Perluas Akses Pasar, Kunci Utama Genjot Investasi Sektor Protein

AKURAT JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Panggah Susanto menilai pengembangan industri protein nasional harus diarahkan pada pembukaan pasar yang lebih luas.
"Harus ke pasar yang lebih luas agar mampu menarik investasi, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat daya saing sektor peternakan Indonesia," kata Panggah di Jakarta, Selasa (4/8).
Menurut Panggah, investasi menjadi faktor penting dalam mendorong modernisasi industri protein. Masuknya modal baru akan mempercepat adopsi teknologi, meningkatkan efisiensi produksi, dan memperkuat kapasitas industri dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat yang terus meningkat.
Baca Juga: Dorong Industri Protein Nasional, Pemerintah Perlu Gandeng Pemain Global
Selain menghadirkan investasi, pengembangan industri protein juga membuka peluang peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta penerapan praktik terbaik yang dibutuhkan untuk memodernisasi sektor peternakan Indonesia.
Di sisi lain, investasi akan mendorong peningkatan standar kualitas dan daya saing produk protein nasional sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Keberhasilan transformasi industri ayam, menurut Panggah, membuktikan bahwa investasi yang didukung teknologi mampu menciptakan ekosistem usaha yang lebih efisien tanpa menghilangkan peran peternak rakyat.
Melalui pola kemitraan, perusahaan besar dapat menjadi motor penggerak industri. Sementara peternak memperoleh akses terhadap bibit unggul, teknologi, pembiayaan, hingga kepastian pasar.
"Ini perlu dipelajari, industri ini di-drive hanya oleh dua company besar dengan investasi padat modal dan teknologi," kata dia.
Panggah menilai industri ayam merupakan model pengembangan sektor protein yang dapat menjadi acuan bagi subsektor lainnya.
Dengan penyesuaian terhadap karakteristik masing-masing komoditas dan wilayah, pendekatan serupa berpotensi diterapkan pada pengembangan sapi, kambing, perikanan, maupun sumber protein lainnya sehingga mampu membangun ekosistem industri yang lebih terintegrasi dan berdaya saing.
Dalam konteks tersebut, kemitraan strategis dengan perusahaan protein global yang memiliki pengalaman, teknologi, dan jaringan pasar internasional dinilai dapat menjadi salah satu upaya untuk mempercepat pengembangan ekosistem protein nasional.
Kemitraan ini diharapkan mampu mempercepat pengembangan ekosistem protein nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, sekaligus memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan efisiensi rantai pasok, dan mendorong daya saing Indonesia di pasar regional maupun global.
Dalam skema yang dikembangkan, Indonesia tidak hanya menjadi tujuan investasi, tetapi juga mitra strategis melalui pembentukan perusahaan patungan (joint venture).
Melalui model tersebut, Indonesia dapat memiliki kepemilikan saham (equity stake) dan keterwakilan dalam dewan direksi (board seat), sehingga memiliki peran dalam pengambilan keputusan strategis sekaligus memastikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi industri nasional.
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia berpeluang menjadi pusat produksi dan distribusi protein di kawasan, dengan akses prioritas ke pasar regional yang mencakup sekitar 745 juta penduduk.
Pengembangan ini dapat didukung melalui pembentukan perusahaan patungan yang menempatkan Indonesia sebagai prioritas utama dalam pengembangan kapasitas dan pertumbuhan industri protein regional.
Pandangan Panggah ini sejalan dengan kajian Prasasti Center for Policy Studies yang menyebutkan Indonesia membutuhkan ekosistem protein nasional yang terintegrasi dan adaptif terhadap karakteristik masing-masing daerah.
Kesimpulan ini merupakan hasil dari Focus Group Discussion (FGD) Prasasti bertajuk "Penguatan Distribusi dan Kualitas Protein Nasional" (Strengthening the Distribution and Quality of National Protein), yang mempertemukan para pembuat kebijakan, asosiasi bisnis, pelaku industri, serta m pembangunan.
Menurut kajian berjudul Indonesia Membutuhkan Ekosistem Protein Nasional Terintegrasi dan Adaptif Secara Regional (Indonesia Needs an Integrated and Region Adaptive National Protein Ecosystem) tersebut, pengembangan sektor protein tidak lagi d dilakukan secara terpisah berdasarkan komoditas, melainkan harus dibangun sebagai satu sistem yang menghubungkan seluruh rantai nilai dari hulu hingga hilir.
