NOVEL BAG.108 : Rahasiaku Terbongkar Istri

SOLEH dan solehah. Itulah kesan yang aku dapati dari photo-photo yang diposting di media sosial; facebook, twiter dan instagram. Juga di photo profil WhatsApp.
Daffi Deenur Rajab alias David, teman lamaku yang juragan besi tua. Dan Vivi, istrinya. Keduanya sudah hijrah. Kami terhubung kembali melalui medsos. Setelah seperempat abad tak pernah bertemu. Aku pun janjian reuni keluarga.
"Sayang....! Minggu depan kita reuni yuk...!" kurayu istriku biar mau ikut reuni.
Sebab, selama ini Yasmin paling ogah ikut acara reuni. Apapun embel-embelnya. Mau reuni teman SMA, reuni teman kuliahan, reuni teman kerja, maupun reuni keluarga. Maklum, trauma dengan masa lalu.
"Reuni apaan sih..?" tanya istriku.
"Reuni keluarga."
"Keluarga siapa? Keluarga Lampung?"
"Bukan. Reuni keluarga kecil. Keluarga kita dan keluarga Bang David."
"David...? Siapa itu? Saudara dari siapa?" tanyanya sambil memotong-motong ayam di dapur.
Baca Juga: Inspiratif! Bersama Bang Zaki, Caleg Golkar Dapil Jakarta 4 Gelar Workshop Pemanfaatan Sampah
"Mas David itu temannya ustad Salim, guruku waktu di pesantren. Dia yang nampung aku, waktu pertama kali tiba di Jakarta. Dia juga yang nyariin kerjaan buat aku."
"Tinggalnya di mana? Kok Abang nggak pernah cerita?" Cecarnya.
"Sory, aku lupa. Maklum, udah lama banget nggak ketemu dia. Sudah puluhan tahun. Sejak dia nikah dengan Vivi, aku nggak pernah ketemu dia lagi."
"Vivi...?!!" tanyanya serius.
Ia menghentikan aktivitasnya di dapur. Matanya melotot menatapku dengan tajam.
"Vivi, mantan pacar kamu?"
"Bu...bukan."
"Ayo lah Bang....jujur saja. Aku nggak akan marah kok...!" Istriku terus mendesakku.
"Kamu tau dari mana?"
"Jujur dulu lah...nanti baru aku kasih tau."
"Ya, aku sudah jujur. Vivi memang bukan mantan pacarku. Aku kenal dia. Sempat naksir dia. Tapi cintaku bertepuk sebelah tangan."
"Tapi, Abang suka sama Vivi kan..?"
"Iya. Terus kenapa? Toh sekarang, masing-masing sudah punya pasangan."
"Nggak apa-apa sih....! Wajar kan kalau istrimu cemburu..? Itu berarti, aku sayang kamu," katanya sambil membereskan makanan di meja makan.
Baca Juga: Dibutuhkan 68 Dosen untuk CPNS di Kemenag, Pendaftaran Dibuka Hingga 9 Oktober 2023
Urusan di dapur sudah selesai. Sudah masak semua. Tinggal menikmati bersama keluarga.
"Iya, deh...! Terus, kamu tahu soal Vivi dari siapa?"
"Kasih tau apa nggak ya...?" Istriku balik meledekku. "Pengen tau aja, apa pengen tau banget..?"
"Ayo lah....! Kan aku sudah jujur. Sekarang giliran kamu." Aku penasaran sekaligus deg-degan.
"Aku tahu semua siapa saja yang pernah mampir di hati Abang."
"Ah, yang bener...? Jangan bikin penasaran ah...!" Aku makin gelisah dan deg-degan.
"Bener lah....! Masa' aku bohong. Ada yang namanya Hanny, Indah, Vivi, Fathia, Tere, dan siapa lagi ya....? Aku lupa." ungkapnya sambil menerawang ke langit-langit, mencoba mengingat-ingat jejak cintaku.
"Waduh......! Kamu tau dari mana...? Ayo...jawab..!" Aku mengejarnya. Aku cubit pantatnya dengan cubitan mesra.
"Tadinya aku berpikir; punya suami jelek dan miskin, pasti bakal setia. Karena nggak ada yang cewek yang mau. Tapi ternyata, suamiku dulunya playboy. Aku sekarang jadi mikir-mikir."
"Mikir-mikir apa? Itu kan dulu."
Baca Juga: Persija Incar Bek Asing Yuran Fernandes dari PSM Makassar, Bersaing dengan Persib Bandung
"Mikir-mikir kalau mau ngasih kesempatan untuk reuni. Takut CLBK (cinta lama bersemi kembali). Apalagi sekarang, sudah jadi bos."
"Eh, jangan mbulet kesana-kemari, nggak jelas. Ayo jawab dulu, kamu tau dari mana?"
"Dari buku diary."
Duar.....! Rasanya pecah jantungku. Tubuhku gemetaran. Otot-otot persendianku mendadak kaku. Kelu. Aku shock. Bingung dan panik bercampur cemas.
Buku diary itu buku merahku. Cacatan hitam putih kehidupanku. Semua ada di buku itu. Buku yang hilang sejak belasan tahun lalu. Saat aku pindah kontrakan pertama.
Aku sempat mencari-cari. Tapi tidak ketemu. Aku berkesimpulan, buku diary itu ketinggalan di rumah kontrakan Michaella, dan sudah dibuang oleh tukang sampah.
Atau, sudah dikiloin oleh pemulung yang memungutnya dari tempat sampah. Rupanya, buku itu telah berpindah tangan ke istriku. Gawat...!
"Hei...kok bengong..!?" Giliran istriku yang mengintimidasi.
"Oh, iya-iya...! Nggak...! Ehmm....anu. Kamu nemu di mana?" Aku gelagapan.
Embun keringat dingin mulai membasahi kening.
"Sekarang bukunya di mana?"
Aku coba cari tahu. Aku berharap, istriku telah membuangnya dan belum sempat membaca catatanku soal Michel. Soal pernikahan rahasiaku. Dan lain-lain.
Baca Juga: Persija Jakarta Vs Bali United Diprediksi Bakal Berlangsung Ketat dan Sengit
Kalau sampai sudah baca, dunia bisa kiamat nih. Karena dulu, saat aku meminang Yasmin, aku mengaku masih bujangan. Di KTP dan identitas lainnya, statusku memang masih bujangan.
"Sudah aku bakar."
"Beneran...?"
"Ya bener lah. Buat apa aku bohong..?"
"Oh....! Ya sudah, kalau gitu."
Aku berharap istriku mau ikut pertemuan dengan keluarga Mas David. Tapi, kalau tidak mau, aku nggak akan paksa. Meskipun aku kangen banget rasanya. Hampir tiga puluh tahun tak bertemu. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







