NOVEL BAG.92 : Siapa Menebar Petaka Ghaib ke Istriku

AKU sembunyikan rapat-rapat masalah percobaan bunuh diri istriku ini dari keluargaku. Juga dari keluarga mertua.
Aku ingin menyelesaikan urusanku. Tak perlu ada kehebohan. Kegaduhan. Apalagi, merepotkan semua orang. Aku tak mau.
Sudah setahun ini, istriku tak pernah tidur malam dengan nyenyak. Batuk dan rasa gelisah yang selalu membangunkannya.
Badannya sudah habis digerogoti penyakit. Tinggal tulang dibalut kulit keriput. Entah penyakit apa yang menyerangnya. Datangnya hanya pada malam hari. Mulai matahari terbenam hingga terbit lagi esok hari.
Saat orang lain terlelap tidur, rasa sakit itu datang. Tubuhnya demam. Batuk tak henti-henti. Dokter pun tak ada yang dapat memastikan, penyakit apa yang diderita istriku.
Hingga suatu hari, ada tetangga yang memberi tahu; ada orang pintar yang dia panggil Suhu, yang biasa mengobati orang sakit aneh.
Baca Juga: ADA ADA AJE: Pagar Makan Tanaman, Tukang Kayu Tewas Digergaji Teman
"Kalau Mas Rahman mau, nanti saya anterin ke rumah Suhu," kata Bang Udin, tetanggaku.
"Iya, boleh Bang. Rumahnya Suhu di mana?"
"Di Bekasi, Bang."
"Oke, Bang. Besok Jumat malam ya."
Aku sampaikan informasi dari Bang Udin ke Nur Laila Yasmin, istriku. Juga ke mertuaku. Mereka sepakat untuk berobat ke orang yang dipanggil Suhu itu.
Aku sewa mobil beserta sopir. Dan, Jumat malam itu, aku bersama istri dan mertuaku, ditemani Bang Udin, pergi ke rumah Suhu. Di Jatiasih, Bekasi.
Di situ Suhu buka praktik pengobatan alternatif. Pasiennya membludak. Ada puluhan orang. Kami dengan sabar antri menunggu giliran.
Baca Juga: Generasi Z Wajib Menabung dan Merencanakan Keuangan untuk Membeli Rumah
Suhu. Dalam bayanganku adalah sosok laki-laki Thionghoa, berjenggot dan berkumis. Berambut panjang. Sudah tua dan beruban. Rambutnya yang panjang diikat di belakang. Ia jago silat. Seperti di film-film mandarin atau Jepang.
Nyatanya perkiraanku salah total. Suhu yang kami temui ini masih muda. Orang Jawa. Tak berjenggot dan tak berkumis. Rambutnya yang pendek dan hitam, ditutupi sorban. Ia memakai jubah putih.
Dipanggil Suhu, beliau memang ahli beladiri. Gurunya seorang pendekar Kung Fu China. Selain diajari ilmu beladiri, ia juga diajari ilmu pengobatan dan ilmu kanuragan tenaga dalam.
"Nyonya Laila Yasmin..!" seorang staf Suhu memanggil. Giliran istriku ditangai Suhu.
Kami masuk ke ruang praktik. Kami bertiga. Aku, istriku dan ayah mertuaku. Ibu mertuaku menjaga Putri yang tertidur pulas.
"Sakit apa?" tanya Suhu.
"Belum tahu, Suhu. Diagnosa dokter sih katanya asma. Ada juga dokter yang bilang bronkitis," jawabku.
"Sudah lama sakitnya..?"
"Sudah, Suhu. Sudah setahun lebih. Sudah berobat ke mana-mana, tapi belum ada yang cocok."
"Coba sini. Bu Yasmin mendekat ke sini."
Istriku maju tiga langkah. Lalu duduk bersimpuh di depan Suhu. Aku dan ayah mertuaku memperhatikan dengan seksama.
Baca Juga: Sejarah Jakarta: Asal Usul Sawah Besar dari Sawo
"Bu Yasmin, coba tarik napas dalam-dalam sambil baca sholawat di dalam hati."
Istriku menuruti perintah Suhu. Lalu, Suhu berdiri di belakang istriku. Sambil mengeluarkan tenaga dalam, ia memegang punggung istriku. Sekitar dua menit, Suhu melakukan ritual tenaga dalam.
"Alhamdulillah, sudah selesai." Suhu berdiri tegak, lalu duduk kembali di singgasananya. "Silahkan duduk lagi, Bu."
"Jadi, istri saya ini sakit apa Suhu?" tanyaku.
"Istri Mas sakit karena diciderai secara ghaib. Tapi, akibat dari tindakan ghaib itu, bisa diobati secara medis. Tapi, nanti. Setelah yang masalah ghaibnya saya tangani."
"Diciderai secara ghaib, maksudnya gemana Suhu...?" tanya ayah mertuaku.
"Ya. Ada orang jahat yang melukai organ dalam anak bapak. Secara kasat mata ataupun dengan alat kedokteran, lukanya tidak bisa dilihat. Tapi, nanti bisa."
Ayah dan putrinya beradu pandang. Seolah ayah mertuaku bertanya; siapa orang jahat yang melukaimu? Dan istriku menjawab; aku nggak tau, Abi..
Baca Juga: 9 Kapal di Pelabuhan Samudera Nizam Zachman Jakarta Utara Terbakar
Mendengar penjelasan Suhu, aku manggut-manggut saja.
"Ini saya bawakan air. Diminum setiap selesai sholat fardhu. Sebelum minum, baca ayat kursi satu kali."
"Baik, Suhu..." jawabku.
"Besok Minggu ke sini lagi. Saya mau cabut benda yang melukai, dan saya mau buka tabir yang menutupi."
"Baik, Suhu."
Kami bediri hendak berpamitan. Sebab, staf Suhu sudah memanggil pasien berikutnya.
"Oh iya, besok Minggu bawa telor ayam yang sudah direbus sepuluh biji ya. Direbusnya sampai benar-benar mateng. Tapi jangan sampai retak atau pecah," pesan Suhu saat kami melangkah undur diri.
Kami pulang. Dengan kebimbangan. Aku, antara percaya dan nggak percaya dengan hasil diagnosa Suhu. Di zaman modern ini, memangnya masih adakah dukun santet?
Sepanjang perjalanan pulang, di dalam mobil, aku lebih banyak diam. Aku tak mau banyak komentar, yang justru kian menambah penderitaan istriku.
Ayah mertuaku yang pertama bertanya pada Yasmin. "Siapa kira-kira orang yang ngerjain kamu, Yasmin?"
"Nggak tahu, Bi. Yasmin merasa selama ini nggak punya musuh," jawab istriku.
Baca Juga: Resmikan Gereja Katolik Santa Perawan Maria, Bupati Zaki Ajak Umat Jaga Toleransi
"Mungkin ada laki-laki yang pernah kamu sakiti atau kamu tolak?" tanya ibu mertuaku.
"Nggak ada, Umi." jawabnya singkat.
"Atau ada masalah dengan teman kerja?" cecar ibu mertua.
Yasmin menggeleng. "Nggak ada."
"Terus siapa dong?"
"Nggak tahu. Yasmin benar-benar nggak tahu."
Hingga mobil yang kami sewa berhenti di depan rumah, tak ada jawaban atas pertanyaan; siapa dan mengapa istriku dikerjai secara ghaib oleh orang jahat. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








