Gara-Gara Harga Kebutuhan Pokok Melonjak, BoliviaTetapkan Status Darurat Nasional

AKURAT JAKARTA – Kondisi negara Bolivia di Amerika Selatan saat ini sedang genting.
Pemerintah setempat akhirnya resmi mengumumkan status keadaan darurat nasional.
Langkah drastis ini diambil oleh Presiden Rodrigo Paz setelah aksi demo besar-besaran menolak kenaikan harga barang berubah menjadi kekacauan politik.
Aksi protes ini sudah sangat kelewat batas.
Para pendemo nekat menutup dan memblokade jalan-jalan utama di berbagai kota.
Akibatnya, truk pengangkut barang tidak bisa lewat, toko-toko tutup, dan aktivitas ekonomi di negara itu langsung lumpuh total.
Gelombang demo ini digerakkan oleh kelompok buruh, petani, dan pendukung mantan presiden terdahulu.
Tuntutan mereka sekarang tidak cuma soal ekonomi lagi, tapi mereka sudah terang-terangan meminta Presiden Paz untuk turun dari jabatannya.
Baca Juga: Baru 3 Hari Damai, Selat Hormuz Ditutup dan Trump Ancam Sanksi Tarif
Makanan dan Obat Mulai Langka, 14 Orang Tewas
Lembaga pengawas pemerintah di Bolivia melaporkan, aksi penutupan jalan ini sudah berlangsung selama 50 hari.
Dampaknya sangat mengerikan: stok makanan, tabung gas/BBM, dan obat-obatan di rumah sakit mulai habis total karena pasokan macet.
Selain itu, bentrokan fisik yang terjadi selama 1,5 bulan terakhir ini dilaporkan sudah menelan korban jiwa sedikitnya 14 orang meninggal dunia.
Dalam pidato resminya, Presiden Rodrigo Paz mengatakan pemerintah tidak bisa tinggal diam melihat rakyatnya menderita.
"Saya terpaksa menetapkan Status Keadaan Darurat demi membuka kembali jalan-jalan yang ditutup," tegas Presiden Paz.
"Rakyat tidak boleh terus disandera oleh kelompok pendemo. Gara-gara blokade ini, warga jadi tidak bisa bekerja, sekolah, berobat, atau mencari nafkah untuk anak istri mereka," lanjutnya.
Dengan adanya status darurat ini, pemerintah menurunkan aparat kepolisian dan militer (tentara) untuk membubarkan blokade di jalanan secara tegas.
Menurut presiden, langkah militer ini adalah jalan terakhir karena jalur damai dan diskusi selalu ditolak oleh kelompok pendemo.
Apa Penyebab Utama Kekacauan Ini?
Presiden Rodrigo Paz sebenarnya baru menjabat selama 7 bulan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Anderlecht vs RB Salzburg di UEL, 6 November 2026: Adu Kuat Rekor Kandang dan Tandang
- 2Prediksi Skor NEC Nijmegen vs Omonia di UEL, 6 November 2026: Misi Menghentikan Tren Negatif di De Goffert
- 3Prediksi Skor Lillestrom vs Viktoria Plzen di UEL, 6 November 2026: Memburu Kemenangan Perdana di Norwegia
- 4Prediksi Skor Levski Sofia vs Jagiellonia di UEL, 6 November 2026: Momentum Positif Jadi Modal Kedua Tim
- 5Prediksi Skor Crystal Palace vs Hoffenheim di UEL, 6 November 2026: Duel Tim Terpuruk di Selhurst Park
- 6Prediksi Skor Sparta Praha vs Bournemouth di UEL, 6 November 2026: Akankah Runtunan Kemenangan The Cherries Terus Berlanjut?
- 7Prediksi Skor Real Sociedad vs Lyon di UEL, 6 November 2026: Duel Sengit di Reale Arena
- 8Prediksi Skor AC Milan vs Ferencvaros di UEL, 6 November 2026: Momentum Derby Jadi Modal Rossoneri
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!


