hadir di saat dan ketika itu.
Kita berada di dalam lingkup waktu. Waktu dalam detik, jam, hari, dan tahun seolah telah membelenggu kita.
Baca Juga: Blarrrr... Motor Langsung Terbakar, Kecelakaan 2 Motor Tabrakan di BSD
Kita berkejaran dengan waktu. Kita ingin mendahului waktu. Tetapi kita selalu saja berada di belakang waktu.
Waktu detik ini, ketika ini, menjadi berlalu di detik berikutnya. Detik yang lalu telah lewat, detik yang kemudian menjadi detik yang lalu, digantikan dengan detik yang datang.
Yang berlalu menjadi 'lalu', telah usai, telah lewat. Yang datang kemudian juga, pada pergesaran saat yang sama, akan menjadi yang lalu.
Lantas apa yang kita kerjakan, kalau yang sekarang ini, detik ini, juga menjadi lalu, ketika detik yang baru datang?
Ketika itu terjadi, kita merasa tak berbuat apa-apa. Kita berhenti. Tak melakukan apapun. Kita diam dan merenung.
Kita menyadari bahwa detik demi detik selalu berlalu. Ia menjadi masa lalu. Masa dimana kita tak bisa lagi mengendalikannya. Masa ketika kita hanya mengingat sejenak, walaupun kita tak dapat mengingat seluruhnya.
Dalam waktu, kita mengetahui kejadian-kejadian. Kita bebas memikirkan dan menuliskan apa saja yang kita pikirkan. Kita bisa merekam yang sudah terjadi. Walaupun rekamanan itu tak sepenuhnya utuh.
Dalam waktu, kita bisa berbuat apapun. Walaupun tak ada satupun yang dapat kita pelihara. Waktu hanya menyediakan ruang untuk kita menorehkan titik-titik. Kemudian titik-titik itu menjadi masa lalu.
Baca Juga: 6 Referensi Wisata Jakarta Gratis, Banyak Spot Instagramable
Ia bukan realitas lagi yang ada di hadapan kita. Realitas acap kali bisa menjadi sesuatu yang berbeda ketika kita melihatnya. Apa yang kita lihat, ternyata bukan itu yang sebenarnya.
Lantas kita terjebak dengan itu. Kita acap kali melihat sesuatu yang dianggap realitas. Padahal, sesuatu itu, ketika kita dekati, bukanlah kenyataan yang sesungguhnya.
Mungkin benar, bahwa kita tak melakukan apa-apa. Karena apa yang kita bincangkan sekarang bukanlah realitas yang sesungguhnya.
Mungkin benar, bahwa kita hanya membuat pernyataan-pernyataan umum, karena pernyataan-pernyataan itu tak mencerminkan apa yang sesunguhnya.
Mungkin kita terjerembab dengan 'tampaknya'. Kita terkungkung dengan 'katanya'. Kita terbawa oleh pikiran kita.
Tetapi, kita tak menyadari bahwa apa yang kita katakan, apa yang kita sebutkan, apa yang kita nyatakan hanyalah sebuah fatamorgana.
Itulah kehidupan manusia. Apa yang dinyatakan, sesungguhnya hanyalah sebuah gambaran. Ia merupakan konstruksi seseorang tentang apa yang dikatakannya sebagai realitas. Gambaran itu bukanlah keseluruhan. Ia adalah kira-kira, hanyalah perkiraan.
Baca Juga: Lintasan Jadi Huruf S, Warga Percaya Diri Ujian Praktik SIM Motor, 90 Persen Lolos
Ia bisa benar, tetapi ia juga bisa keliru atau salah. Perkiraan itu, umumnya, ditentukan oleh perspektif seseorang.
Orang mengira-ngira berdasarkan sudut pandangnya. Orang menyatakan sesuatu berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya.
Lalu, terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? Aku bersyukur, akhirnya Tuhan mengabulkan do’a-do’aku.
Aku telah hidup bahagia. Dikaruniai harta yang cukup. Pangkat atau jabatan yang tinggi. Istri yang cantik. Anak-anak yang soleh dan solehah. Terima kasih Tuhan atas segala nikmat yang Kau berikan kapada kami. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







