KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Penyelewengan Program Cetak Sawah

AKURAT JAKARTA — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) didorong untuk segera melakukan langkah hukum terkait dugaan korupsi dalam program cetak sawah periode 2015-2017.
Desakan tersebut menyusul adanya indikasi kerugian keuangan negara dalam jumlah besar serta dugaan keterlibatan sejumlah pihak, termasuk mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.
Tuntutan tersebut disampaikan oleh Koalisi Indonesia Anti Korupsi (Kosasi) dalam aksi unjuk rasa di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta. Perwakilan mahasiswa dari Kosasi, Fawait, menyatakan bahwa proses hukum harus tetap ditegakkan demi transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran negara.
Baca Juga: Jelang Tahun Baru, Densus 88 Amankan Terduga Teroris di DKI Jakarta dan Berbagai Wilayah
"Kami mendesak KPK untuk berani melakukan proses hukum dan memeriksa keterkaitan mantan pejabat terkait dalam dugaan korupsi cetak sawah, termasuk indikasi keberadaan sawah fiktif yang merugikan rakyat," ujar Fawait melalui keterangan tertulis yang diterima khalayak, Selasa (30/12/2025).
Menurut Fawait, dugaan korupsi ini berawal dari potensi maladministrasi. Ia menyebut kegiatan cetak sawah yang melibatkan unsur TNI saat itu belum memiliki landasan aturan teknis, prosedur keuangan, serta mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.
"Kegiatan tersebut tidak transparan, sehingga aspek akuntabilitas dan kepastian hukumnya masih dipertanyakan," katanya menambahkan.
Baca Juga: Target Enam Poin Bang Zaki, Persita Tangerang Bungkam Arema di Kanjuruhan
Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif Kosasi, Rizki Abdul Rahman Wahid, mengungkapkan bahwa program ini juga sempat menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Berdasarkan audit, terdapat potensi kerugian negara yang mencapai angka triliunan rupiah.
Rizki menjelaskan, selain kerugian finansial, program cetak sawah yang tidak sesuai dengan Sistem Investigasi dan Desain (SID) yang akurat telah berdampak buruk secara ekologis dan sosial.
"Banyak lahan yang tidak jelas kepemilikannya, lahan yang tidak produktif untuk ditanami, hingga terjadinya kerusakan ekosistem alam," ungkap Rizki.
Kosasi mencatat setidaknya terdapat tiga indikator perbuatan melawan hukum dalam sengkarut ini:
Belum adanya regulasi atau aturan teknis yang jelas saat program digulirkan.
Temuan audit BPK mengenai kerugian keuangan negara yang signifikan.
Kerusakan lingkungan yang berdampak pada keberlangsungan alam.
Massa aksi berharap lembaga antirasuah segera melakukan penyelidikan dan penyidikan menyeluruh atas program cetak sawah ini. Kosasi menegaskan dukungannya kepada KPK dalam upaya bersih-bersih birokrasi dan pemberantasan korupsi di tanah air demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Anderlecht vs RB Salzburg di UEL, 6 November 2026: Adu Kuat Rekor Kandang dan Tandang
- 2Prediksi Skor NEC Nijmegen vs Omonia di UEL, 6 November 2026: Misi Menghentikan Tren Negatif di De Goffert
- 3Prediksi Skor Lillestrom vs Viktoria Plzen di UEL, 6 November 2026: Memburu Kemenangan Perdana di Norwegia
- 4Prediksi Skor Levski Sofia vs Jagiellonia di UEL, 6 November 2026: Momentum Positif Jadi Modal Kedua Tim
- 5Prediksi Skor Crystal Palace vs Hoffenheim di UEL, 6 November 2026: Duel Tim Terpuruk di Selhurst Park
- 6Prediksi Skor Sparta Praha vs Bournemouth di UEL, 6 November 2026: Akankah Runtunan Kemenangan The Cherries Terus Berlanjut?
- 7Prediksi Skor Real Sociedad vs Lyon di UEL, 6 November 2026: Duel Sengit di Reale Arena
- 8Prediksi Skor AC Milan vs Ferencvaros di UEL, 6 November 2026: Momentum Derby Jadi Modal Rossoneri
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!



