Jakarta

Jejak Gembong Narkoba Dunia: Dari Pablo Escobar di Kolombia hingga Ratu Golden Triangle Dewi Astutik di Asia Tenggara

Sastra Yudha | 2 Juni 2025, 10:32 WIB
Jejak Gembong Narkoba Dunia: Dari Pablo Escobar di Kolombia hingga Ratu Golden Triangle Dewi Astutik di Asia Tenggara

AKURAT JAKARTA - Seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Ponorogo, Dewi Astutik, kini dijuluki Ratu Narkoba Asia Tenggara. Ia merupakan salah satu penguasa kawasan Golden Triangle atau segitiga emas.

Wanita yang tercatat sebagai warga RT 01 RW 01 Dukuh Sumber Agung, Desa Balong, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ini diduga kuat menjadi dalang di balik pengiriman lebih dari 4 ton Narkoba jenis sabu dan kokain, yang digagalkan Badan Narkotika Nasional (BNN) di perairan Karimun, Batam, Kepulauan Riau.

4 ton Narkoba jenis sabu dan kokain itu diselundupkan lewat laut dalam waktu yang hamper bersamaan. Pertama, BNN Bersama TNI AL dan Bea Cukai menyergap Kapal The Aungtoetoe 99 yang mengangkut 1,2 ton kokain dan 678 kg sabu.

Sepekan kemudian, BNN kembali menggagalkan penyelundupan Narkoba jenis Sabu seberat 2 ton yang diangkut Kapal Sea Dragon Tarawa.

Baca Juga: Bupati Tangerang Ucapkan Selamat Pada Bursah Zarnubi Terpilih Jadi Ketua Umum Apkasi, Puji Komitmennya dalam Perjuangkan Nilai-nilai Otonomi Daerah

Kini, nama Dewi Astutik pun disandingkan dengan gembong Narkoba dunia, seperti Pablo Escobar hingga empat sekawan pimpinan Kartel Cali.

Pablo Escobar atau Pablito adalah seorang pemimpin kartel Madellin yang mencapai titik kekuasaan dengan mengontrol 80 persen perdagangan kokain di seluruh dunia.

Nama lengkapnya adalah Pablo Emilio Escobar Gaviria. Ia lahir di sebuah pedesaan bernama Rionegro, Medellin, Kolombia, pada 1 Desember 1949.

Escobar merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ibunya, Hermilda, adalah seorang guru sekolah dasar. Sedangkan ayahnya, Abel, adalah petani biasa.

Escobar adalah Robin Hood bagi banyak orang Kolombia, terutama dari kalangan miskin kota. Sebab, bandar Narkoba ini dikenal seorang dermawan dan murah hati.

Escobar sohor karena kerap beramal. Ia terlibat dalam pembangunan fasilitas umum seperti sekolah-sekolah, lapangan olahraga, dan perumahan bagi masyarakat miskin kota.

Namun karena kiprahnya menjajakan kokain internasional, ia berjibaku melindungi bisnisnya dengan melawan pemerintah Kolombia.

Banyak anggota polisi, jurnalis, pejabat tinggi hingga dan politisi yang meregang nyawa, karena menghalangi kerajaan kokain miliknya.

Medellin di era kolonial adalah pusat pertambangan di Kolombia. Wilayahnya berada di daerah dataran tinggi dan warganya mengembangkan budaya mereka sendiri.

Baca Juga: Musisi Thailand Jeff Satur Bakal Gelar Tour Dunia 2025, Salah Satunya di Jakarta, Berikut Jadwal Lengkapnya!

Masyarakat Medellin sudah memiliki tradisi dalam hal penyelundupan. Secara lahiriah, para penduduk Medellin adalah orang yang agresif, ambisius, pekerja keras dengan sikap keras kepala.

Tahun 1970-an, Medellin mulai menjadi tempat para sindikat kejahatan terorganisir yang menghasilkan banyak uang dari penyelundupan berbagai jenis barang termasuk narkotika.

Meski pasar narkotika di Medellin kala itu belum besar. Sebagian besar kokain saat itu diproduksi di Chili yang mendapat pasokan daun koka dari Peru dan Bolivia.

Barulah pada 1973 produksi kokain beralih ke Medellin. Setelah Jenderal Augusto Pinochet menguasai Chili. Pinochet mengakhiri bisnis kokain di Chili.

