NOVEL BAG. 85 : Malam Pertama yang Hampa

SAAT senja kembali ke peraduan, resepsi pernikahan selesai digelar. Para tamu, kerabat dan saudara pun telah kembali ke rumahnya masing-masing.
Aku langsung memboyong istriku ke kontrakan. Tidak ke rumah orangtuanya. Karena rumah mertuaku kurang memadai.
Hanya ada dua kamar tidur. Satu untuk abi dan uminya, satu lagi untuk adik iparku yang bungsu. Perempuan. Sudah remaja.
Karena itu, adik ipar bungsu harus tidur terpisah dari abang-abangnya, yang tidur di ruang keluarga. Nah, aku dan istriku mau tidur di mana? Karena itu, malam pertama aku habiskan di kontrakan.
Kontrakan yang sangat sederhana. Luasnya hanya 3 x 6 meter. Disekat menjadi tiga bagian; ruang tamu, kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Kontrakanku hanya berjarak sekitar dua kilometer dari rumah mertua.
Baca Juga: GBK Ditutup selama KTT ASEAN, Cari Tempat Olahraga Lain Dulu
Malam pertama seusai pernikahan berlangsung tanpa sesuatu yang istimewa. Tak ada sayang-sayangan. Apalagi mesra-mesraan. Nur Laila Yasmin menghabiskan waktunya hanya untuk nonton televisi. Saat aku ajak untuk tidur, dia bilang masih capek.
"Kamu tidur aja dulu. Aku masih capek. Mau rileks dulu," kilahnya.
Aku pun masuk kamar tidur duluan. Karena aku pun merasakan lelah yang sangat. Tapi, layaknya pengantin baru, aku juga ingin buru-buru belah duren.
"Ah, tidur dulu. Ngilangin lelah. Tengah malam, baru belah duren," begitu pikirku.
Eh, lelah telah membuatku lelap. Hingga tak kusadari, hari telah berganti. Kumandang adzan subuh bersahutan membangunkan seisi bumi.
Aku bangun. Aku buka mata. Aku lihat kanan-kiri, tak ada istriku di sampingku. Aku was-was, jangan-jangan dia kabur. Pergi bersama mantan kekasih hatinya. Aku bergegas bangkit dari tempat tidur, melompat keluar kamar.
Alhamdulillah, dugaanku salah. Istriku terlelap di ruang tamu, di depan televisi yang masih menyala.
Hari pertama pasca menikah. Aku datang ke rumah mertua. Bersilaturahim dengan keluarga. Menikmati sisa-sisa pesta kemarin.
Siang harinya, aku antar istri pergi ke tempat kerjanya. Menyampaikan surat resign. Ya, setelah menikah, aku minta istriku berhenti kerja. Agar bisa fokus mengurus suami dan keluarga.
Aku minta istriku berhenti kerja, bukan karena aku sudah kaya. Tapi aku ingin memutus kesempatan untuk comeback dengan para mantannya. Mengurangi kemungkinan curhat kepada laki-laki yang bukan haknya. Biarlah dia curahkan isi hatinya hanya kepada suaminya.
Malam kedua, aku lewati masih dengan hampa. Istriku beralasan, belum siap. Aku memakluminya. Karena kami memang baru kenal dan tidak saling mencintai.
Malam ketiga, barulah aku bisa menunaikan kewajibanku sebagai seorang suami. Itu pun, dia melayani dengan setengah hati. Tanpa rasa cinta. Hanya memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
Aku seperti sedang berhubungan dengan boneka atau manekin. Dia hanya pasrah tanpa respons. Tak ada take and give. Tak ada imbal balik. Hanya satu arah; konvensional.
Baca Juga: Ganjil Genap 24 Jam Diterapkan, Heru Segera Kumpulkan Kepala Daerah Penyangga Jakarta
Begitulah hari-hari kulalui. Nur Laila Yasmin, cewek keturunan Arab yang kini jadi istriku itu, melayaniku setengah hati. Tak hanya kebutuhan rohani. Tapi juga kebutuhan jasmani.
Untung aku sudah terbiasa mandiri; masak sendiri, menyiapkan kebutuhan pribadi pun sendiri. Tak perlu dilayani istri.