Pracacti menilai Indonesia memiliki modal vane kust untuk memhanoun industri nentein vane kompetitif. Selain memiliki populasi yang besar sebagai pasar domestik, Indonesia juga memiliki sumber protein yang beramam, m hinggapin nabati.
Dengan meningkatny konsumsi pangan bergizi, permintaan protem dari unggas, sapi, kambing, perikanan, telur, dapatan masyarakat dan kesadaraserhadap diperkirakan akan terus bertumbuh dalam beberapa tahun ke depan.
Kondisi ini membuka peluang besar bagi masuknya investasi baru ke sektor protein nasional.
Namun sayangnya, potensi itu dinilai belum dimanfaatkan secara optimal. Pengembangan berbagai subsektor protein masih berjalan sendiri-sendiri sehingga investasi, infrastruktur, teknologi, dan sistem logistik belum terhubung dalam satu ekosistem yang utuh.
Akibatnya, produktivitas dan efisiensi antar subsektor maupun antarwilayah masih menunjukkan kesenjangan yang cukup besar.
Prasasti menekankan bahwa pembangunan ekosistem protein nasional harus mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari penyediaan bibit dan benih, pakan, kesehatan hewan, pembiayaan, produksi, pengolahan, logistik, distribusi, hingga akses pasar.
Integrasi tersebut dinilai penting agar investasi yang masuk tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga menciptakan efisiensi di setiap mata rantai industri serta memberikan nilai tambah bagi seluruh pelaku usaha.
Kajian tersebut juga menyoroti pentingnya pendekatan yang adaptif terhadap karakteristik setiap wilayah. Indonesia memiliki kondisi geografis dan potensi sumber daya yang berbeda-beda sehingga strategi pengembangan protein tidak dapat diseragamkan.
Daerah yang memiliki keunggulan di sektor perunggasan membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan wilayah yang lebih potensial untuk pengembangan sapi, kambing, maupun perikanan.
Dengan mengarahkan investasi sesuai keunggulan masing-masing daerah, produktivitas diyakini dapat ditingkatkan secara lebih efektif.
Dalam konteks tersebut, pengalaman industri ayam dinilai menjadi contoh bagaimana investasi, teknologi, dan kemitraan mampu membangun industri yang efisien. Kehadiran perusahaan besar sebagai penggerak investasi tidak hanya memperkuat kapasitas produksi, tetapi juga mendorong peningkatan standar kualitas, serta membuka akses pasar bagi peternak rakyat melalui skema kemitraan.
Prasasti juga menilai kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga riset, dan pelaku usaha menjadi prasyarat untuk membangun ekosistem protein yang tangguh.
Pemerintah berperan menciptakan kepastian regulasi dan iklim investasi yang kondusif, sementara sektor swasta menjadi motor inovasi dan pengembangan industri. Di sisi lain, peternak dan pelaku usaha lokal tetap menjadi bagian penting dalam rantai pasok nasional sehingga manfaat investasi dapat dirasakan secara lebih luas.
Dengan ekosistem yang terintegrasi dan didukung investasi berkelanjutan, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat ketahanan protein nasional, meningkatkan daya saing industri peternakan, sekaligus menjadikan sektor protein sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk mempercepat pengembangan ekosistem tersebut, kolaborasi dengan mitra global yang memiliki pengalaman, teknologi, dan jaringan pasar juga menjadi penting sehingga industri protein Indonesia semakin kompetitif di tingkat regional maupun global, dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Nottingham Forest vs Coventry City di Premier League, 19 September 2026: Mampukah The Sky Blues Hentikan Tren Buruk?
- 2Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Premier League, 19 September 2026: Duel Ketat Dua Tim Papan Tengah di Hill Dickinson
- 3Prediksi Skor Newcastle United vs Hull City di Premier League, 19 September 2026: Misi The Magpies Bangkit dari Kekalahan Telak
- 4Prediksi Skor Stuttgart vs Borussia Dortmund di Bundesliga, 19 September 2026: Bisakah Die Roten Hentikan Laju BVB?
- 5Prediksi Skor Celta Vigo vs Racing Santander di La Liga, 19 September 2026: Mampukah Los Celestes Raih Kemenangan Perdana?
- 6Prediksi Skor Venezia vs Lazio di Serie A, 20 September 2026: Mampukah Biancocelesti Lanjutkan Tren Positif?
- 7Prediksi Skor Athletic Bilbao vs Deportivo Alaves di La Liga, 19 September 2026: Mampukah Los Leones Balas Kekalahan Musim Lalu?
- 8Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Ligue 1, 20 September 2026: Duel Ketat Dua Tim Belum Terkalahkan
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!