Akhir 1970-an kokain menjadi tren yang melanda Amerika Serikat terutamanya di kalangan anak muda. Permintaan barang haram ini seketika meledak.

Kolombia berada di posisi yang sempurna untuk mengisi permintaan pasar Amerika Serikat. Escobar pun mulai merambah ke dunia perdagangan narkoba.

Pada 1976, ia pernah ditangkap bersama sepupunya saat melintasi perbatasan Ekuador dengan 39 pin kokain saat memberi uang pelicin kepada petugas setempat.

Kiprahnya sebagai pedagang kokain terus meroket. Ia juga akrab berurusan dengan pihak kepolisian.

Bersamaan dengan itu, gelontoran dana deras mengalir ke kantung Escobar. Ketika ia menginjak usia 26 tahun, tabungannya di bank telah mencapai lebih dari $3 juta.

Baca Juga: Nostalgia Bersama Hedi Yunus, Marcell Siahaan dan Andre Hehanusa dalam Konser Firasat Bidadari Bukan Sebatas Mimpi pada 28 Juni, Segini Harga Tiketnya

Pada pertengahan 1980-an, merupakan puncak kejayaaan Escobar. Kartel Medellin yang dia pimpin, mampu meraup hingga 420 juta dollar per minggu atau sekitar 22 miliar dollar per tahunnya.

Escobar dengan cepat menjadi dikenal secara internasional sebagai jaringan narkoba terkenal lewat kartel Medellin.

Ia menguasai sebagian besar pasar obat yang masuk ke Amerika Serikat, Meksiko, Puerto Rico, Republik Dominika, Venezuela, dan Spanyol.

Pemerintahan Kolombia pun berusaha keras untuk menutup operasi bawah tanah yang dimiliki Escobar.

Bentrokan antara pemerintah dan para pedagang obat terlarang ini sering pecah dan mewarnai tahun-tahun panjang kekerasan di Kolombia.

Meski begitu, Pablo Escobar bisa semakin besar lewat penjualan kokain karena ia juga menyuap para jajaran pejabat, hakim, dan politisi.

Ia juga turut terlibat dalam kematian ratusan orang termasuk warga sipil, polisi dan pejabat negara.

Tingkat pembunuhan di Kolombia meningkat karena Escobar yang menggelontorkan uang kepada pembunuh bayaran untuk menumpas polisi.

Boston Globe menyebut 600 polisi meregang nyawa di tangan anak buah Escobar. Belum lagi keterlibatannya dalam pembunuhan calon presiden Luis Carlos Galán yang difavoritkan menang dalam pemilu Kolombia tahun 1990.

Baca Juga: Rarobang: Rahasia Hangat dari Maluku yang Sedang Digandrungi Pecinta Kopi

Pertengahan tahun 1991, operasi pemerintah Kolombia terhadap Escobar baru tampak serius.

Dengan dibantu Amerika Serikat di bawah pasukan khusus, memaksa raja kokain dunia ini menyerah.

Syaratnya, ia akan mengunci diri di penjara yang didesainnya sendiri di dataran tinggi dekat Medellin bernama La Caterdal bergelimang fasilitas mewah.

Namun pada pertengahan 1992, pemerintah Kolombia mendapati bukti bahwa Escobar masih menjalankan bisnis kokain di balik jerujinya.

Escobar dikepung, namun berhasil melarikan diri. Ia kemudian menghabiskan waktunya bersembunyi dalam kejaran aparat yang kian membesar dan terlatih.

Di bawah pimpinan Brigadir Hugo Martinez, tim tersebut mengawasi dan melacak transmisi telepon radio dan menemukan Escobar yang bersembunyi di Los Olivio, sebuah kampung kelas menengah di Medellin.

Baku tembak terjadi saat pasukan mengepung tempat persembunyiannya yang berisi Escobar dan pengawal pribadinya Alvaro de Jesús Agudelo.

Dalam kronologi penangkapan yang dirilis U.S Drug Enforcement Administration, kedua burnonan ini berusaha melarikan diri dengan berjalan di atap rumah.

Saat itulah keduanya ditembak polisi Kolombia. Dilaporkan Escobar mengalami luka tembakan di kaki dan tubuh bagian atas, dan yang paling fatal adalah tembakan di telinga.

Baca Juga: Trailer Squid Game 3 Rilis, Dendam dan Trauma Menyatu

Namun beberapa kerabat Escobar meyakini gembong narkoba itu mengakhiri hidupnya sendiri dengan menembakkan diri tepat di telinga.