Rutinitasku, pagi hari aku berangkat kerja. Istri kuantar ke rumah mertua. Sore hari aku pulang kerja. Istri aku jemput di rumah mertua.
Malam hari berdua di rumah kontrakan. Tapi, seperti suami-istri yang sedang pisah ranjang. Tak ada harmonisasi dan kemesraan. Yang ada hanyalah memenuhi kewajiban sebagai suami-istri.
Hidup terasa hambar. Jangankan romantis. Jalan bergandengan tangan pun sulit aku lakukan. Meskipun saat menyeberang jalan. Aku coba menggandeng tangan, tapi Yasmin langsung menepisnya.
“Kok ditepis sih…?! Kalau ketabrak kendaraan, bagaimana?” aku protes.
“Emangnya aku buta, nyeberang aja pakai dipegangi.” jawabnya ketus.
Aku tak mau memperpanjang. Cukup dengan mengelus dada saja. “Ya Alloh, berilah hamba kesabaran…”
Tiga bulan usia pernikahan. Belum juga ada tanda-tanda akan diberi keturunan. Padahal, aku sudah sangat ingin punya anak. Aku ingin melihat, apakah do'aku selama ini dikabulkan Tuhan. Aku ingin perbaikan keturunan.
Mungkin Alloh belum mempercayai kami, karena kami belum saling mencintai. Atau suasana tempat tinggal kami yang sumpek dan sempit membuat istriku kurang rileks, sehingga mengganggu kesuburan rahimnya.
Baca Juga: DPRD Setujui Anggaran Perubahan APBD Sebesar Rp. 78,7 Triliun
Akhirnya aku putuskan untuk pindah kontrakan. Kali ini, jauh lebih besar. Ukuran satu rumah. Luas 6 x 10 meter. Kontrakan baruku ini berjarak sekitar 10 km dari rumah mertua.
Meskipun begitu, rutinitas keseharianku masih sama; pagi mengantar istri ke rumah mertua. Lalu, sorenya aku jemput untuk kembali ke kontrakan.
Tapi, aku antar-jemput hanya sampai ujung gang. Tak benar-benar sampai rumah mertua. Sebab, keluarga besar Yasmin belum sepenuhnya menerimaku sebagai menantu.
Para tetangganya pun memandangku sebelah mata. Banyak keluarga dan tetangga yang menyayangkan, kenapa Laila Yasmin yang cantik rupa itu dinikahkan dengan diriku si miskin papa dan buruk rupa. Banyak yang menuding, aku pakai guna-guna.
"Bu Haji, emang kerjaan suaminya Laila apaan sih?" tanya ibu-ibu tetangga mertua. Saat bergerombol mengerubuti tukang sayur keliling.
"Nggak tau..! Tukang bangunan kali...?!" jawab ibu mertuaku, sekenanya.
Bukan bermaksud merendahkan profesi tukang bangunan. Tapi, mungkin profesi itulah yang terlintas di otak ibu mertuaku saat itu.
"Ya Alloh....anak cantik-cantik kok ya dikasih nikah sama tukang bangunan," timpalnya.
"Kirain artis, Bu Haji...." kata ibu yang satunya.
"Iya. Sudah jelek, miskin pula. Kok Laila mau ya...? Aku yakin, pasti anak Bu Haji diguna-guna. Bawa ke orang pinter, Bu. Biar dirukyah. Mumpung masih baru, belum punya anak," celoteh ibu gendut, berusia setengah abad.
Baca Juga: Buah dan Sayur yang Tidak Boleh Disimpan di Kulkas
Ibu mertuaku sama sekali tak menghiraukan. Ia bayar belajaan sayurannya, lalu pulang.
Namun kejadian seperti ini, tak hanya sekali atau dua kali. Tapi, berkali-kali. Tak hanya menimpa ibu mertuaku. Tapi juga ayah mertua, kakak dan abang, istriku, bahkan diriku sendiri.
Soal dibawa ke orang pintar atau dukun, itu bukan sekadar guyonan. Ada anggota keluarga mertuaku yang serius mengurusinya. Datang ke orang pintar dan dukun.
Tujuannya, untuk memisahkan kami. Katanya, untuk menyadarkan Laila dari pengaruh guna-guna. Bahkan, itu sudah dilakukan sejak kami bertunangan. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









