RA Kartini, Sosok Inspirasi di Balik Kitab Tafsir Faidurrahman Karya Kiai Saleh Darat

AKURAT JAKARTA - Raden Ajeng Kartini merupakan salah satu pahlawan nasional yang lahir di Mayong, Jepara, pada 21 April 1879.
Kartini merupakan putri dari pasangan Raden Mas Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah.
Kartini lahir dalam lingkungan keluarga priyayi dan bangsawan, karena ayahnya, R.M Sosroningrat, merupakan Bupati Jepara.
Baca Juga: Wisata Murah Dekat Jakarta ke Pulau Onrust, Sensasi Petualangan Kembali ke Masa Kolonial Belanda
Kartini merupakan perempuan yang lincah, cerdas, dan sangat aktif bergerak.
Buku Sisi Lain Kartini mengungkap semasa masih kecil, Kartini sudah bisa berjalan ketika baru berusia delapan bulan.
Karena begitu aktif, sampai-sampai ayah Kartini, Sosroningrat memberikan julukan kepada Kartini dengan sebutan Trinil.
Baca Juga: Bandara Soekarno-Hatta Menjadi Tersibuk se-Asia Tenggara selama Mudik Lebaran 2024
Trinil merupakan nama burung kicau yang bentuknya kecil, tapi punya gerak-gerik yang lincah.
Kartini punya tujuh saudara dari garis ibu kandung, Mas Ajeng Ngasirah, dan tiga saudara perempuan dari ibu sambung, Raden Ajeng Woerjan.
Selama ini, Kartini dikenal sebagai tokoh emansipatoris perempuan Indonesia.
Baca Juga: 3 Lokasi Pergerakan Arus Mudik Ini Jadi Perhatian Pemerintah
Kumpulan surat-suratnya hasil korespondensi dengan feminis Belanda, Estella Zeehandelaar, yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang menunjukkan paradigma berpikir Kartini yang melampaui zaman.
Sebagai sosok perempuan yang 'liberal', Kartini sebenarnya merupakan seorang yang tidak jauh-jauh dari tradisi Agama Islam.
Hari-hari Kartini bersama adik-adiknya dipenuhi dengan jadwal kegiatan yang cukup padat.
Baca Juga: Resep Ayam Goreng Lengkuas, Sensasi Krenyes Enak, Bikinnya Mudah
Selesai sekolah, Kartini harus belajar membaca Al-Qur’an, belajar bahasa jawa, berlatih menyulam, dan menjahit.
Tafsir Faidurrahman karya Muhammad Shalih ibn Umar al-Samarani atau lebih dikenal Kiai Saleh Darat menjadi bukti otentik kedekatan Kartini dengan tradisi Agama Islam.
Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo, M. Masrur, dalam Jurnal At-Taqaddum berjudul Kiai Saleh darat, Tafsir Faidurrahman, dan RA. Kartini mengungkap Kiai Saleh Darat khusus menulis kitab tafsir ini guna memenuhi permintaan Kartini.
Baca Juga: Susah Mencari Kerja karena Terbentur Sederet Syarat Memberatkan, Saatnya Manfaatkan Tiga Jejaring yang Kamu Punya
Kiai Saleh Darat lalu memberikan Tafsir Faidurrahman kepada Kartini sebagai kado pernikahannya dengan Bupati Rembang, R.M. Joyodiningrat.
Kitab yang diberikan kepada Kartini merupakan jilid pertama Tafsir Faidurrahman yang terdiri dari 13 juz, mulai dari Surat Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim.
Kartini menerima kitab dari Saleh Darat dengan sangat senang. "Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tidak mengerti sedikit pun maknanya. Tapi, sejak hari ini, ia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya. Sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam Bahasa Jawa yang saya pahami."
Baca Juga: 8.725 Pemudik Langgar Ganjil Genap Dapat Surat Tilang dari Polisi
Kiai Saleh Darat menulis Tafsir Faidurrahman dengan menggunakan Bahasa Jawa. Namun, kitab tafsir tersebut tidak lengkap 30 juz, melainkan baru sampai tafsir Surat An-Nisa.
Kitab Tafsir Faidurrahman memiliki dua jilid besar.
Jilid pertama setebal 577 halaman, sementara jilid kedua setebal 705 halaman.
Baca Juga: Ini Dia 10 Geopark Indonesia yang Diakui Dunia, Ada yang Cuma 4 Jam Berkendara dari Jakarta Lho!
Cetakan pertama terbit pada 1894 di Singapura oleh penerbit al-mUhammadiyah.
Awal perkenalan Kiai Saleh Darat dengan Kartini bermula saat Kartini berkunjung ke rumah pamannya, Pangeran Ario Hadiningrat, seorang Bupati Demak.
Kartini lalu menyempatkan ikut pengajian bulanan khusus keluarga dari pihak paman.
Baca Juga: Shandy Aulia Terjebak Banjir Besar Dubai, Saksikan Mal Besar Jadi Wahana Air Raksasa
Saat itu, Kiai Saleh Darat, sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.
Model pengajian dari Saleh Darat begitu menarik perhatian Kartini.
Saat ada kesempatan bertemu dengan Saleh Darat, Kartini meminta agar Al-Quran diterjemahkan, karena menurutnya tidak ada guna membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.
Berhubung saat itu Belanda melarang aktivitas penerjemahan Al-Quran, Saleh Darat lalu mensiasatinya dengan menulis dalam huruf Arab gundul atau pegon.*
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Valencia di La Liga, 16 September 2026: Ujian Berat Tim Juru Kunci di Mendizorroza
- 2Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di La Liga, 15 September 2026: Mampukah El Submaniro Amarillo Bangkit dan Raih Kemenangan Perdana?
- 3Prediksi Skor West Ham vs Fulham di Carabao Cup, 16 September 2026: Mampukah The Hammers Lanjutkan Tren Positif?
- 4Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia, 15 September 2026: Mampukah Grifone Hentikan Tren Buruk?
- 5Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di La Liga, 16 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Krisis Pertahanan?
- 6Prediksi Skor Como vs Parma di Serie A, 14 September 2026: Mampukah Tim Asuhan Cesc Fabregas Lanjutkan Tren Positif?
- 7Prediksi Skor Leeds United vs Newcastle United di Premier League, 15 September 2026: Mampukah The Whites Hentikan Rekor The Magpies?
- 8Prediksi Skor Torino vs AS Roma di Serie A, 14 September 2026: Mampukah Toro Menghentikan Laju Giallorossi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!