2 Desember 1993 menjadi akhir hidup raja kokain dunia asal Rionegro. Buku Virginia Vallejo berjudul Loving Pablo Hating Escobar menyebut pemakamannya dihadiri oleh 25.000 orang.

Setelah kematian Escobar, peredaran kokain di Kolombia dikuasai Kartel Cali, musuh bebuyutan Escobar.

Kartel ini punya banyak perbedaan dengan kartel Medellin yang didirikan Escobar.

Di Cali, para petingginya tampil necis. Mereka menggalang kekuatan dari pemerintah, hingga membuat jaringan dengan tentara bayaran.

Jika Kartel Medellin menebarkan kematian di mana-mana, jelas memposisikan diri sebagai musuh pemerintah, maka Kartel Cali memposisikan diri sebagai bagian dari kehidupan Kolombia.

Mereka membangun sistem yang melindungi mereka, alih-alih mengajak perang tentara dan pemerintah.

Di Medellin, Escobar seperti pemimpin besar tanpa suksesor. Saat dia tewas, maka berakhir pula kerajaan kokain bernama Medellin.

Sedangkan Calli, mereka bukanlah kartel dengan satu pemimpin. Bahkan mereka mempunyai aneka sub-organisasi yang dibentuk berdasarkan kepentingan masing-masing.

Sama seperti Escobar yang mendirikan Medellin dari nol, begitu pula yang dilakukan oleh kartel Cali.

Namun sejak awal Cali tidak mempunyai pemimpin tunggal. Kartel yang didirikan di Cali, kota yang berada di Kolombia Barat Daya, didirikan oleh empat orang.

Dua di antaranya adalah Rodríguez Orejuela bersaudara: Gilberto dan Migel. Orang ketiga adalah José Santacruz Londoño. Saat Helmer "Pacho" Herrera bergabung, maka pemimpin kartel ini menjadi empat orang.

Kelompok ini awalnya tak berniat menceburkan diri di bisnis kokain. Mereka malah bergabung dengan kelompok penculik bernama Las Chemas.

Target mereka adalah warga asing, dan meminta tebusan dari sana. Kemudian uang itu diputar untuk berbisnis ganja.

Namun, apalah arti uang ganja ketimbang uang kokain. Mereka kemudian beralih menjual kokain di awal 1980-an.

Pacho menjadi salah satu ujung tombak pemasaran mereka, dengan pasar utama di New York.

Sebagai kelas menengah, para petinggi kartel Cali menyadari bahwa pangsa utama mereka ada di kota besar seperti New York.

Baca Juga: SUV Impian Kembali Hadir! Mitsubishi Pajero Sport 2025 Bawa Inovasi Teknologi dalam Balutan Elegan

Namun bisa juga ini untuk menghindari pertikaian langsung dengan Escobar yang saat itu menguasai jalur distribusi dekat laut, seperti di Florida atau California.

Apalagi di periode itu, Medellin sedang berada di puncak kekuatannya. Sebagai kartel baru, rasanya terlalu berisiko bagi mereka untuk terang-terangan menantang Medellin.

Kartel Cali membentuk kelompok-kelompok mandiri yang lebih kecil yang menangani perkara berbeda.

Selain kelompok yang menangani perkara perdagangan kokain, ada juga divisi yang menangani keamanan.

Para petinggi divisi itu yang akan berhubungan baik dengan polisi dan tentara, memastikan operasi mereka lancar dan terkendali.

Ada pula divisi politik yang berhubungan dengan anggota kongres dan pemerintah. Juga divisi hukum yang menangani apapun terkait hukum.

Berbeda dengan Escobar dan anggota Medellin yang kebanyakan berasal dari warga menengah bawah, para pendiri dan petinggi kartel Cali berasal dari kalangan menengah atas.

Benar, Cali tak kalah kejam dibanding Medellin. Mereka bahkan melakukan apa yang disebut "pembersihan sosial", yakni pembantaian warga yang dianggap sebagai 'sampah' masyarakat.

Mereka membunuh para pelacur, anak jalanan, copet, hingga para gelandangan. Mirip seperti Petrus yang dilakukan oleh Orde Baru.

Baca Juga: Bali Kembali Mengguncang Dunia, Ditetapkan Jadi Pulau Terindah di Antara Ribuan Pulau Lainnya di Dunia

Kelompok yang khusus dibuat kartel Cali ini bernama Groupos de Limpieza Social, alias Kelompok Pembersihan Sosial.

Namun, di balik semua kekerasan itu, para petinggi Cali tak ingin menjalani jejak Escobar yang menjadi musuh pemerintah.

Mereka lebih mampu menjaga hubungan baik dengan oligarki Kolombia, yang mengontrol bisnis dan pemerintahan.

Mereka juga mencuci uang dengan lebih rapi. Salah satunya adalah membuat bisnis legal, seperti jaringan apotek dan juga bank First InterAmericas Bank.

Jaringan apotek Drogas la Rebaja berkembang jadi bisnis yang menguntungkan, dengan 400 lokasi di 28 kota dan punya 4.200 pegawai.

Dalam laporannya untuk Time pada 2001, Elaine Shannon Washington menyebut bisnis pencucian uang ini adalah sumber pendapatan terbesar kedua kartel Cali.

Di New York Amerika saja, pencucian uang ini menghasilkan 7 sampai 12 juta dolar per bulan.

Sistem penyelundupan kokain yang dilakukan Cali juga baru. Mereka menyelundupkan kokain lewat papan kayu pohon cedar, cokelat batangan, hingga direndam dalam tong berisi cairan kimia beracun.

Kartel Cali juga memanfaatkan kurangnya tenaga pemeriksaan di bea cukai. Menurut laporan Washington, pada masa itu para petugas bea cukai hanya bisa memeriksa sekitar 3 persen dari total 9 juta pengiriman lewat kontainer. Ini artinya, ada 97 persen celah yang bisa dipakai oleh penyelundup kokain.

Memanfaatkan kekuatan politik, juga militer, dan kuatnya jaringan penjualan, Cali menjulang jadi kartel terbesar dunia selepas Medellin tumbang.

Diperkirakan pada masa puncaknya, Cali memasok 70 persen kokain di Amerika Serikat dan 90 persen di pasar Eropa.

Menjelang keruntuhannya, kartel ini diperkirakan sudah meraup pendapatan 7 miliar dolar dalam kurun 1996, hanya dari pasar New York.

Salah satu pendiri Cali, José Santacruz Londoño, tewas dalam kejadian yang masih merupakan perdebatan.

Ada yang bilang ia tewas saat berusaha kabur dari sergapan polisi. Ada pula yang bilang tewasnya pria berjudul Chepe ini sudah direncanakan oleh kelompok sayap militer di bawah Kolonel Danilo Gonzales.

Sedangkan Pacho menyerahkan diri pada 1 September 1996, dan dua tahun kemudian dihukum penjara 14 tahun. Pada November 1998, Pacho ditembak 7 kali di kepala oleh Uribe dengan motif yang juga masih diperdebatkan.

Dua pimpinan lain, Gilberto dan Miguel ditangkap dan diekstradisi ke AS pada 2004 dan 2005. Mereka divonis hukuman 30 tahun penjara setelah mengakui bersalah mengimpor kokain ke AS, dan terlibat dalam pencucian uang.

Dengan ditangkapnya 4 pucuk pimpinan Cali, berakhir pula nasib salah satu kartel terbesar sepanjang sejarah ini.

Baca Juga: Mitsubishi Pajero Sport 2025 Meluncur! Teknologi Modern dan Karisma SUV Premium Siap Curi Perhatian

Lalu bagaimana dengan kawasan Golden Triangle yang dikendalikan Dewi Astutik dan kawan-kawan?

Golden Triangle adalah kawasan di bagian utara Asia Tenggara yang meliputi Burma, utara Laos dan bagian utara Thailand.

Disebut 'segitiga emas' karena kekayaan kawasan ini berasal dari emas hitam atau opium. Penghasil terbesar di Asia Tenggara.

Dalam beberapa dekade, Kawasan Golden Triangle memang menjadi pemasok Narkoba jenis heroin dan opium.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, narkoba yang berasal dari tanaman telah digantikan oleh jenis sintetis, khususnya metamfetamin seperti Sabu-sabu.

Selain karena tingginya keuntungan, juga karena luasnya pasar obat-obatan terlarang itu di Asia Timur dan Asia Tenggara, yang kini menjadi pasar sabu dengan pertumbuhan terpesat di dunia.

Perbatasan Thailand, Myanmar, dan Laos disebut dengan golden triangle atau segitiga emas. Di sinilah pertemuan tiga negara ini terjadi, tepat di sekitar pertemuan Sungai Mekong dan Sungai Ruak.

Segitiga emas adalah wilayah pegunungan yang menjadi tempat bertemunya perbatasan Thailand, Myanmar, dan Laos. Beberapa definisi wilayah ini bahkan mencakup bagian utara Vietnam dan provinsi Yunnan di Tiongkok.

Secara geografis, kawasan ini juga dikenal sebagai salah satu pusat utama produksi opium dan heroin di dunia, yang merupakan salah satu faktor utama yang membentuk sejarah kawasan ini.

Kawasan ini bahkan mencatatkan diri sebagai pemasok sekitar 60% stok opium dan heroin dunia. Diperkirakan, industri narkoba yang berkembang di segitiga emas memberikan profit sebesar USD 160 milyar per tahun.

Sebagian besar produksi narkoba ini berasal dari Myanmar, yang juga dikenal sebagai penghasil opium terbesar kedua setelah Afghanistan.

Baca Juga: Buka Lomba Senam Kreasi Tamang Pung, Wabup Tangerang Intan Nurul Hikmah Dorong Tim Penggerak PKK Wujudkan Lingkungan Sehat, Aktif dan Kreatif

Dilansir dari United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), segitiga emas telah menjadi jalur perdagangan narkoba yang sangat besar.

Kawasan ini berfungsi sebagai koridor utama produksi dan perdagangan opium, heroin, dan bahkan narkoba sintetis seperti metamfetamin yang menyebar ke seluruh Asia Pasifik.

Dengan letaknya yang strategis, kawasan ini menjadi jalur perdagangan internasional yang sangat menguntungkan.

Myanmar, khususnya, adalah aktor terpenting dalam perdagangan narkoba di kawasan ini, dengan ladang opium yang luas di negara bagian Shan.

Berdasarkan laporan UNODC dalam Southeast Asia Opium Survey 2023, Myanmar saat ini memiliki sekitar 47.000 hektar ladang opium, yang terus berkembang dari tahun ke tahun.

Setiap hektarnya dapat menghasilkan antara 9,5 hingga 15,9 kilogram opium. Angka ini menunjukkan betapa besar produksi opium di negara tersebut, menjadikannya salah satu pusat utama dalam pasar narkoba global.

Penggagalan penyelundupan Sabu seberat 4 ton yang dilakukan BNN bersama TNI AL dan Bea Cukai, menunjukkan pertumbuhan yang eksponensial dalam produksi dan perdagangan sabu di Kawasan Golden Triangle.

Hal ini telah mencapai tingkat yang berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir.

Di sinilah Dewi Astutik diduga bermain dan mengendalikan peredaran Narkoba dari tempat persembunyiannya.

“Kami menduga kuat kedua kapal tersebut beroperasi dalam jaringan Dewi Astutik. Jika hasil drug signature yang sedang kami uji menunjukkan kesamaan, maka benang merahnya semakin kuat,” tegas Kepala BNN Komjen Pol Marthinus Hukom saat konferensi pers di Batam, Senin (26/5/2025).

Nama Dewi Astutik disebut bersanding dengan gembong kelas kakap lainnya seperti Chan Chai dan Ka Khao, dua pria asal Thailand yang kini juga masuk daftar buronan internasional (DPO Interpol).

Baca Juga: 1.400 Penerbangan Swiss Dibatalkan Gegara Kekurangan Pilot Bikin Wisatawan Eropa Panik Musim Panas Ini

Ketiganya diduga menjalin kerja sama erat dalam menyuplai narkoba dari kawasan Golden Triangle menuju wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Jaringan Dewi Astutik dikenal rapi dan beroperasi lewat jalur laut, memanfaatkan pekerja pelayaran dan jalur perairan Kepri sebagai pintu masuk utama.

Pengintaian terhadap jaringan ini disebut telah berlangsung selama lima bulan. Keterlibatan Dewi diperkuat dengan kesaksian para tersangka dan pola pengiriman yang mirip dengan kasus sebelumnya.

BNN kini tengah memburu Dewi Astutik secara intensif, bekerja sama dengan intelijen regional dan internasional.

“Kami tidak akan berhenti sampai aktor utamanya tertangkap. Dewi Astutik adalah salah satu target utama perang Indonesia melawan narkotika,” tegas Marthinus. (*)

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.